Aktivis ’80 – ’90-an Gelar Temu Kangen di Galery Cipta 2 TIM

2
1088
Persidangan 21 aktivis Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) yang ditangkap di gedung DPR/MPR-RI pada 14 Desember 1993 dijadikan ajang Konsolidasi Gerakan, termasuk tampilnya aksi alegoris seperti tampak pada persidangan ini / Foto Istimewa

Nusantara.news, Jakarta – Aktivis era 1980-an dan 1990-an menggelar acara Temu Kangen bertajuk “Menuju Indonesia Berkeadilan Sosial” pada Jumat, (2/3) nanti. Acara dimulai lepas shalat Maghrib dengan menghadirkan Pentas Budaya, Testimoni, pemberian Penghargaan kepada Aktivis Senior dan ditutup pidato sambutan Anis Baswedan, Aktivis 1990-an yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Ketua Steering Committee (SC) Temu Kangen Syahganda Nainggolan menuturkan, acara Temu Kangen itu digagas sejumlah aktivis – antara lain dirinya, Brotoseno yang di tahun 1980-an menjabat Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) dan sejumlah aktivis yang ikut memperingati peristiwa Malari 1974 di Yogyakarta, 14 – 15 Januari lalu.

“Jalan ideologi aktivis 1980-an dan 1990-an adalah perjuangan merebut keadilan sosial. Maka dulu kami sering membela kasus-kasus petani, seperti Badega, Kedungombo, Jatiwangi, Cijayanti, Rancamaya dan banyak kasus sengketa tanah lainnya di Indonesia,” beber Syahganda yang berlatar belakang pimpinan aktivis di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

Lawan Kesenjangan Sosial

Syahganda tidak menafikan sejumlah aktivis yang berjuang di jalan kekuasaan. Baginya jalan ideologi tidak akan pernah dimenangkan tanpa kekuasaan – meskipun kekuasaan itu sendiri kadang menyilaukan dan membakar pelakunya oleh godaan-godaan hedonistis – tapi jalan ideologi lebih mungkin dicapai melalui kekuasaan.

Namun Syahganda Nainggolan juga tidak menafikan jalan kebudayaan – meskipun jalannya lebih panjang dan berliku – yang sangat penting dalam membangun karakter sebuah bangsa. Untuk itu acara Temu Kangen nanti juga diisi oleh pagelaran seni yang bukan sekedar cantolan, pemanis acara. Melainkan sebagai ruh yang menjiwa dalam setiap perjuangan melawan ketidak-adilan.

“Saya menghargai kawan-kawan seniman dan budayawan yang enggan melibatkan diri dalam politik praktis. Kehadiran mereka-mereka yang terus berkreasi dengan bidang kesenian masing-masing, pemikiran mereka terhadap peradaban yang dituangkan dalam tradisi berpikir yang merdeka dan jernih saya kira akan memiliki sumbangan luar terhadap masa depan Indonesia,” ujar Syahganda.

Toh demikian, lanjut Syahganda, hal terpenting lagi adalah menemukan aktor yang tepat untuk memimpin perjuangan merebut keadilan sosial yang selama ini seolah menjadi ilusi besar yang dicita-citakan bapak pendiri bangsa. Dalam hal ini Syahganda Nainggolan berharap aktor-aktor itu – baik di DPR, pemerintahan maupun Presiden sekali pun lahir dari kalangan aktivis gerakan.

“Dalam berbagai pertemuan ada satu hal yang layak kami simpulkan, kesenjangan sosial yang terjadi sekarang ini bertambah akut. Rasio gini, ini baru dihitung dari konsumsi pengeluaran sehari-hari sudah mencapai 0,4. Itu tidak dihitung dari penguasaan aset. Kalau dihitung dari penguasaan aset saya yakin sudah 0,7. Dan ini lampu kuning bagi masa depan negara kita,” terang Syahganda.

Oleh karenanya, setelah menapak tilas cita-cita di usia muda – saat mayoritas mahasiswa bersikap tidak peduli dan lebih mementingkan berburu SKS – Syahganda berharap kepedulian anak-anak muda di masa lalu itu tetap berlanjut setelah Temu Kangen untuk secara bersama-sama berusaha mencari cara bagaimana menghentikan kebijakan-kebijakan yang menjadi penyebab terjadinya kesenjangan sosial.

“Tantangan kita dalam mengatasi kesenjangan sosial akan semakin kompleks. Shifting condition yang terus bergerak sangat membutuhkan peran negara hadir untuk menjamin sumber-sumber penghidupan orang kebanyakan. Negara tidak boleh lepas setir, kopling dan rem. Tapi harus benar-benar hadir, dirasakan oleh orang kebanyakan,” lanjut Syahganda.

Dengan alasan itu pula Syahganda melihat pentingnya negara diisi oleh pejabat-pejabat publik yang empati kepada rakyat, bukan hanya terlihat empati tapi faktanya penguasaan tanah jatuh ke segelintir orang, iklim kesenjangan sosial bertambah akut, melainkan aktor-aktor yang berkemampuan mengatasi kesenjangan tanpa mengabaikan terus bergeraknya perekonomian.

Romantika Gerakan

Dalam testimoni sejumlah aktivis 1980-an dan 1990-an yang ditayangkan menjadi film documenter dalam rapat terakhir Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC), memang ada perbedaan orientasi dan metode gerakan antara angkatan 1980-an dan 1990-an. Back ground situasi di antara dua generasi ini juga tidak sama.

Warga Kedung Ombo hingga 1990-an masih menuntut ganti rugi

Genre 1980-an, sebagaimana diakui Brotoseno yang juga lulusan Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) dan pemegang gelar sarjana di Fakultas Teater di Institut Seni Indonesia (ISI), lahir dalam situasi kampus yang sangat represif paska kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh Menteri Pendidikan (Alm) Daoed Jusuf.

Kebijakan NKK/BKK itu sendiri lahir berdasarkan surat keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Jusuf No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan disusul dengan SK  No. 0230/U/J/1980 tentang Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Sejak itu Dewan Mahasiswa dibubarkan dan mahasiswa kehilangan tempat bernaung untuk memperjuangkan Tri Dharma Pendidikan.

Sejak itu ungkap Brotoseno yang juga Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) mahasiswa tidak memiliki tempat berinteraksi di lembaga resmi perguruan tinggi yang dikontrol ketat oleh Rektor – dalam hal ini Pembantu Rektor III – dan jajarannya hingga ke bawah.

Belum lagi kewajiban mengikuti kursus Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) Pola 100 jam untuk mahasiswa calon sarjana Strata 1 (S-1) dan Pola 45 jam untuk mahasiswa diploma.

Di tengah kontrol yang ketat itu mahasiswa tidak kehilangan akal untuk meneruskan tradisi gerakan yang “diwariskan” para pendahulunya – sejak STOVIA 1908, generasi 1928, sebagian besar anak muda dalam buku “Revolusi Pemuda” Ben Anderson, generasi 1966, serta generasi 1970-an yang menorehkan dua peristiwa penting Malari 1974 dan Dewan Mahasiswa 1978.

Melalui kelompok-kelompok diskusi dan Pers Mahasiswa selanjutnya muncul gerakan advokasi pertanahan di sejumlah wilayah Indonesia. Mereka bergerak dari skup memprotes kebijakan kenaikan SPP hingga mendirikan Komite Penurunan Tarif Listrik (KMPTL) di Jakarta, peristiwa Kedungombo, Jatiwangi, Badega, Haur Koneng, Cimacan, Cijayanti dan banyak lainnya.

Selain itu mereka juga aktif melakukan pembelaan terhadap rekan-rekannya yang ditahan. Di Yogyakarta, para aktivis melakukan pembelaan terhadap Bonar Tigor Naipospos, Bambang Subono, dan Isti Nugroho yang diciduk aparat terkait peredaran buku Pramoedya Ananta-Toer dalam forum diskusi Palagan. Proses persidangan selalu dijadikan ajang konsolidasi.

Begitu juga di Bandung dalam kasus 5 Agustus, dan di Jakarta dalam kasus penyebaran stiker Soeharto Dalang Segala Bencana (SDSB) dengan terpidana (Alm) Nuku Soleman, pembredelan Tempo, Editor dan Detik, yang menyebabkan (Alm) Ahmad Taufik – lulusan mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Tri Agus Susanto Siswowihardjo – lulusan mahasiswa jurusan PMP FIS IKIP Jakarta – dipidana dalam dua kasus yang berbeda, serta penangkapan 21 mahasiswa Front Aksi Mahasiswa Indonesia pada 14 Desember 1983.

Ada juga kisah romantis. Sebut saja Mohamad Yamin – mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang juga Koordinator Aksi Kedungombo –  kabarnya mendapatkan jodoh Yuni Satya Rahayu – mahasiswa Sastra UGM yang sempat menjadi Wakil Bupati Sleman – saat bezuk Coki, Bono dan Isti di penjara Wirogunan. Begitu juga dengan cerita aktivis lainnya yang mendapatkan jodoh penduduk setempat saat melakukan advokasi pertanahan di suatu daerah.

Pada 2 Maret 2018 nanti – romantika perjuangan dan sekaligus mungkin percintaan – atau mungkin juga kenangan ngutang di warung kos-kosan, akan hadir dalam acara Temu Kangen yang melibatkan eks mahasiswa yang kini usianya dalam rentang 42 – 62 tahun. Selaku Ketua OC Wahyono yang juga eks aktivis mahasiswa ITB menyebut, “ yang sudah konfirmasi hadir 127 orang.” []

2 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here