‘Alumni’ Haji, Pelopor Perlawanan Terhadap Kolonial

0
80

Nusantara.news, Jakarta – Di masa kolonial, para haji tak hanya tukang ceramah atau sekadar menggandrungi titel “haji” di depan namanya. Sejak abad ke-17 hingga ke-19, para ‘alumni’ haji ini berperan besar dalam pergerakan melawan penjajahan di Bumi Pertiwi.  Atas dasar pandangan itu, umat Islam pribumi yang saat itu jumlahnya 95% ditakuti sekaligus dicurigai, dibatasi, dan dihalangi kegiatannya oleh pemerintah kolonial.

Ada dua aspek negatif mengenai para haji yang di mata pemerintah kolonial. Pertama, para haji dianggap sebagai orang suci, sehingga rakyat awam akan cepat berkesimpulan bahwa mereka mempunyai kekuatan gaib. Kedua, secara politik, para haji memiliki pengaruh dan sering berperan sebagai pemimpin suatu gerakan untuk melawan penjajah.

Snouck Hurgronje yang oleh Tagliacozzo kemudian disebut “the Netherlands’ greatest orientalist and interpreter of Islam” mengakui, ibadah haji dapat membangkitkan sikap kritis dan revolusiner terhadap penjajah. Itu karena jamaah haji telah berinteraksi dengan bangsa-bangsa Muslim lain yang saat itu nyaris semua jajahan Barat.

Dari hasil interaksi itu, mereka mendengar adanya gerakan Pan Islamisme, sebuah gerakan yang bertujuan untuk menuju kemerdekaan negara-negara Muslim, terbebaskan dari belenggu kolonialisme Barat. Gerakan yang bersifat internasional inilah yang paling ditakuti penguasa Inggris Raffles, orientalis Hurgronje, dan para gubernur jenderal yang berkuasa di Hindia Belanda.

Implikasi politik ibadah haji jelas sekali. Ia sesungguhnya muktamar abadi dari solidaritas muslim sedunia, di mana segala urusan agama dibicarakan oleh delegasi-delegasi dari tiap penjuru dunia Islam, seperti pertahanan dan penyebaran Islam. Tokoh-tokoh kebangkitan Islam yang militan merasa terpanggil hatinya, dan ketika mereka kembali ke tanah asalnya mereka melakukan pembaharuan-pembaharuan atas dasar doktrin yang mereka dapatkan ketika berhaji. Tentu sebagian besar dari mereka ke Tanah Suci hanya beribadah, namun sebagian kecil dari mereka inilah yang kemudian menjadi pemantik revolusi sosial di Indonesia.

Pada tahun 1803, tiga orang ulama Minangkabau, Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang kembali dari Mekah seusai melaksanakan haji. Mereka menginginkan pembersihan praktik-praktik keagamaan yang masih sinkretik, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kaum Wahabi di Mekah. Mereka melihat bahwa kaum Wahabi berhasil menghapuskan kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai Islam. Mereka membawa pulang pemikiran baru yang didapatkan di Tanah Suci dan menerapkan di daerahnya.

Gerakan mereka kemudian dikenal dengan Gerakan Padri. Gerakan ini tujuan awalnya memberantas kebiasaan masyarakat yang dianggap bertentangan dengan agama seperti berjudi, sabung ayam, menggunakan candu dan meminum minuman keras. Akan tetapi gerakan ini mendapat perlawanan dari para penghulu yang tetap mempertahankan adat. Para penghulu yang anti-Padri kemudian meminta bantuan kepada pihak Belanda dan meletuslah perang Padri pada tahun 1821-1832. Namun di ujung konflik, kaum padri dan kaum adat bersatu melawan kolonial.

Selain itu, ada peristiwa yang terjadi di Yogyakarta yaitu perang Diponegoro (1825-1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Meskipun ia belum pernah menunaikan ibadah haji, namun ia mendapat pengetahuan agama dari ulama atau kyai yang pernah melaksanakan haji. Ia mendapat bantuan dari kalangan santri yaitu Kyai Madja dan menyatakan perlawanannya itu sebagai perang suci melawan pihak kafir. Tak heran, jika kemudian para haji dan umat Islam lainnya, pada waktu itu meyakini pemberontakan Diponegoro itu sebagai perang suci untuk mengembalikan pemerintahan Islam di Jawa.

Para ulama Aceh yang lama tinggal di Mekah dan kembali ke Aceh juga mengambil bagian pada perang Aceh (1873-1912). Para ulama yang terlibat dalam perang ini sebagai bagian dalam menentang agresi Belanda, mereka menyebutnya “jihad fisabililah”. Di luar itu, ada pemberontakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1859-1862), kasus Haji Rifa’i dari Kalisasak (1859), Peristiwa Cianjur-Sukabumi (1885), Pemberontakan Petani Cilegon-Banten (1888), Gerakan Petani Samin (1890-1917), Pemberontakan Haji Ali dalam Persitiwa Toli-Toli di Sulawesi (1919), Pemberontakan Haji Hasan dalam Peristiwa Cimareme “Afdelling B” Garut (1919), dan masih banyak lagi.

Khusus pemberontakan Banten, peristiwa yang meletus pada Juni 1888 ini dianggap sebagai pukulan telak bagi kolonialisme di Indonesia. Pemberontakan yang diinisiasi oleh para haji dan pemuka agama ini merupakan respons atas nestapa sosial pribumi serta penyingkiran peran umat Islam.

Sejarawan Indonesia, Sartono Kartodirjo, dalam disertasinya “Pemberontakan Petani Banten 1888”, mengemukakan bahwa pemberontakan petani di Banten itu dipimpin oleh para haji. Ada Haji Ishak, Haji Wasid, Haji Abdulgani, Haji Usman dan Haji Tubagus Ismail di dalamnya. Para pemberontak itu ada yang berkumpul di tempat tinggal seorang haji sebelum menyerang kantor asisten residen yang dianggap simbol kekuasaan kolonial Hindia Belanda.

Pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda juga terjadi di Tambun (Bekasi) dan Tangerang pada 1924. Pemberontakan di Tangerang dipelopori sejumlah haji di Desa Pangkalan Tangerang. Tokoh-tokoh itu berpidato di hadapan massa sambil menyerukan perlawanan terhadap Belanda dengan ucapan “Allahu Akbar”.

Tak jauh dari Bekasi, muncul tokoh jawara Betawi asal Klender, Muhammad Arif alias Darip. Karena dia pernah belajar ke Mekah selama tiga tahun, orang menyebutnya Haji Darip. Selama masa revolusi kemerdekaan, Haji Darip membangun jaringan dengan jawara lain seperti Camat Nata (gerombolan di Tambun), Haji Eman, Haji Masum Teluk Pucung, dan Pa’ Macen. Dia juga berhubungan dekat dengan Kyai Haji Noer Ali, jago dan ulama asal Bekasi.

Di era pergerakan abad XX, selesai berhaji ke Mekkah, Tjokroaminoto lebih memilih titel haji di depan namanya ketimbang gelar bangsawan “Raden Mas”. Dia kemudian dikenal dengan nama Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, guru para pendiri bangsa yang amat disegani kawan maupun lawan. Tak hanya itu, titel haji juga mempercepat daya picu Tjokro secara lebih radikal dan ideologis dalam melawan kafir penjajah.

Bersama Haji Agus Salim, Tjokroaminoto menggalang emansipasi kebangsaan melalui organisasi politik pertama dan terbesar saat itu, yakni Sarekat Islam. Sebelumnya, ada Haji Samanhudi yang juga seorang pengusaha batik, dia dan para pengusaha lokal membentuk Sarekat Dagang Islam sebagai alat untuk menghadang dominasi ekonomi bangsa Cina dan Eropa.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here