Al Aqsha, Kita Malu

0
213

KEBIADABAN Israel di Masjid Al Aqsha Jerussalem sejak sepekan terakhir adalah kebiadaban yang berulang entah untuk keberapa ribu kalinya. Sebab, apa pun yang mereka lakukan terhadap bangsa Palestina, tidak jauh dari aksi penindasan. Aneksasi abadi Israel terhadap negara Palestina saja sudah kekejian tersendiri, dan usaha mempertahankannya dari perlawanan bangsa Palestina adalah rangkaian panjang kekejian tak terkira.

Setiap ada tindak kekejaman yang dilakukan Israel kepada Palestina, dunia seolah serempak berteriak melontarkan kecaman. Demikian pula dengan pemerintah Indonesia.

Presiden Joko Widodo menyatakan sikap pemerintah Indonesia yang mengecam keras aksi tentara Israel yang memblokade masjid suci itu dari kegiatan ibadah umat Islam. Presiden juga meminta Dewan Keamanan PBB segera bersidang untuk menghentikan ulah Israel yang tak berperikemanusiaan itu.

Sama seperti aksi Israel yang entah sudah keberapa ribu kali itu, pernyataan politik pemerintah Indonesia kali mungkin juga sudah dalam jumlah bilangan yang sama. Sejak dahulu kala, dari presiden ke presiden, sikap Indonesia tidak berubah: Anti-Israel, dan selalu mengecam tingkahnya yang melanggar hak-hak bangsa Palestina.

Tetapi, pernyataan pemerintah Indonesia ini hanya sekadar bilangan. Tak pernah lebih dari sekadar basa-basi diplomasi. Tujuan nasional yang diamanatkan dengan tegas oleh Pembukaan UUD 1945 dengan kalimat “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”, belum sepenuhnya mewarnai langkah politik luar negeri Indonesia, khususnya dalam masalah Palestina.

Buktinya, Indonesia tidak pernah aktif dalam memperjuangkan pembebasan Palestina. Padahal, Indonesia pernah sangat giat menjadi mediator perdamaian dalam konflik Filipina Selatan atau Kamboja.

Jika ditanya ke setiap orang Indonesia, negara mana yang paling dikasihani, tentulah nama Palestina yang diucapkan. Negara mana pula yang paling dibenci, pastilah sebagian besar mereka akan menyebut Israel.

Soal ini memang bertolak pada penjajahan Israel atas Palestina. Itulah yang di atas kertas, menjadi dasar kebencian masyarakat Indonesia kepada Israel. Tetapi, sebenarnya di balik itu, ada simpati yang berlandaskan agama. Perjuangan Palestina dipersepsikan sebagai perjuangan agama (Islam).

Padahal di antara pemuka Palestina terdapat banyak tokoh beragama Kristen. Bahkan istri pemimpin legendaris Palestina Almarhum Yasser Arafat, Suha Tawil, juga Kristen.Tokoh garis keras anti-Israel, Goerge Habbash, juga menganut agama Kristen.

Habbash bahkan lebih ekstrem ketimbang Arafat. Ketika dulu Arafat menandatangani Perjanjian Damai Oslo tahun 1993 yang menyepakati solusi dua negara dengan Otoritas Palestina yang hanya menguasai Jalur Gaza dan Tepi Barat, Habbash kukuh dengan sikap merdeka penuh.

Perjuangan Palestina sebetulnya adalah perjuangan kebangsaan meraih kembali kemerdekaannya yang direbut Israel atas dukungan negara-negara Barat. Tetapi, apa pun, soal Palestina sudah terlanjur dianggap soal perjuangan agama. Perjuangan yang dipersepsikan sebagai perjuangan agama ini adalah isu sensitif di Indonesia.

Itu sebabnya pemerintah Indonesia dari masa ke masa tidak pernah berhenti mengecam keras tindakan keji Israel terhadap Palestina. Sebab, tidak mengeluarkan kecaman sama artinya mengundang kecaman.

Pernyataan “terbaik” pemerintah Indonesia pernah disampaikan Presiden Megawati belasan tahun lalu di Sidang Majelis Umum PBB di New York.  Megawati mengatakan, akar dari terorisme internasional adalah ketidakadilan Barat terhadap konflik Timur Tengah. Barat dikecam Megawati terlalu berpihak ke Israel.

Baru kali itu pemerintah Indonesia secara langsung menuding Barat, meski itu pun tak menyebut negara Barat mana yang dimaksud. Tetapi, dunia kiranya tahu bahwa yang dituju adalah Amerika Serikat.

Tapi, apa setelah itu? Tak ada.

Padahal, Palestina amat besar jasanya bagi Indonesia. Inilah negeri yang pertama kali memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia, bahkan jauh sebelum proklamasi dibacakan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Adalah mufti besar Palestina, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, yang sedang dalam pembuangan di Jerman, yang menyerukan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia secara terbuka pada program siaran berbahasa Arab di Radio Berlin, pada tanggal 6 September 1944. Seruan itu yang kemudian mendorong Mesir memberikan pengakuan de facto terhadap kemerdekaan Indonesia pada 22 Maret 1946, dan mengakui secara de jure pada 10 Juni 1947. Pengakuan serupa kemudian diikuti negara-negara Arab lain.

Syekh Husaini menunjukkan keberaniannya membela Indonesia dalam statusnya sebagai tahanan politik. Sementara Indonesia yang sudah merdeka puluhan tahun, hanya memberikan berani dukungan basa-basi kepada Palestina.

Dalam soal ini, apa kata yang tepat selain “malu”?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here