Anak Muda Kota Malang Gelar Aksi Peringati Peristiwa Talangsari 1989

0
201

Nusantara.news, Kota Malang – Jasmerah (jangan sekali zekali melupakan sejarah). Ucapan Bung Karno yang terkenal ini mendorong sekelompok anak muda di Kota Malang menggelar aksi di depan Kantor Pemerintah Walikota Malang pekan lalu,  memperingati peristiwa Talangsari yang terjadi 1989.

Atha Ginarsa, salah seorang peserta aksi mengatakan, dirinya  terpangil ikut aksi guna merawat memori akan peristiwa kemanusiaan, dengan harapan tidak lagi berulang.

“Sebab, setiap manusia berhak hidup, dan apabila ada salah, solusinya dberikan pendidikan dan pembinaan, bukan dihabisi seperti kasus Talangsari.” ujarnya kepada Nusantara.news di Kota Malang, Sabtu (4/2/2017)

Aksi ini, imbuh  Atha Ginarsa, bertujuan untuk mengingatkan seluruh khalayak bahwa masih ada kasus negara yang belum ditindaklanjuti.

Atha Ginarsa menuturkan, Talangsari adalah satu desa beriklim islam/pesantren yang jamaahnya dipimpin oleh Anwar Warsidi.

Konflik Talangsari berawal ketika kelompok Anwar Warsidi mengambil sikap kritis terhadap rezim Orde Baru terkait perekonomian  yang hanya dikuasai oleh segelintir oligarki (pengusaha-politisi).

Karena kritis, Kelompok Warsidi dianggap sebagai kelompok Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Akibatnya, pada hari Minggu, 5 Pebruari 1989 terjadi penyergapan yang dilakukan oleh aparat dari Kodim Lampung Tengah terhadap 6 orang pemuda dari kelompok pengajian yang sedang bertugas ronda. Mereka ditangkap dan mendapat perlakuan tidak seharusnya.

Pada Selasa,7 pebruari 1989, di bawah Komando Kol. Hendro Priyono (saat itu Danrem 043/gatam) menjadi puncak konflik antara warga dan tentara.

Data korban yang bisa diidentifikasikan berjumlah 246 orang dengan perincian 94 orang berusia di bawah atau sama dengan 17 tahun dan 152 orang di atas 17 tahun, 119 orang berjenis kelamin laki-laki dan 127 berjenis kelamin perempuan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here