Amerika Beri Perhatian Khusus Soal Terorisme Marawi

0
102
Bebek dan ayam mengikuti petugas di dekat sebuah pos pemeriksaan di Marawi di pulau selatan Mindanao pada 12 Juni. (AFP /Getty Images)

Nusantara.news – Pertempuran di Kota Marawi antara kelompok milisi bersenjata Maute dengan tentara Filipina telah memasuki minggu keempat. Ratusan warga sipil masih terjebak di kota tersebut. Pejabat militer setempat menyatakan bahwa tentara sedang berjuang melepas cengkeraman milisi yang diduga terkait ISIS itu atas pusat kota, pengeboman dilakukan terus menerus tanpa henti.

Juru bicara militer, Brigadir Jenderal Restituto Padilla, sebagaimana dikutip Al Jazeera, Selasa (13/6) mengatakan bahwa medan perkotaan menjadi penghambat upaya tentara pemerintah membekuk milisi bersenjata. Pasalnya, mereka berlindung di pemukiman-pemukiman warga dan kerap menjadikan mereka sebagai perisai manusia.

Saat ditanya kapan kira-kira pertempuran berakhir, Padilla berkata, “Saya tidak dapat memberikan perkiraan karena banyak perkembangan yang dihadapi oleh komandan di lapangan,” katanya.

Ratusan warga sipil terjebak di reruntuhan kota dan menghadapi ancaman penangkapan, kelaparan atau pemboman dari atas. Hampir seluruh penduduk (sekitar 200.000) melarikan diri setelah kelompok Maute mencoba menyerbu kota tersebut, namun tentara pemerintah meyakini masih ada sekitar 300-600 warga sipil yang terjebak atau disandera.

Pada Selasa (13/6), jumlah secara resmi pasukan keamanan yang dilaporkan tewas dalam pertempuran 58 orang dan warga sipil 26 orang. Sementara jumlah korban tewas dari milisi sejumlah 202 orang.

Amerika Serikat memberi perhatian khusus terhadap pertempuran Marawi yang diduga terkait dengan terorisme global: ISIS. Dalam tiga minggu terakhir setelah pertempuran kota Marawi dimulai, pejabat departemen pertahanan AS intensif membahas perkembangan jaringan ISIS di Asia Tenggara. Terutama soal adanya perintah untuk berperang di kawasan tersebut setelah ISIS terpojok di Irak dan Suriah.

Isu teror ISIS di Asia Tenggara mengemukan dalam diskusi yang dihadiri Menteri Pertahanan AS Jim Mattis awal bulan ini, saat menghadiri Dialog Shangri-La, sebuah konferensi pertahanan regional utama di Singapura. Mattis dan pejabat senior bidang pertahanan dari negara lain menyoroti situasi Marawi,  dan pemimpin Pentagon itu mendesak agar pihak lain segera bertindak.

“Bersama-sama kita harus bertindak sekarang untuk mencegah ancaman ini berkembang,” kata Mattis.

“Jika tidak, maka akan menempatkan keamanan regional jangka panjang pada risiko dan dinamika ekonomi regional. Kita hanya perlu melihat kekacauan dan kekerasan yang dihadapi teman-teman kita di Timur Tengah untuk melihat mengapa kita harus secara cepat dan bersama-sama menghadapi ancaman terhadap wilayah kita,” tegas Mattis.

Perhatian AS terhadap isu terorisme di kawasan Asia Tenggara dibuktikan dengan mengirim bantuan teknis kepada tentara Filipina sejak Jumat (9/6) minggu lalu, kendatipun Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan tidak pernah meminta bantuan terhadap AS untuk mengatasi masalah Marawi.

Duterte memang dalam hubungan yang kurang baik dengan Amerika, karena dia dituding melanggar HAM dalam tindakannya menembaki tanpa para pengedar narkoba di Filipina tanpa proses hukum.

Namun, sebagaimana dilansir Reuters, menurut tiga pejabat AS, yang tidak mau disebut namanya karena sensitivitas diplomatik terhadap isu tersebut, mengatakan bahwa pekan lalu Pentagon terbuka untuk memberikan bantuan, namun Filipina tidak meminta apapun. Tap itu berubah dalam beberapa hari terakhir setelah pejabat AS menyatakan akan membantu militer Filipina dengan bantuan teknis yang tidak diungkapkan.

Duterte mengatakan dalam sebuah wawancara hari Minggu (11/6), bahwa dia tidak mengetahui bantuan itu sampai tiba di negaranya.

Sebetulnya, kerja sama AS dan Filipina dalam menangani terorisme di negara itu bukanlah cerita baru. Pentagon membentuk misi kontraterorisme yang dikenal dengan Operation Enduring Freedom-Philippines beberapa bulan setelah serangan terjadi 11 September 2001. Pasukan berjumlah sampai dengan 600 orang dalam Operasi Khusus AS pada suatu waktu membantu militer Filipina di tahun-tahun berikutnya. Kadang-kadang mereka menghadapi pertempuran meskipun mereka berperan sebagai penasehat. Operasi tersebut berakhir pada tahun 2015.

Mayor Kari McEwen, juru bicara Operasi Khusus AS di Pasifik mengatakan bahwa sejak misi kontraterorisme AS di Filipina berakhir, telah terjadi antara 50-100 pasukan Operasi Khusus AS di negara ini dalam satu waktu.

“Mereka membantu dengan melakukan operasi seperti yang sedang berlangsung di Marawi,” katanya. Namun dia menolak memberikan rincian apa yang dilakukan pasukan tersebut dengan alasan masalah keamanan.

“Kami membantu berdasarkan apa yang pemerintah (Filipina) inginkan, dan bagaimana (Angkatan Bersenjata Filipina) melihat bahwa kami dapat menyesuaikan diri,” katanya.

“Kami masih berada di lokasi dan kami masih memberi arahan dan membantu,” kata McEwen.

Pemerintah Donald Trump berjanji untuk memusnahkan ISIS kemanapun pergi, juga terus memberikan senjata dan peralatan militer ke Filipina, seperti yang telah dilakukan AS selama bertahun-tahun. Baru-baru ini, M4 carbines, pistol Glock, senapan mesin M134D, pelontar granat dan perahu karet dikirimkan, menurut sebuah rilis berita pada 5 Juni dari Kedutaan Besar AS di Manila. Tahun lalu, AS mengirim alat perlengkapan militer seperti helm, radio dan pesawat tak berawak RQ-11B.

Jurubicara Kedutaan Besar AS di Manila, Emma Nagy mengatakan bahwa Operasi Khusus AS telah memberikan dukungan kepada pemerintah Filipina selama bertahun-tahun dan akan terus dilakukan.

Pengamat mengatakan bahwa situasi keamanan di Mindanao telah berubah. Para milisi, termasuk beberapa kelompok militan telah berbaiat kepada ISIS pada tahun 2014, dan kelompok tersebut merilis video pertamanya tentang Filipina pada bulan Juni 2016. Kelompok ini kini dipimpin oleh jihadis bernama Isnilon Hapilon, juga dikenal sebagai Abu Abdullah al-Filipini, emir ISIS di Filipina.

Hapilon telah berperang melawan pemerintah Filipina selama bertahun-tahun, berada dalam daftar Teroris Paling Dicurigai oleh FBI dan merupakan pemimpin kelompok Abu Sayyaf garis keras. Dia dan sekte militan lainnya yang dikenal dengan kelompok Maute, memimpin serangan ke Marawi.

Kenapa AS beri perhatian teroris Marawi?

Laporan Pusat Pemberantasan Terorisme (The Combating Terrorism Center) menyebutkan bahwa antara bulan Juni 2014 hingga April 2017, telah terjadi 20 serangan teroris, 35 rencana dan 88 penangkapan terkait dukungan terhadap ISIS di Asia Tenggara. Setengah dari serangan tersebut terjadi di Filipina, tapi Malaysia, Indonesia dan Singapura semuanya mencatat rencana terkait yang diilham oleh ISIS.

Joseph Liow Chin Yong, seorang profesor di Singapura yang mempelajari ancaman Islam di wilayah itu memaparkan di hadapan Kongres AS mengenai hal itu tahun lalu. Dia mengatakan bahwa tujuan lain dari Operasi Enduring Freedom-Philippines adalah menghentikan kelompok Abu Sayyaf, namun kelompok ini bahkan sekarang lebih kuat karena mereka telah menyesuaikan diri dengan ISIS.

Malaysia dan Indonesia juga khawatir tentang apa yang terjadi di Filipina selatan yang berpotensi memicu operasi terorisme di negara masing-masing.

“Saya pikir pasti ada peran AS untuk dimainkan,” kata profesor tersebut. “Saya percaya ini adalah masalah kepentingan Amerika juga, karena Anda berbicara tentang apa yang berpotensi dan merupakan manifestasi dari masalah global yang lebih besar mengenai ideologi ISIS ini.”

Don Rassler, yang ikut membantu menyusun laporan di Pusat Pemberantasan Terorisme mengemukakan sebuah pertanyaan kunci, “Apakah milisi di Marawi dapat berkumpul kembali. Mereka memiliki jumlah yang cukup besar dan kemampuan untuk menarget wilayah perkotaan,” katanya.

“Dugaan saya mungkin kita akan terus melihat kejadian serupa,” katanya.

Sementara itu, sebuah pesan audio yang mengaku berasal dari juru bicara ISIS meminta para pengikutnya untuk melancarkan serangan di Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Australia, Irak, Suriah, Iran, dan Filipina selama bulan Ramadhan, yang dimulai pada akhir Mei.

Klip audio tersebut diunggah pada hari Senin di saluran ISIS di Telegram, sebuah aplikasi pesan terenkripsi. Pesan itu dikaitkan dengan juru bicara resmi kelompok militan tersebut, Abi al-Hassan al-Muhajer. Keaslian rekaman itu tidak bisa diverifikasi, tapi suaranya identik dengan pesan audio sebelumnya yang konon berasal dari juru bicara.

Perhatian khusus AS terhadap terorisme di kawasan Asia Tenggara di satu sisi membantu kekuatan militer negara-negara di kawasan ini, terutama terkait informasi intelijen. Tapi di sisi lain, menimbulkan kekhawatiran konflik akan semakin meluas, lebih-lebih jika AS ikut campur terlalu dalam. Timur Tengah adalah pelajaran nyata di mana konflik tak kunjung berakhir manakala negara-negara adidaya seperti AS ikut campur. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here