Geostrategi AS di Timteng

Amerika Berubah Sikap Soal Kemerdekaan Palestina

0
176
Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu mengadakan jumpa pers di Gedung Putih, Rabu (15/2/2017) Foto: Reuters

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan perubahan sikap soal kemerdekaan Palestina dan penyelesaian ‘dua negara’ saat melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Rabu (15/2/2017) di Washington.

Dalam pertemuan pertamanya sebagai Presiden AS dengan Netanyahu, Donald Trump menarik keterikatan Amerika Serikat terhadap penyelesaian dua negara atas sengketa Israel dan Palestina, yang selalu menjadi sandungan kebijakan Washington di Timur Tengah.

Trump mengaku akan menerima apa pun perdamaian yang disepakati Israel dengan Palestina, baik dua maupun satu negara. “Saya setuju saja dengan kedua pilihan itu,” kata Trump, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis (16/2).

Trump juga berjanji untuk bekerja menuju kesepakatan damai antara Israel dan Palestina namun dia mengatakan akan membutuhkan kompromi di kedua sisi, meninggalkannya hingga para pihak sendiri yang akhirnya memutuskan ketentuan perjanjian apapun.

Kontan saja, pernyataan sangat politis Trump, yang dapat diartikan sebagai tidak mendukung kemerdekaan Palestina, disambut gembira oleh kelompok Garis Keras Israel. Mereka senang karena Trump tidak mendukung solusi ‘dua negara’, yang selama ini menjadi frasa diplomatik bagi Palestina menuju negara merdeka.

Dalam momen pertemuan tersebut, Presiden Trump menyambut Netanyahu di atas karpet merah yang terbentang menuju  Gedung Putih. Kedua pemimpin tersenyum, berjabat tangan dan mengobrol ramah sebelum menuju ke dalam, didampingi Ibu Negara Melania Trump dan istri Netanyahu, Sara.

Partai garis keras Jewish Home, yang merupakan anggota koalisi pemerintahan Netanyahu, mengaku berjasa dalam hal ini. Merekalah yang telah mendesakkan agenda tersebut kepada Netanyahu menjelang keberangkatannya ke Amerika Serikat.

Sementara, ketua Partai Jewish Home Naftali Bennet, seorang yang merekomendasikan agar Israel merampas tanah di Tepi Barat, yang seharusnya menjadi wilayah negara Palestina di masa depan, juga senang dengan pernyataan Trump.

“Bendera Palestina telah diturunkan dan diganti dengan bendera Israel,” kata Bennett di akun Facebook-nya.

Netanyahu, yang pernah mendukung kemerdekaan Palestina secara bersyarat pada tahun 2009, memang tidak secara eksplisit menolak berdirinya negara Palestina saat bertemu Trump. Tapi sangat kelihatan dia menghindari penggunaan istilah “dua negara” dan kata Palestina dalam pidatonya.

“Netanyahu mendapatkan apa yang dia mau dari presiden AS. Satu negara, dua negara, apa bedanya? Ini adalah apa yang diinginkan Netanyahu dari sang presiden, orang yang sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan sendiri,” kata pengamat politik, Sima Kadmon.

Pejabat senior Gedung Putih, sehari sebelum pertemuan kedua pemimpin negara memberikan sinyal bahwa akan ada pergeseran kebijakan Trump terkait hubungan Palestina-Israel. Dia mengatakan bahwa perdamaian tidak harus memerlukan negara Palestina.

Palestina Khawatir

Pihak Palestina mengkhawatirkan pernyataan Donald Trump. Mereka memperingatkan Trump bahwa langkah tersebut akan merusak kredibilitas AS secara serius.

Dalam pernyataan tertulis, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menegaskan keterikatannya pada penyelesaian ‘dua negara’ dan meminta Israel menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di wilayah Palestina.

Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan AS yang meninggalkan gagasan negara Palestina yang berdaulat berdampingan dengan Israel, mengatakan “tidak ada alternatif.”

Martin Indyk, mantan negosiator Timur Tengah di bawah pemerintahan Obama dan sekarang aktif di Brookings Institution sebuah lembaga think-tank di Washington, mengatakan bahwa sikap Trump menjauhkan Palestina dari kemerdekaannya. “Ini paku lain di peti mati dari proses perdamaian, yang sudah memiliki banyak paku,” kata Indyk mengibaratkan sikap Trump telah semakin menutup peluang tercapainya perdamaian.

Geostrategi Amerika di Timteng

Selama beberapa dekade, posisi AS dalam konflik Palestina-Israel adalah mendorong Israel dan Palestina bekerja melalui negosisiasi langsung demi berdirinya dua negara yang berdampingan. Sikap ini memberi peluang bagi Palestina untuk mendirikan negara merdeka.

Solusi dua negara menjadi basis perundingan damai di Oslo dan Camp David. Namun, sejak AS dipimpin Trump AS terkesan ingin menunjukkan dukungan yang lebih besar kepada Israel. Sikap ini berbeda dengan pendahulunya Barack Obama.

Namun, sejatinya secara geostrategi kepentingan AS dalam menjaga perdamaian antara Palestina dan Israel adalah menjaga hubungan dengan dunia Arab. Mengingat selama beberapa dekade Arab atau Timur Tengah adalah wilayah sangat penting yang harus di jaga AS terkait sumber minyak bumi bagi kebutuhan industri AS yang begitu besar.

Maka cukup beralasan jika Donald Trump sekarang bersikap seperti itu. Hal ini karena adanya perubahan kebijakan geostrategi AS terhadap kawasan Timur Tengah. AS sudah tidak lagi menganggap Timur Tengah sebagai sumber bahan bakar minyak yang diperlukan bagi industri AS, selain ketersediaannya sudah sangat menurun, AS juga sekarang memiliki Shale Gas yang melimpah sebagai pengganti minyak fosil untuk kebutuhan bahan bakar industri dalam negeri di masa depan. Bukankah ini juga selaras dengan pernyataan-pernyataan Trump sebelumnya, yang terkesan “peduli amat” dengan kemanan wilayah Timur Tengah, karena AS akan lebih fokus “mengurusi” negaranya sendiri? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here