Ancaman Populisme Bagi China: Sudut Pandang Geopolitik dan Geoekonomi (2-habis)

0
244

Seiring dengan kemajuan ekonomi yang diraih, China sering kali dikritik oleh para ekonom terkait  pratik-praktik perdagangan yang dinilai jauh dari prinsip-prinsip fair trade.

Beberapa di antaranya adalah devaluasi mata uang Yuan/RMB yang kerap tidak mengacu pada nilai yang sesungguhnya, hal ini berakibat pada neraca perdagangan luar negeri yang merugikan mitranya.

China juga dinilai ‘menghalalkan’ praktik pencurian kekayaan intelektual, proteksionisme dan favoritisme untuk pengusaha-pengusaha tertentu. Faktor-faktor inilah yang kerap memunculkan protes dari berbagai negara yang selama ini menjadi sahabat dekat China, termasuk AS. Praktik-praktek semacam itu dianggap merugikan negara-negara mitra dagangnya.

Lima puluh persen ekonomi China sudah berada di tangan swasta, artinya pengendalian negara terhadap perekonomian sebatas 50 persen dan ketergantungan terhadap pasar internasional mulai siginifikan sehingga ekonomi China sudah menjadi bagian dari sistem keuangan dunia.

China baru dua dasawarsa terlibat dalam sistem keuangan global, sementara sistem kapitalisme ini diciptakan oleh AS dan negara-negara Barat. Dilantiknya Presiden Donald Trump pada 20 Januari 2017 tentu saja merupakan ancaman nyata bagi keperkasaan ekonomi China.

Trump memprotes keberadaan China: Amerika dapat apa?

China telah berhasil menjadi pemimpin dunia setelah AS melewati krisis ekonomi dengan apa yang disebut American Bubble, dimana terjadi kredit macet pada sektor properti secara signifikan. Hal ini menimbulkan hancurnya Lehman Brothers yang merupakan soko guru korporasi Yahudi di Amerika selain Rockefeller.

China membantu AS karena likuiditas saat itu sangat baik sehingga mampu membeli SUN dari AS. Berikutnya menjadi nomor satu di WTO dan menjadi pendonor di IMF dan World Bank. Dominasi China ditunjukkan dengan menggantikan peran Prancis pada pembangunan wilayah Afrika. Keberhasilan China inilah yang menjadi isu pidato utama kemenangan Trump, dimana AS menuntut dengan kata-kata populer “Apa yang didapat Amerika 20 tahun terakhir?”

AS mendapat apa? AS sudah 20 tahun mendorong negara-negara di dunia untuk menjadi demokratis. “Apa yang kita dapat? Selama ini kita menjadi polisi dunia dan mendorong demokrasi. Orang AS memakai senjata dan dolar dalam 20 tahun ini berjuang di Irak, Libya, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Tolong tanya, AS dapat apa? Pengusaha kita tidak berani ke Timur Tengah, bahkan pada Olimpiade di Brazil tidak berani mengibarkan bendera AS. Lebih parah lagi, mengaku warga AS di Timur Tengah sama dengan ‘bunuh diri’. Tolong tanya, kita USA dapat apa?” kata Trump.

“AS berseteru dengan Vladimir Putin (Rusia) dan China. Kita menguasai teknologi, tapi di WTO kita tidak bisa mengalahkan China. AS meninggalkan WTO, dan mendirikan TPP (Trans Pacific Partnership). Lihat China selama 20 tahun ini? Mereka menduduki kursi No. 1 di WTO. Mereka bahkan membeli 80% produksi baja dunia, 40% minyak dan gas bumi dunia, 70% kacang-kacangan dunia, 80% emas dan tembaga dunia, China membeli kapal induk dan membangun pusat industri pertahanan. China juga membeli misil dari Israel, pesawat dari Jerman, dan wine dari Prancis,” kata Trump.

“Mereka membeli bahan-bahan itu semua dengan USD, dan bahkan uang Yuan/RMB sebagai mata uang dunia, karena USD mereka kuasai lebih besar daripada kita sendiri. Afrika sudah mereka rebut karena Prancis melemah. China makin berjaya, maka pilihlah saya, akan saya ubah dunia dan jaya kembali AS,” tandas Trump.

Ternyata memang Trump dipilih oleh rakyat AS, walaupun berujung protes dari masyarakat. Dunia meyakini Trump Effect (populisme) akan mempengaruhi skema perubahan dunia, begitu juga dengan British Exit (Brexit), akan berdampak pada dunia, termasuk Indonesia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here