Ancaman Populisme Trump Memudar, Perekonomian Dunia Meningkat

0
44
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jin Ping

Nusantara.news Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat pada November 2016 lalu, disertai kekhawatiran menurunnya perekonomian dunia. Trump dikenal sebagai tokoh populis yang akan membawa AS, negara dengan ekonomi terkuat di dunia, ke arah proteksionisme ekonomi. Trump juga telah dikhawatirkan bakal mengancam globalisasi ekonomi. Tapi tampaknya tidak semua terbukti, nyatanya Trump tidak seperti seperti apa yang dikhawatirkan. Secara umum perekonomian mengalami kenaikan, zona Euro juga mulai membaik.

Sikap Trump yang keras terhadap perdagangan dengan China misalnya, yang oleh Trump dianggap merugikan, karena AS mengalami defisit, lambat laun mereda. Trump tidak juga menindaklanjuti janji untuk menaikkan pajak bagi barang impor dari China. Malah AS dan China memperkuat kerja sama  bidang perdagangan, diawali dengan momentum pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping pada bulan April lalu.

Pemerintah Trump menarik diri dari Trans-Pasific Partnership (TPP), kemudian akan meninjau ulang perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara (NAFTA). Trump juga berencana melakukan negosiasi ulang perdagangan dengan negara-negara yang masuk dalam daftar sebagai “negara curang”, termasu Indonesia.

Namun belakangan tampaknya ada pelunakan yang cukup signifikan dari sikap AS tentang apa yang harus dianggap sebagai perdagangan bebas dan adil dari sudut pandang ekonomi AS.

Trump juga telah mengurangi retorika yang diarahkan kepada negara-negara di mana AS mengalami defisit perdagangan sekaligus mengurangi ancamannya terhadap NAFTA.

Sebagaimana dilansir The Guardian, Rabu (31/5), menurut lembaga pemeringkat kredit Moody’s Investors Service perekonomian memprediksi negara-negara G20, yang mencakup 78% GDP dunia, tumbuh lebih dari 3% pada tahun 2017 dan 2018, atau naik dari 2,6% pada tahun 2016.

“Secara keseluruhan, pertumbuhan global terlihat semakin baik dengan data yang menunjukkan kenaikan di sejumlah negara emerging market,” kata Madhavi Bokil dari Moody’s Investors Service.

 

Pertumbuhan ekonomi meningkat di negara maju

“Momentum ini akan terus berlanjut. Kecuali Inggris, pemulihan ekonomi negara maju juga meningkat,” katanya.

Moody’s menyimpulkan bahwa ancaman terhadap pemulihan ekonomi global yang dikhawatirkan secara luas beberapa bulan lalu tidak terjadi tahun ini.

Moody’s mencontohkan bahwa kemenangan Emmanuel Macron sebagai Presiden Prancis atas politisi sayap kanan Marine Le Pen telah menghilangkan risiko keluarnya Prancis sebagai anggota zona euro utama untuk meninggalkan area mata uang tunggal.

Tiga bulan lalu Moody’s pernah memperingatkan bahwa proteksionisme Trump dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pemulihan ekonomi global jika sampai memicu “perang dagang”.

“Kami memperkirakan ekonomi Inggris akan tumbuh sekitar 1,5% tahun ini, lalu melambat ke angka 1% pada tahun 2018 karena perlambatan investasi di tengah ketidakpastian terkait Brexit,” kata Bokil

Moody’s juga memperkirakan bahwa pasar negara berkembang bakal menambah peningkatan ekonomi global secara signifikan.

Perdagangan negara Asia meningkat tajam, sementara Brazil dan Rusia nampaknya mulai keluar dari resesi dan perlambatan ekonomi Meksiko tidak seburuk yang diperkirakan sebelumnya.

Pasar negara berkembang juga membaik

Namun, China cenderung melambat pertumbuhan PDB-nya dari 6,6% di tahun ini ke 6,3% pada tahun depan, dengan kenaikan suku bunga yang ditujukan untuk mengendalikan lonjakan utang di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here