Aksi Walk Out Ahok di Rapat KPUD Hanya Cari Sensasi

1
704

Nusantara.news, Jakarta – Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat meninggalkan acara rapat pleno Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta dengan alasan acara tak kunjung dimulai.

Ahok–Djarot meluapkan kemarahan kepada Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno lantaran menganggap panitia tidak profesional. Tidak hanya menyalahkan KPUD, tim Ahok juga menuding keterlambatan rapat karena menunggu kehadiran Anies-Sandi.

Pengamat politik Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi menilai, sikap walk out Ahok-Djarot Hidayat tersebut direncanakan dengan tujuan menurunkan kepercayaan publik dan meninggalkan kesan KPU DKI Jakarta tidak profesional.

“Hal ini dilakukan karena tim Ahok sudah paham, paslon Ahok akan kalah dalam putaran kedua. Mereka akan medelegitimasi kemenangan pesaingnya, Anies-Sandi, melalui Mahkamah Konstitusi. Adanya kesadaran kalah putaran kedua menyebabkan sikap Ahok seperti ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini menyatakan KPUD telat karena menunggu para paslon ada di ruangan (VIP). Karena dua tim paslon menginformasikan bahwa kedua paslon akan hadir.

“Maaf ya saya mah bukan jubirnya KPU DKI. Tapi informasi dari teman Perludem yang berada di ballroom flores seprti itu” Kata Titi.

Titi pun mempersilakan tim Ahok-Djarot melaporkan KPUD ke DKPP jika dianggap tidak profesional.

“Kalau memang menganggap KPU DKI curang memihak atau tidak profesional, bisa dilaporkan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu atau DKPP. Daripada timbul keragu2an atas integritas KPU DKI,” tambah Titi.

Tanggapan Ketua KPUD Jakarta
Ketua KPUD DKI Jakarta Sumarno memberikan tanggapan terkait pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat yang meninggalkan acara rapat pleno penetapan pasangan cagub-cawagub untuk Pilkada DKI putaran kedua. Ahok-Djarot langsung angkat kaki karena merasa rapat pleno molor dari waktu seharusnya.

“Sebenarnya bukan keterlambatan, kita kan menunggu. Kami nunggu supaya pasangan calon itu semua hadir. Ini pengantinnya kan pasangan calon ini,” tutur dia di sela-sela acara yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu, 4 Maret 2017.

Sumarno sempat menanyakan soal kehadiran semua pasangan calon yang diundang itu. Informasi yang diterimanya, belum semua pasangan calon hadir. Sebab, pasangan Ahok-Djarot tidak ada di ruangan yang disiapkan KPU, yakni di ruangan VVIP.

Ternyata, Ahok-Djarot berada di ruangan lain yang bukan disiapkan oleh KPU. Karena itu, KPU tidak mengetahui pasangan Ahok-Djarot yang sebenarnya sudah hadir di hotel.

“Jadi tidak benar tadi dianggap bahwa kita menunggu pasangan calon nomor urut 3. Karena pasangan nomor urut 3 juga sudah hadir,” tutur Sumarno.

Sementara itu, Sandi, Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor pemilihan tiga, menilai harus dimaklumi jika Basuki dan Djarot ada agenda lain yang lebih penting.

“Kita hargai juga bahwa dia ada kebutuhan yang lebih mendesak, mungkin itu ada janji dengan investor yang bisa menanamkan puluhan triliun untuk membangun Jakarta yang berdampak pada warga masyarakat membangun infrastruktur atau seperti apa, itu kita musti maklumi,” kata Sandi dilanair Kompas.com di rumahnya, Minggu (5/3/2017) pagi.

Insiden acara KPUD itu tampaknya menunjukkan betapa arogannya Ahok dan timnya terutama dalam hal menyalahkan tanpa introspeksi apa yang sesungguhnya terjadi.

Ahok justru memperlihatkan tabiat yang menganggap diri paling benar dan menyalahkan pihak lain. Padahal insiden tersebut tak lepas dari persoalan kesalahan komunikasi Ahok dan pihak KPU DKI. Alih-alih mengambil pelajaran, sikap Walk Out Ahok itu sangat childish (kekanakan), cerminan arogansi,dan cenderung mencari sensasi. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here