Ancaman Intel Asing

0
383

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan mengingatkan ancaman operasi intelijen asing di Indonesia yang membahayakan keselamatan dan keutuhan negara.  “Ada dua operasi yang harus diwaspadai, pertama black ops intelligent, kedua psycho ops intelligent,” kata Budi di acara “Halaqah Nasional Alim Ulama se-Indonesia” di Jakarta, 13 Juli 2017 kemarin.

Black ops intelligent adalah operasi intelijen yang dilakukan negara, lembaga, atau organisasi asing yang bertujuan untuk melemahkan dan mengganti rezim pemerintahan. Hal itu dilakukan melalui infiltrasi, kudeta, dan lain sebagainya. Sedangkan psycho ops intelligent adalah operasi intelijen adalah menyebarkan informasi dengan indikator tertentu yang menyesatkan terhadap target atau kelompok tertentu.

Informasi hoaks untuk mempengaruhi emosi, motif, cara berpikir dan perilaku perorangan, kelompok, maupun pemerintah, itu sudah terjadi di Indonesia. Selain itu juga ada operasi intelijen di bidang ekonomi, seperti currency war untuk melemahkan mata uang.

Kepala BIN mengatakan, operasi currency war itu pernah terjadi ketika Indonesia mengalami saat krisis moneter 1998. Dengan operasi itu, negara adikuasa melemahkan mata uang Indonesia agar selalu bergantung pada mereka. Sekarang, Budi Gunawan menegaskan, perang mata uang itu juga kembali terjadi dengan skema berbeda, yakni operasi economic hit man.

Soal operasi intelijen asing yang bermain di Indonesia juga sudah pernah diingatkan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Di berbagai kesempatan, Gatot berkali-kali mengingatkan bahaya proxy war yang merupakan bukti nyata adanya (menurut istilah Panglima TNI) “tangan-tangan luar ikut bermain”.

Berapa banyak “tangan-tangan luar” itu yang bermain di negeri ini? Tentu tak ada data yang pasti. Namun, dulu Ryamizard Ryacudu pernah menyebutkan adanya 60 ribuan agen asing yang beroperasi di Indonesia. Mereka masuk dalam rangka perang modern  yang tidak selalu mengandalkan kekuatan senjata. Menurut Ryamizard, agen-agen itu melakukan adu domba di masyarakat, serta melemahkan pemerintah.

Angka 60 ribuan agen itu adalah agen yang secara fisik hadir di Indonesia. Belum lagi yang tidak hadir secara fisik, atau agen-agen intelijen yang bergerak di luar wilayah Indonesia dengan memanfaatkan sarana teknologi komunikasi mereka yang sangat canggih.

Artinya, jika pejabat-pejabat yang kompetensinya terkait keamanan negara tersebut sudah angkat bicara secara terbuka, pastilah persoalannya sangat serius. Artinya, ancaman itu nyata adanya, bukan semata paranoia kekuasaan yang kelewat sensitif.

Bagaimana kita mendudukkan masalah ini? Dalam pandangan kita, kehadiran puluhan ribu spion asing itu atau sekian ribu lagi yang beroperasi dari luar Indonesia, adalah lumrah belaka.

Sebab, hubungan antarnegara, bahkan hubungan antarmanusia, senantiasa dilandasi semangat kompetisi di segala bidang. Negara yang satu akan mengintip negara lainnya, untuk dipejari kelemahan maupun kekuatannya. Hasil pengintaian itu akan sangat mempengaruhi kebijakan bilateral.

Karena itu, kebijakan hubungan bilateral tidak pernah sama antara negara yang satu dengan negara yang lain. Hubungan antara satu negara dengan negara yang lebih kuat, berbeda spektrum dan perspektifnya dengan negara yang lebih lemah.

Jadi, jangankan Indonesia, Amerika Serikat, Jepang atau negara-negara Eropa juga tidak luput dari pengintaian spionase asing. Beberapa waktu lalu, badan intelijen Amerika Serikat, CIA dan FBI mengakui bahwa pertahanan mereka berhasil dijebol oleh jaringan intelijen Rusia.

Jadi soal ini bukanlah gejala baru yang terkait dengan momentum tertentu saja, tapi sudah berlangsung sejak dahulu kala dalam berbagai bentuk. Tidak ada satu negara pun yang terbebas dari aksi intai-mengintai ini.

Karena itu kehadiran intelijen asing di Indonesia, sebenarnya, tidak perlu dipersoalkan. Sebab, kalaupun dipersoalkan, toh tidak ada cara untuk menghambat mereka masuk ke sini. Sebab mereka pasti tidak menyebut pekerjaannya sebagai intel ketika hendak masuk ke Indonesia. Mereka datang sebagai turis, aktivis LSM, wartawan, agamawan, diplomat dan sebagainya.

Persoalan yang harus kita gugah adalah bagaimana menyambut maraknya aksi telik sandi intel asing itu.

Setiap intelijen selalu bekerja atas dasar prinsip –mengutip misi Australian Signals Directorate, lembaga intelijen Australia yang bertugas di bidang sistem  komunikasi dan keamanan jaringan komputer pemerintah— “reveal their secrets, protect our own”, bongkar rahasia mereka, lindungi punya kita. Jika tidak begitu, ya, bukan intelijen namanya.

Sebab itu, lumrah saja –bahkan sudah seharusnya—intelijen membongkar apa pun rahasia orang lain atau negara lain untuk kepentingan negara mereka. Intelijen Indonesia pun harus melakukan hal serupa. Jadi kalau ada rahasia kita yang dibongkar oleh intelijen asing, jangan dipandang sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan kita. Karena memang itulah tugas mereka. Kitalah yang harus mengaca diri, mengapa tidak mampu melakukan protect our own.

Kalau para petinggi pertahanan dan keamanan negara mensinyalir ada operasi intelijen asing yang membahayakan negara, ya , bikinlah mekanisme “protect our own” kita tidak bisa ditembus. Lebih hebat lagi kalau bisa melakukan “reveal their secrets”.

Tidak ada intelijen yang bisa bekerja sendiri. Sejauh dia tidak bisa mengajak “orang dalam” untuk membocorkan rahasia, mereka hanya akan mendapat informasi “terbuka”. Karena itu, jadikanlah orang-orang pemegang informasi rahasia di negeri ini benar-benar bisa mengunci mulutnya. Entah itu di BIN, TNI, Polri, kejaksaan, Istana, kementerian dan termasuk “all the president’s men”.

Kalau masing-masing tahu tugasnya, “relatif” tidak ada rahasia akan terbongkar. Dikatakan relatif, karena dengan kemajuan teknologi informasi, apa lagi sih yang jadi rahasia di muka bumi ini.

Jadi, janganlah terlalu galau, karena kegalauan itu justru menunjukkan Anda sudah berhasil dibobol.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here