Garuda, Air Asia dan Sriwijaya Air (2)

Akusisi Berkejaran dengan Kondisi Keuangan yang Menghimpit

0
44
PT Garuda Indonesia Tbk tak lagi bersaing dengan Sriwijaya Air dan Air Asia, justru ke depan berkolaborasi untuk menghadapi persaingan melawan penerbangan yang maju pesat seperti Lion Air.

Nusantara.news, Jakarta – Baru saja PT Garuda Indonesia Tbk pulih dari defisit panjang keuangannya menjadi surplus, BUMN penerbangan itu harus menghadapi realitas baru, yaitu kerjasama operasi sampai akuisisi PT Sriwijaya Air dan PT Air Asia Indonesia Tbk. Sanggupkah Garuda melewati fase sulit ini?

Sementara PT AirAsia Indonesia Tbk berniat untuk mengikuti jejak Sriwijaya Air untuk merapat ke Garuda Indonesia Group. AirAsia Indonesia telah menawarkan diri untuk melakukan Kerja Sama Operasi (KSO) dengan Garuda Indonesia.

"AirAsia Indonesia tengah menjajaki peluang kerja sama dengan Garuda Indonesia Group dengan mempertimbangkan keunggulan masing-masing maskapai," kata Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan dalam pernyataan tertulis.

Dendy juga sepakat dengan pihak Garuda Indonesia, bahwa AirAsia memang cukup unggul dalam penerbangan internasional. Menurutnya akan menjadi kolaborasi yang baik dengan Garuda Indonesia yang cukup menguasai pangsa pasar domestik. 

"AirAsia Indonesia merupakan bagian dari AirAsia Group, grup maskapai penyumbang jumlah penumpang internasional terbesar di Indonesia. Sementara Garuda Indonesia Group adalah salah satu yang terdepan untuk segmen pasar domestik," tambahnya.

Menurut Ari Askhara dengan kekuatan AirAsia yang cukup besar di taraf internasional bisa dimanfaatkan untuk mendorong PT Citilink Indonesia melebarkan sayapnya.

"Kami akan lihat opportunity-nya. Karena AirAisa ini kuat di internasional, jadi kami support juga ke Citilink. Jadi kami terbuka," tambahnya.

Sebelumnya Garuda Indonesia Group melalui anak usahanya PT Citilink Indonesia, mengambilalih pengelolaan operasional Sriwijaya Air dan NAM Air. Hal ini direalisasikan dalam bentuk Kerjasama Operasi (KSO) yang dilakukan oleh PT Citilink Indonesia (Citilink) dengan PT Sriwijaya Air dan PT NAM Air. 

KSO tersebut telah ditandatangani pada tanggal 9 November 2018. Nantinya, keseluruhan operasional Sriwijaya Group termasuk finansial akan berada di bawah pengelolaan dari KSO tersebut. 

Seperti halnya Sriwijaya Air, Air Asia juga mengalami tekanan finansial, sehingga harus jual pesawat untuk mengatasi utang. Pada 2018 Air Asia mencatat rugi bersih sebesar Rp907 miliar. Kerugian itu hampir dua kali lipat dari kerugian yang diderita Air Asia tahun 2017 sebesar Rp512,64 miliar.

Total beban usaha Air Asia di tahun 2018 meroket 123,32% YoY menjadi Rp5,22 triliun dari yang sebelumnya Rp3,44 triliun. Momok melesatnya beban usaha perusahaan adalah karena lonjakan signifikan pada biaya bahan bakar dan beban operasional lainnya yang melonjak masing-masing 53,17% dan 73,24% YoY.

Lantas, apakah kondisi keuangan Garuda cukup kokoh menolong dua perusahaan penerbangan itu. Bahkan sebelumnya Garuda sudah mengakuisis NAM Air, mampukah Garuda menopangnya?

Berdasarkan laporan keuangan 2018, maskapai Garuda mencatat laba bersih sebesar US$809,85 ribu atau ekuivalen dengan Rp11,33 miliar. Laba bersih ini melonjak tajam dibanding 2017 yang menderita rugi US$216,5 juta atau sekitar Rp3 triliun.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Fuad Rizal dalam laporan keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, laba bersih Rp11,334 miliar tersebut merupakan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Selama tahun 2018, perusahaan penerbangan plat merah ini mampu membukukan total pendapatan usaha sebesar US$4,3 juta, naik 4,88% dibanding sebelumnya sebesar US$4,1 juta. Dari sisi aset, Garuda Indonesia selama tahun 2018 memiliki total aset sebesar US$4,37 miliar, bertambah 16,22% dari total aset US$3,76 miliar tahun 2017.

Meski demikian, Garuda memiliki total utang sebesar US$3,46 miliar, melonjak dari total utang tahun 2017 sebesar US$2,83 miliar.

Sementara total modal usaha (ekuiti) tercatat sebesar US$910 juta, turun dari sebelumnya US$937,47 juta. Adapun nilai kas dan setara kas perseroan pada akhir tahun 2018 tercatat sebesar US$251,18 juta, juga turun sebelumnya US$305,72 juta

Dengan latar belakang keuangan yang demikian, sebenarnya Garuda juga tidak dalam posisi yang kokoh. Artinya boleh jadi ini adalah aksi korporasi yang nekat dan cenderung berbahaya. Karena beban keuangan Sriwijaya dan Air Asia Indonesia pada gilirannya akan menjadi beban Garuda, padahal Garuda sendiri memiliki beban keuangan yang sangat besar.

Itu sebabnya Garuda berada di persimpangan jalan, apakah akan recovery dan bahkan mampu mengangkat Sriwijaya sekaligus Air Asia. Atau justru sebaliknya akan terseret ke bawah, sama-sama terperangkap dalam beban utang yang berkelanjutan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here