Alih-Alih Dihapuskan, Trump Ingin Guru Pegang Senjata

0
91
Sejumlah aktivis dan pelajar berkumpul di depan parlemen negara bagian Florida melakukan protes atas maraknya penggunaan senjata api di negaranya

Nusantara.news, Washington – Ribuan pelajar turun ke jalan. “Kami ingin perubahan, kami ingin perubahan,” begitu yel-yel terdengar lantang dari depan Old Capitol, Tallahassee, Florida. Rally bertajuk #NeverAgain pada Rabu (21/2) itu sebagai protes atas kejadian terburuk di sekolah menengah atas dalam sejarah Amerika Serikat (AS) pada satu pekan sebelumnya.

Tampak pelajar asal SMA Marjory Stoneman Douglas – tempat terbantainya guru dan murid oleh tersangka penembak liar Nikolas Cruz – berada di antara ribuan warga Florida yang menuntut pada Undang-Undang kepemilikan senjata api di negara mereka.

Hampir sehari penuh mereka – sejumlah perwakilan pelajar dan keluarga korban penembakan – menggelar pertemuan dengan anggota parlemen dan pejabat negara bagian Florida. Hadir dalam pertemuan itu sejumlah anggota DPR, Senat, Komisioner Pendidikan Pam Stewart dan Gubernur Florida Rick Scott.

Lindungi anakmu, bukan senjatamu, sebuah poster yang menyindir politisi pendukung kepemilikian senjata api

“Ini bukan Florida tempat saya dibesarkan. Ini bukan Florida tempat kami berkembang mendidik anak-anak kami. Tidak seorang pun anak yang boleh hidup dalam ketakutan,” ucap seorang anggota DPR setempat Janet Cruz – menahan gemetar dan emosi – saat berorasi di depan ribuan peserta unjuk rasa.

“Tidak ada alasan bagi anak-anak di AS harus mengerti bagaimana rasanya tinggal di zone perang,” lanjutnya.

Sebelum demonstrasi dimulai, para pelajar di Florida Selatan keluar dari halaman sekolah mereka – melibatkan diri dalam rally pelajar yang semakin memanjang. Mereka berkumpul di taman dekat SMA Cypress Bay di Weston sebelum memutuskan pawai jalan kaki – lengkap poster menuntut perubahan Undang-Undang – menuju Gedung DPRD setempat yang berjarak beberapa kilometer.

Para pelajar sudah merencanakan terus menggelar demonstrasi dan pemogokan apabila UU tentang persenjataan api tidak segera diubah. Puluhan orang tampak tampil bergantian bicara di panggung utama – terdiri antara lain perwakilan pelajar, mahasiswa, anggota DPR dan Senat negara bagian, aktivis dan lainnya – mengecam kebijakan persenjataan di AS yang memicu terjadinya penembakan di sejumlah tempat di negaranya.

Florence Yard – seorang pelajar SMA Stoneman Douglas – bertutur tentang orang tuanya yang melarikan diri dari Lebanon agar anak-anaknya tidak hidup di zona perang. Mereka tidak bermimpi anak-anaknya akan menghadapi zona perang di Amerika.

Ribuan massa yang berhimpun itu juga dimanfaatkan pensiunan astronot NASA Mark Kelly yang istrinya selamat dari penembakan untuk mengingatkan pada Pemilu Sela November 2018 memilih calon-calon yang berjuang melawan lobi Asosiasi Pedagang Senjata Nasional (NRA/ National Rifle Association).

Di antara peserta aksi – banyak di antaranya akan – berusia 18 tahun pada November 2018 nanti. Ini sekaligus sebagai peringatan kepada para politisi yang selama ini enggan bertindak melakukan reformasi UU persenjataan api. Terlebih di antara politisi – khususnya Republikan – dengan alasan memperjuangkan Amandemen Kedua – hak untuk membela diri – menerima biaya kampanye dari NRA yang jumlahnya mencapai 17 juta dolar AS.

Aksi turun ke jalan pada Rabu, 21 Februari lalu, di Tallahassee, bukan satu-satunya aksi yang sudah direncanakan oleh Universitas Stoneman Douglas. Pada 14 Maret 2018 nanti mereka dijadwalkan kembali turun ke jalan dalam aksi bertajuk “March for Our Lives” yang akan berlanjut di Washington DC pada 10 hari setelahnya.

Guru Bersenjata

Saat sebagian besar warga AS khawatir dan cemas atas tidak terkendalinya kepemilikan bersenjata api di negaranya – bahkan mereka bisa memiliki secara legal jenis senjata serbu yang memiliki kecepatan sangat mematikan – Presiden AS Donald Trump justru menginginkan guru-guru dipersenjatai sehingga dapat melindungi murid-muridnya.

“Negara dikelola dengan kemarahan telah dicontohkan Donald Trump. Guru Sekolah AS boleh bawa Senjata Api. Eye for Eye? Baku tembak?” tulis aktivis 1978 Institut Teknologi Bandung (ITB) Jusman Syafii Djamal di akun Facebook miliknya, Jumat (23/2) ini.

Pernyataan Trump itu terungkap saat bertemu dengan sejumlah orang tua korban penembakan di Gedung Putih pada Rabu (21/2) lalu. Kala itu para orang tua dan sejumlah pelajar diterima Trump dalam acara makan siang di Ruang Makan Negara.

Ibu dari korban penembakan di Sandy Hook 2012 tidak setuju Trump akan persenjatai guru

Sejumlah orang tua terlihat begitu emosional saat diberikan kesempatan berbicara. Mereka mendesak Trump bertindak agar sekolah lebih aman dan mendukung tindakan pengendalian senjata. “Perbaiki itu,” pinta Andrew Pollack – diucapkan sambil berdiri – usai bercerita tentang anak gadisnya Meadow (18) yang tewas dalam penembakan di SMA Marjory Stoneman Douglas pada Rabu pekan lalu.

“Anda tidak ingin menjadi saya – bahkan tidak seorang pun orang tua di Amerika,” tutur Nicole Hockley – ayah dari seorang anak umur 6 tahun yang menjadi korban penembakan di Sekolah Dasar Sandy Hook tahun 2012 lalu. “Anda memiliki kemampuan untuk menyelamatkan nyawa hari ini, tolong jangan sia-siakan ini,” pintanya kepada Trump.

Ada lagi yang menyayangkan, betapa mudahnya seorang anak muda di AS – bahkan untuk membeli alkohol pun belum boleh – bisa memiliki senjata serbu jenis AR-15. “Bagaimana mereka dengan mudah mendapatkan ini? Bagaimana kita tidak menghentikan ini setelah peristiwa di Columbine, setelah peristiwa di Sandy Hook? Kita perlu melakukan sesuatu,” ucap Sam Zelf yang sahabatnya tewas dibunuh.

Menjawab berbagai keprihatinan yang diucapkan dengan sangat emosional itu, Trump berjanji akan “melakukan sesuatu tentang situasi mengerikan yang sedang terjadi” di negaranya – dan dia berharap untuk “mengetahuinya secara bersama-sama” dengan mendengar keluarga korban yang diajaknya bertemu di Gedung Putih.

“Kami tidak ingin orang lain mengalami rasa sakit yang anda alami,” Trump membuka percakapan. Setelah itu – sebagaimana politisi dari Grand Old Party (GOP) lainnya – Trump justru menyerukan guru-guru dan pejabat sekolah agar dipersenjatai, dan mendukung gagasan penghapusan wilayah bebas senjata. Selama ini ada beberapa zona yang dilarang dimasuki orang bersenjata – seperti misal lembaga pendidikan – dan Trump menginginkan zona bersenjata itu dihapuskan.

Toh demikian, Presiden menginginkan “hanya bekerja” dengan orang-orang yang “sangat mahir menggunakan senjata api”. Trump juga menggambarkan, mestinya penembak di Parkland bisa dihentikan sebelum beraksi lebih jauh apabila pelatih “Football Amerika” yang berani melindungi muridnya dengan badannya dipersenjatai.

Sejumlah orang tua yang hadir – ada yang mendukung Trump – tapi tidak sedikit pula yang menentangnya. Sebut saja Mark Barden – ayah dari seorang anak lelaki 7 tahun yang menjadi korban penembakan di SD Sandy Hook – secara tegas menentang gagasan Trump. Sebab sekolah bukan zona perang seperti Lebanon – ucapnya mendapat tepuk meriah rekan-renkannya.

Karena memang Trump dan sejumlah politisi Partai Republik – alias GOP – memang sebagian biaya politiknya disumbang produsen dan pedagang senjata yang bergabung dalam NRA. Jadi wajar dengan berlindung Amandemen Ke-2 Konstitusi Amerika – hak untuk mempertahankan diri – mereka terus bebas menjual senjata api ke seluruh warga negara AS.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here