Amerika Ancam Sanksi Korut, Cina yang Kebat-kebit

0
189

Nusantara.news – Bagi negara yang sudah terlanjur terisolasi dan telah banyak menerima sanksi, ancaman sanksi baru bukanlah hal yang luar biasa lagi. Pikirnya, sanksi macam apa lagi, toh selama ini juga sudah banyak sanksi yang dijatuhkan, dan mereka tetap bisa survive. Korea Utara contohnya, meski Amerika Serikat mengancam bakal jatuhkan sanksi baru, negara itu tetap tenang. Justru sekutu utamanya, Cina, yang kebat-kebit. Cina khawatir menanggung beban migrasi besar-besaran warga Korut karena negara itu mengalami krisis gara-gara disanksi AS. Padahal ekonomi Cina sendiri sedang anjlok.

Setelah serangkaian uji coba rudal balistik Korut yang diarahkan ke sejumlah wilayah perairan seperti Jepang dan Korea Selatan, AS mengambil tindakan untuk mengamankan negara-negara sekutunya, Jepang dan Korsel. Di Seoul AS sudah menyebar sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Penyebaran sistem anti-rudal di Seoul dirasa belum cukup untuk membuat Korut takut, karena negeri Kim Jong-un itu belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti melakukan uji coba senjatanya, termasuk menghentikan pengembangan program senjata nuklirnya.

Karena itu, AS mengancam akan memperluas sanksi Korut dengan memutusnya dari sistem keuangan global. AS juga mengancam akan memberi sanksi kepada perusahaan-perusahaan Cina yang terlibat dalam pengembangan nuklir Korut dengan memutusnya dari sistem keuangan global.

Korut, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (21/3) meyatakan pihaknya tidak takut dengan sanksi, dan tetap akan melakukan percepatan program nuklir dan rudalnya.

“Termasuk mengembangkan kemampuan rudal balistik antar-benua (Intercontinental Ballistic Missile/ICBM),” kata Choe Myong Nam, Wakil Dubes pada misi Korea Utara untuk PBB di Jenewa.

Seorang pejabat senior AS di Washington, sebagaimana dilansir Reuter, melaporkan pada Senin lalu bahwa Donald Trump sedang mempertimbangkan penjatuhan sanksi sebagai bagian dari langkah-langkah melawan ancaman nuklir dan rudal Korut.

“Saya kira ini berasal dari kunjungan Menlu (Rex Tillerson) ke Jepang, Korea Selatan dan Cina … Kami tentu saja tidak takut tindakan itu,” kata Choe.

“Bahkan larangan sistem transaksi internasional, sistem keuangan global, hal semacam ini adalah bagian dari sistem mereka yang tidak akan menakut-nakuti kami atau membuat kami berubah.”

“Korea Utara berada di bawah sanksi selama setengah abad tetapi tetap bertahan dengan cara juche atau ‘swasembada’,” Choe menambahkan.

Dalam sudut pandang Korut, apa yang dilakukan selama ini, seperti uji coba rudal atau program pengembangan roket jarak jauh, dan lain sebagainya semata-mata untuk mempertahankan negeri mereka dari ancaman. Peluncuran rudal pada minggu lalu ke Laut Jepang sejatinya adalah respon Korut atas latihan perang gabungan Korsel dan AS di Semenanjung Korea.

Choe juga mengkritik pernyataan-pernyataan Melu AS Tillerson saat berkunjung ke Korsel pekan lalu.

“Semua yang dia bicarakan adalah untuk Amerika Serikat, untuk mengambil tindakan militer terhadap Korut,” kata Choe.

Korea Utara menolak klaim Washington dan Seoul bahwa latihan militer gabungan itu bersifat defensif. “Mereka jelas-jelas telah melibatkan pembom nuklir strategis dan kapal selam nuklir Columbus, yang baru-baru ini memasuki pelabuhan Korsel,” tuding Choe.

“Kita tidak punya pilihan lain selain melanjutkan akselerasi kami denan program nuklir dan program rudal. Hal ini karena aktivitas yang menimbulkan permusuhan dari Amerika Serikat dan Korea Selatan,” katanya.

Sementara itu, Choe menolak memberikan rincian teknis uji mesin roket terbaru Korut pada Minggu (19/3), yang dikalim Korut sebagai tahap pengembangan ICBM parsial, dan menyebutnya sebagai peristiwa sejarah besar bagi Korut.

Para pengamat memperkirakan Korut kemungkinan telah menguasai teknologi sebagai tahapan pengembangan ICBM dan mungkin akan memamerkannya segera, tapi kemungkinan masih jauh dari mampu untuk menarget daratan Amerika Serikat.

“Amerika Serikat telah berbicara tentang serangan pre-emptive ke Korea Utara,” kata Choe. “Dan kami telah siap untuk mencegahnya.”

Pemerintah Cina beberapa waktu lalu telah mengimbau kedua negara AS dan Korea Utara agar menahan diri. Cina mengibaratkan apa yang terjadi dengan AS dan Korut ini seperti dua mobil yang akan bertabrakan, jika keduanya tidak menginjak rem maka tabrakan akan benar benar terjadi.

Pada Sabtu (18/3), Global Times yang dikelola pemerintah Cina mengatakan, Cina memiliki kepentingan untuk menghentikan ambisi nuklir Korut. Namun, akan berbahaya jika Cina memotong sepenuhnya kerja sama dengan Korut.

“Begitu ada kekacauan di Korut, negara pertama yang terkena bencana adalah Cina. Maaf, tapi Amerika Serikat dan Korsel tidak memiliki hak untuk menuntut kepada Cina,” tulis Global Times. Bencana dimaksud adalah migrasi besar-besaran warga Korut ke Cina karena krisis.

Uji coba yang gagal

Sementara itu, dilaporkan bahwa Korut telah melakukan uji coba rudal balistik terbaru pada Rabu (22/3) namun gagal, kata pejabat pertahanan Korsel, tiga hari setelah Korut mengklaim terobosan besar dalam program pengembangan roketnya.

Uji coba rudal yang gagal itu dimaksudkan untuk merespon latihan gabungan tahunan militer Korsel dan AS yang berlangsung di Semenanjung Korea. Sejak awal bulan ini, Korut telah menembakkan empat rudal balistik yang mendarat di perairan Jepang dan memicu protes keras dari Seoul dan Tokyo.

“Rabu pagi, Korut  menembakkan rudal dari kota pesisir timur Wonsan, tapi peluncuran itu diyakini telah berakhir dengan kegagalan,” kata Kementerian Pertahanan Korsel dalam sebuah pernyataan di Seoul.

Dave Benham juru bicara Komando Pasifik AS mengatakan, “Sebuah rudal tampaknya telah meledak dalam hitungan detik dari peluncuran.” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here