Akui Gagal, OJK Tebar Pesona Skema Baru Restrukturisasi Bumiputera

0
584
Setelah gagal dalam merestrukturisasi AJB Bumiputera 1912, Otoritas Jasa Keuangan tebar pesona skema baru restrukturisasi.

Nusantara.news, Jakarta – Setelah lebih dari setahun proses penyelamatan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, akhirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui gagal melakukan restrukturisasi. OJK pun menawarkan skema restrukturisasi baru, cespleng kah skema baru tersebut?

Selama lebih dari setahun OJK telah merestrukturisasi AJB Bumuputera dengan menunjuk Pengelola Statuter (PS) sebagai pengganti jajaran direksi. PS pun menjadikan AJB Bumiputera sebagai induk perusahaan, dan mendirikan tiga anak perusahaan, yakni PT Asuransi Jiwa Bumiputera (AJB) yang menangani bisnis asuransi, PT Bumiputera Investama Indonesia di bidang investasi dan PT Bumiputera Properti Indonesia yang bergerak di bidang properti.

Dalam perjalanannya AJB Bumiputera akan dilepas ke PT Evergreen Invesco Tbk. Bak katak yang akan mengakuisisi kerbau, Evergreen yang beraset hanya Rp489,65 miliar itu akan mengakuisisi AJB Bumiputera yang beraset Rp13 trilun dengan kewajiban mencapai Rp30 triliun.

Cara Evergreen akan mengakusisi AJB Bumiputera dengan menerbitkan right issue senilai Rp40 triliun. Namun dalam perjalanan diturunkan menjadi Rp30 triliun, turun lagi menjadi Rp10 triliun, terus turun ke Rp4 triliun. Terakhir diturunkan lagi menjadi Rp2,5 triliun.

Itupun hingga saat-saat terakhir tanpa aliran dana masuk sama sekali. Hingga akhirnya PS melakukan pengakhiran kerjasama investasi itu sekaligus mengubah nama PT AJB menjadi PT Asuransi Jiwa Bhinneka. Tamat lah serial katak yang hendak mengakuisisi kerbau.

Selain itu PS, tentu sepengetahuan OJK, mengundang konglomerat Erick Thohir dari Mahaka Group. Janji awal Erick akan menyuntik dana Rp4 triliun karena tertarik aset AJB Bumiputera cukup gemuk Rp13 triliun, terutama properti di Jl. Sudirman. Namun rencana itu diturunkan menjadi Rp2,5 triliun. Sampai berita terkahir menyebutkan bahwa Erick pun mundur.

Selama lebih dari setahun kontroversi restrukturisasi AJB Bumiputera tanpa hasil. Bahkan seluruh proses tersebut telah memakan biaya lebih dari Rp500 miliar, biaya itu kabarnya diperoleh dari hasil menggadaikan aset ABJ Bumiputera kepada Bank Sinarmas.

Restrukturisasi yang lebih dari satu tahun itu juga telah merumahkan 1.100 karyawan dari sebelumnya sebanyak 3.200 karyawan

Pendek kata, restrukturisasi AJB Bumiputera jalan di tempat, untuk tidak mengatakan gagal. Tapi esensinya memang gagal.

Penyelamatan yang gagal

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengakuio program restrukturisasi yang dilakukan dalam rangka menyehatkan kembali AJB Bumiputera batal dilanjutkan. Upaya penyelamatan yang dilakukan dengan merestrukturisasi perusahaan yang dianggap kesulitan keuangan sejak 2011 tersebut dianggap gagal karena tidak memperoleh cashflow yang diharapkan.

Wimboh mengatakan, pihaknya dan PS akan fokus melakukan pembenahan di internal, termasuk membangun sistem dan pengawasan yang benar. AJB Bumiputera yang sempat setahun lebih berhenti menerima pemegang polis baru pun bakal kembali beroperasi normal.

“Karena skema dulu itu rupanya tidak jalan, tidak ada cashflow yang masuk. Sehingga (restrukturisasi) kita batalin, sepakat kita kembalikan (ke AJB Bumiputera) dan tinggal ini operasi lagi dengan AJB yang lama,” katanya kepada pers hari ini.

Wimboh mengatakan, ke depan AJB Bumiputera akan kembali bisa beroperasi dengan menjual produk-produknya. Namun sebelumnya akan diterbitkan peraturan pemerintah (PP) dan Peraturan OJK (POJK) untuk mengubah struktur perusahaan asuransi tersebut kembali ke yang lama setelah ada restrukturisasi sebelumnya.

“Yang kemarin itu AJB Bumiputera kan nggak boleh jualan, bayar klaim saja. Sekarang kita hidupkan dia bolehkan dia jualan. Kita bentuk Peraturan Pemerintah (PP). Jadi akan ada aturan tentang mutual. PP ada, POJK (Peraturan OJK) ada,” ujar Wimboh.

Namun demikian, Wimboh belum mau mengungkapkan kapan AJB Bumiputera bakal beroperasi kembali menjual produknya. Tapi dia memastikan pemegang polis tak perlu khawatir karena dari sisi bisnis dan pendanaan, AJBB masih berjalan normal.

“Tunggu tanggal mainnya,” ungkapnya.

Skema baru

OJK sendiri diketahui tengah menyiapkan langkah baru dalam program penyehatan AJB Bumiputera. Wimboh menjelaskan, berdasarkan evaluasi, program penyehatan AJBB sebelumnya tidak dapat berjalan sesuai yang diharapkan, sehingga harus dilakukan program penyehatan yang komprehensif.

Upaya restrukturisasi yang dilakukan untuk menyelamatkan asuransi tertua di Indonesia tersebut pun batal dilanjutkan dan akan diganti dengan program penyehatan yang lebih komprehensif lagi.

Bersama pengelola statuter, OJK akan menyiapkan program penyehatan AJB Bumiputera yang diharapkan berjalan cepat, efektif dan komprehensif, serta mampu melindungi pemegang polis dan industri asuransi.

“Kami sedang siapkan perangkat agar AJB Bumiputera segera bisa membuka kembali operasinya dengan mulai menjual produk-produk,” katanya.

Wimboh meminta agar semua pemegang polis di AJBB tetap tenang, karena dari sisi bisnis dan pendanaan, AJB Bumiputera masih berjalan normal. Program penyehatan akan dilakukan secara menyeluruh, dengan menyentuh persoalan mendasar yang harus segera diperbaiki, di antaranya menyangkut struktur kelembagaan beserta aturan pelaksanaanya (yang akan diatur dalam Peraturan Pemerintah), manajemen dan sumber daya manusia, tata kelola dan manajemen risiko, sistem dan teknologi informasi hingga strategi dan saluran distribusi pemasaran.

“Jadi jangka pendeknya, AJB Bumiputera akan jualan lagi, memperbanyak produk. Penjualan aset juga tapi tidak jadi prioritas,” pungkasnya.

Tampaknya memang gampang-gampang susah dalam membenahi AJB Bumiputera yang dalam empat tahun terakhir mengalami defisit cukup besar, dimana aset perusahaan asuransi tertua itu hanya Rp13 triliun, sementara kewajibannya mencapai Rp30 triliun.

Sementara direksi yang terakhir diketahui melakukan banyak pelanggaran soal governance, sehingga makin memperburuk kinerja AJB Bumiputera. Sementara proses restrukturisasi  yang dijalankan telah gagal, salah satu kegagalannya adalah kesalahan dalam memilih anggota PS.

Ketua Tim PS yang ditunjuk adalah Didi Achdijat, beliau adalah mantan Dirut PT Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya. Didi pernah diamanatkan menyehatkan Bumi Asih dan ternyata gagal, sehingga sejak awal banyak kalangan meragukan kemampuannya dalam menyehatkan AJB Bumiputera.

Selain itu Adhie M. Massardi yang pernah menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan zaman Gus Dur, juga tak memiliki latar belakang di bidang asuransi, apalagi latar belakang penyehatan asuransi. Sehingga memang proses penyehatan AJB Bumiputera tidak maksimal.

Itu sebabnya OJK tengah mempertimbangkan keberadaan PS, apakah akan dirombak atau dibubarkan, menyesuaikan skema baru penyehatan AJB Bumiputera. Yang jelas, AJB Bumiputera memang sejak awal bermasalah, ditangani oleh PS yang kapasitasnya terbatas, sehingga wajar kalau upaya restrukturisasinya juga gagal.

Kini OJK menawarkan skema baru yang belum jelas bentuknya, tapi aroma tebar pesonanya memang agak kental. Akan kah AJB Bumiputera sehat kembali? Semua tergantung pada niat baik dan kerja profesional para pemangku kebijakan dan pelaksana restrukturisasi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here