‘Ancaman’ Bonus Demografi, Ini yang Dilakukan Jatim

0
163
Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Foto: Humas dan Protokol Pemprov Jatim)

Nusantara.news, Surabaya – Bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif (15-64) tahun mencapai 69,60 persen akan menjadi bencana manakala sumber daya manusia usia produktif itu tidak siap.

Sadar akan hal itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengantisipasinya dengan melakukan pengembangan pendidikan vokasi untuk mencetak tenaga kerja terampil. Jika tidak segera dilakukan, jumlah pengangguran akan semakin meningkat dan dipastikan akan menimbulkan berbagai persoalan, khususnya di Jawa Timur.

“Kami akan menggandeng beberapa Perguruan Tinggi Negeri untuk mengampu beberapa SMK serta menyiapkan pelatihan dan kurikulum berbasis industri bagi siswa,” terang Gubernur Jawa Timur Soekarwo, saat berbicara di Rapat Kerja Rektor dan Wakil Rektor PTN se-Jawa Timur di Auditorium Rektorat, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Selasa (17/10/2017).

Pakde Karwo -sapaan Soekarwo- menegaskan tenaga kerja baru di Jawa Timur pada tahun 2018 diperkirakan mencapai 326.629 orang. Jika tidak segera disiapkan penanganannya dari sekarang, maka tenaga kerja baru tidak terdidik atau unskilled bisa menjadi problem pengangguran.

“Mereka bisa menjadi beban dan potensi munculnya kerawanan kriminalitas di perkotaan,” jelasnya.

Ledakan penduduk akibat Bonus Demografi, 2019

Tak hanya itu, problem saat ini, dari 1.663 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Jawa Timur sebanyak 1.294 SMK belum bersertifikat. Keberadaan PTN juga diharapkan bisa mengampu dan memberi pelatihan bagi guru-guru SMK sehingga standar lulusannya naik menjadi standar internasional.

“Kami akan MoU dengan PTN dan ini akan di mulai Tahun 2018,” katanya.

Pakde Karwo mencontohkan, beberapa kerjasama dengan PTN di antaranya bidang kesehatan dengan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dan pelatihan di BLK milik Unesa di Kampus di Jalan Ketintang. Pakde Karwo juga mencontohkan, di bidang kesehatan misalnya, bidan bisa belajar sesuatu yang unik seperti akupuntur.

“Yang unik seperti ini bisa dikembangkan pada tataran internasional,” pintanya.

Terkait itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus mengembangkan pendidikan program vokasi yang memiliki konsep link and match antara pelaku industri dengan SMK. Dengan konsep itu, pelajar SMK bisa memiliki akses untuk belajar langsung di perusahaan-perusahaan.

“Untuk program ini telah berjalan,” jelas Pakde Karwo.

Di antaranya program magang siswa SMK di beberapa minimarket serta pelatihan guru-guru SMK bidang kelistrikan bekerja sama dengan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB). Kerja sama lainnya dilakukan dengan PT Samsung melalui Samsung Tech Institute yang membuka kelas Samsung di 20 SMK di Jawa Timur.

Kerjasama untuk peningkatan kualitas SDM juga dilakukan dengan menggandeng 29 perusahaan Jerman. Melalui program magang siswa SMK bisa belajar langsung di perusahaan, sesuai keahliannya. Peningkatan kualitas SDM dengan mewujudkan tenaga kerja terampil, juga merupakan bagian dari upaya menaikkan pendapatan per kapita masyarakat Jawa Timur.

Untuk diketahui, saat ini pendapatan per kapita di Jawa Timur sekitar 3.570 USD. Program tersebut juga bertujuan agar Provinsi Jawa Timur tidak terjebak dalam middle income trap. Oleh karena itu, industri yang memberikan nilai tambah tinggi harus didukung dengan kualitas SDM yang baik. Targetnya, tahun 2019 pendapatan per kapita bisa meningkat, menjadi sebesar 4.622 USD.

“Ini harus dipikirkan serius, jika tidak pendapatan ini bisa terus turun,” pesan Pakde Karwo.

Sementara, Ketua Forum Paguyuban Rektor dan Wakil Rektor PTN, Mohammad Hasan mengatakan, pemerintah daerah dan perguruan tinggi perlu bersinergi untuk membangun daerah terutama soal pendidikan sebagai bagian dari program SDG’s. Melalui program itu, diharapkan lahir gagasan soal pendidikan.

“Indikator SDG’s di Jatim menunjukkan sudah hampir terpenuhi dan hampir melampaui nasional, jadi sinergi ini sangat diperlukan,” kata Rektor Universitas Negeri Jember itu.

Rapat Kerja Rektor dan Wakil Rektor PTN se-Jawa Timur itu dihadiri beberapa rektor PTN, di antaranya Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono, Rektor Unair Surabaya Prof. Dr. Moh. Nasih, Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Abd A’la, serta para wakil rektor PTN se-Jawa Timur.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here