Aktivitas Pertambangan Anak Indocement Mengganggu Debit Air Kaligede

0
117
Pelacakan sumber mata air Kaligede yang ternyata terhubung ke Gua Pari

 

Nusantara.News, Surabaya – Kendati tidak termasuk dalam kawasan bentang alam karst Sukolilo, namun aktivitas pertambangan PT Sahabat Mulia sakti, anak perusahaan PT Indocement diklaim mengancam keberadaan sungai bawah tanah di koridor Gua Pari yang masuk wilayah Kabupaten Pati.

Kekhawatiran ini diungkap Indonesian Speleological Society (ISS) dalam rilis yang diterima Nusantara.News. Salah satu aktivis ISS, Ari Setyawan dikonfirmasi Rabu (26/4/2017) mengatakan, data ini berawal ketika ISS Pengurus Daerah Jawa Tengah bersama Pusat Studi Karst Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, melakukan kegiatan “Caving di Bumi Kayen – Tambakromo, Kabupaten Pati” selama 4 hari, 13-16 April 2017.

“Selain diikuti beberapa pegiat speleologi dan pecinta alam, kegiatan itu juga melibatkan peran aktif masyarakat lokal. Ada beberapa agenda materi dan praktek langsung. Seperti survei eksokarst dan endokarst, pelacakan hubungan aliran sungai bawah tanah di Gua Pari dengan mata air di sekitarnya, sosialisasi PERDES (Peraturan Desa) tentang pengelolaan sumber daya air dan karst serta edukasi kepada masyarakat tentang fungsi kawasan karst,” terang Ari.

Pelacakan aliran sungai bawah tanah di koridor Gua Pari, tambah Ari, dilatarbelakangi penetapan kawasan itu masuk wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi PT Sahabat Mulia Sakti meskipun tidak masuk dalam Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Sukolilo. Ini sesuai isi Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No 2641K/40/MEM/2014 tentang Penetapan KBAK Sukolilo.

“Namun kami melihat ada hubungan sungai bawah tanah koridor Gua Pari dengan tujuh mata air yang berada di bawahnya. Ini mengacu pada hasil kajian yang dilakukan teman-teman dari Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Giri Bahama Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Agustus 2016,” bebernya.

Injeksi Tracer Perkuat Dugaan

Pada kajian potensi eksokarst dan endokarst bersama masyarakat, muncul identifikasi keberadaan sungai bawah tanah dengan koridor Gua Pari di Dukuh Krukuk, Desa Brati, bahwa ada 7 mata air yang berasal dari debit air Gua Pari. Yakni sumber Kaligede, Kalicilik, Sumberagung, Sumberronggoboyo 1, Sumberronggoboyo 2, Beser 1, dan Beser 2. “Ini sangat memungkinkan untuk dilakukan pelacakan aliran air sungai bawah tanah,” sebutnya.

Kegiatan pelacakan dimulai dengan pengukuran debit (14/4/2017) di Gua Pari. Hasilnya, sebesar 102,76 liter per detik. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan serupa di 3 mata air dugaan (Kaligede 499,98 liter/detik, Kalicilik 79,73 liter/detik serta gabungan aliran Sumberronggoboyo 1 dan Sumberagung 347,38 liter/detik.

“Sehari berselang, kami melakukan injeksi larutan pelacak (tracer) di sungai bawah tanah Gua Pari. Selang 26 menit sejak dilakukan injeksi, zat pelacak tersebut keluar di mata air Kaligede. Hal ini menunjukkan bahwa sungai bawah tanah di Gua Pari memiliki koneksi dengan mata air Kaligede atau secara umum dapat dikatakan sungai bawah tanah di Gua Pari keluar melalui mata air Kaligede,” urai Ari.

Namun mengacu pada debit masukan di Gua Pari dan debit keluaran di mata air Kaligede yang tidak sebanding, berarti ada suplai dari aliran sungai bawah tanah lain di kawasan itu. Sedangkan hubungan dengan 6 mata air lainnya meski hanya berjarak 400 meter, tidak terhubung dengan Gua Pari. Ini menunjukan bahwa kondisi endokarst di sekitar Gua Pari memiliki banyak sistem aliran sungai bawah tanah yang belum terdeteksi. “Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hulu aliran sungai bawah tanah Gua Pari dan sistem-sistem lain di sekitarnya,” kata Ari.

Sumber yang mengaliri sungai Kaligede selama ini memang menjadi tumpuan kebutuhan air warga setempat. Selain untuk irigasi, debit air yang stabil kendati di musim kemarau dimanfaatkan warga untuk sehari-hari sebelum bergabung bersama aliran dari 6 sumber lainnya mengisi anak sungai Juwana. Ini terbukti dari panen lahan pertanian di kawasan itu yang bisa 3 kali setahun.

Hasil kajian ISS ini layak jadi pertimbangan pengambil kebijakan. Sebab berdasarkan Permen ESDM tentang Penetapan KBAK, menyebutkan pada Pasal 4 ayat (6) huruf (a) bahwa kriteria bentuk endokarst salah satunya memiliki sungai bawah tanah. Kawasan Gua Pari dan sekitarnya saat ini tidak masuk dalam KBAK Sukolilo, selayaknya diusulkan untuk revisi dan masuk dalam KBAK Sukolilo, dengan memasukan kawasan sekitar Gua Pari ke dalam KBAK.

“Hasil pelacakan aliran air ini menunjukkan bahwa kawasan ini rentan apabila mengalami kerusakan seperti penambangan batu gamping, sehingga keberadan IUP Eksplorasi PT Sahabat Mulia Sakti juga perlu ditinjau kembali,” kata Ari.

Sekedar diketahui, kegiatan ini diikuti beberapa perwakilan perkumpulan penggiat speleologi dan pecinta alam dari beberapa daerah di Jawa Tengah. Seperti Semarang Caver Association (SCA), Forum Caving Surakarta (FCS), Pasdapala SMAN 2 Pati dan warga lokal. Jika hasil ini hanya masuk arsip, bisa jadi polemik yang terjadi di Gunung Kendeng, Rembang terulang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here