Andakah Penyelamat Bank Muamalat Itu?

0
407
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk merupakan perusahaan publik yang listing di pasar modal namun non-tradable, sedang menanti pinangan investor untuk menambah modal.

Nusantara.news, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang berduka, kalau tak bisa disebut galau. Pasalnya, setelah Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 gagal diselamatkan, kini giliran PT Bank Muamalat Indonesia Tbk batal dibeli investor.

Ini memang tahun yang kurang menguntungkan bagai OJK, bagaimana tidak? Dua kali berturut-turut menghadapi kenyataan ‘gagal’ menyehatkan satu perusahaan asuransi dan satu bank syariah.

Batalnya investor PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk masuk ke Bank Mualamat lantaran masa berlaku perjanjian jual beli bersyarat (conditional share subscription agreement—CSSA) antara kedua belah pihak pada 31 Desember 2017. Sampai tenggat waktu tersebut, ternyata Minna tak bisa mendatangkan dana investasi sebesar Rp4,5 triliun.

Padahal Minna Padi sudah menunjukkan keseriusannya dengan menyetor down payment (DP) sebesar Rp1,7 triliun ke ascrow account bank pihak ketiga. Dana di ascrow account itu pun akhirnya terjebak dan tak bisa dieksekusi karena transaksi itu batal, sementara transaksi yang diperjanjikan belum dapat dieksekusi.

Dana di ascrow account hanya akan bisa dikembalikan ketika ada investor baru masuk dan menutup semua kebutuhan modal Bank Muamalat. Dengan demikian posisi Minna Padi tetap sebagai standby buyer yang telah membatalkan transaksinya.

Direktur Utama Mina Padi Djoko Joelijanto mengungkapkan pihaknya sebenarnya sudah mengajukan proses akuisisi kepada OJK. Namun, skema yang ditawarkannya ditolak oleh OJK. Waktu yang tersisa dari tenggat CSSA sendiri dinilai Djoko tidak cukup untuk mengajukan skema dengan struktur baru.

“Kami harus koordinasi dengan penunjang lainnya seperti auditor, KJPP sama bagian legal. Waktunya tidak mungkin untuk mengubah lagi,” terang dia.

Djoko mengaku belum tahu langkah selanjutnya yang akan dilakukan pihaknya. Saat ini, ia mengaku tengah menunggu kepastian dari pemegang saham Bank Muamalat saat ini. Maka tamat lah niatan sang kodok Minna Padi yang beraset hanya Rp478 miliar yang akan mengakuisisi sang kerbau Bank Muamalat yang beraset Rp60 triliun.

Dengan demikian dana DP investor sebesar Rp1,7 triliun tersebut pun terjebak di balik cerita gagalnya sang kodok mengakuisisi sang kerbau. OJK akan mengembalikan dana ascrow account milik Minna Padi begitu ada investor baru yang masuk.

Lantas DP yang dititipkan lewat Minna Padi di ascrow account itu milik siapa kah?

Sempat beredar nama Lippo Group di belakang Minna Padi, namun belakangan isu tersebut dibantah OJK. Ternyata ada nama baru yang memang belum di kenal di lingkungan perbankan dan sangat serius masuk ke Bank Muamalat.

Djoko mengaku uang yang disetorkan untuk kebutuhan CSSA kala itu merupakan uang investor. Salah satu investor di balik rencana akuisisi Bank Muamalat lewat Mina Padi adalah Setiawan Ichlas, pengusaha tambang asal batu bara.

Saat ini, Setiawan juga tercatat menjadi salah satu pemilik Mina Padi lewat pembelian saham yang dilakukannya pada Oktober 2017.

Inilah daftar pemegang saham eksisting Bank Muamalat, dengan pemegang saham pengendali Islamic Development Bank (IDB).

Masalah Bank Muamalat

Sebenarnya ada apa dengan Bank Muamalat sehingga harus mendatangkan investor baru? Bukan kah investor eksisting hari ini juga merupakan investor besar dan kuat dari Timur Tengah?

Tak bisa dipungkiri, hadirnya Minna Padi karena Bank Muamalat terjerat kredit macet yang lumayan serius. Bank Muamalat mengalami perburukan kualitas kredit yang ditunjukkan dengan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing–NPF) yang berada di atas ambang batas yang ditetapkan OJK sebesar 5%.

NPF Bank Muamalat pada September 2017 sudah dilevel 4,54%, angka itu sudah jauh menurun dibandingkan 7,11% pada 2015. Sementara rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio—CAR) Bank Muamalat sebesar 11,58%, atau lebih rendah dari syarat minimum konsesi Bassel III yakni minimum 12%. Padahal tahun sebelumnya CAR Bank Muamalat masih di posisi 12,75%, sepertinya terjadi percepatan perburukan modal.

Memburuknya permodalan Bank Muamalat disebabkan oleh meningkatnya NPF, sehingga bank itu harus memakan modal untuk menumpuk cadangan sebesar NPF yang di alami.

Karena itu, Bank Muamalat butuh segera untuk disehatkan, tapi faktanya baru saja calon investor batal untuk menyuntik dana Rp4,5 triliun. OJK sendiri mengilustrasikan dengan masalah yang dihadapi Bank Muamalat, untuk dapat dikatakan sehat kembali bank syariah pertama di Indonesia itu membutuhkan dana sedikitnya Rp8 triliun.

Persoalannya, apakah masalah yang dihadapi Bank Muamalat merupakan masalah sistemik atau bukan?

Bank Indonesia (BI) menilai, persoalan Bank Muamalat terkait dengan kinerja keuangannya mulai dari masalah kekurangan modal sampai dengan persoalan kredit bermasalah dianggap masih tahap wajar dan belum masuk dalam tahap pengawasan khusus oleh regulator.

Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto menyatakan jika dilihat dari size, persoalan Bank Muamalat cenderung kecil bila dibandingkan dengan bank besar. Jika dibandingkan dengan PT Bank Mandiri Tbk atau PT Bank Rakyat indonesia Tbk yang mengalami itu mungkin menjadi sistemik. Dengan demikian, persoalan Bank Muamalat ini tidak akan berdampak siginifikan terhadap stabilitas sistem keuangan nasional.

Penyataan Erwin tersebut dalam kapasitasnya BI sebagai anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Menurut dia, seharusnya persoalan Bank Muamalat ini bisa segera disikapi oleh regulator perbankan. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan bagi KSSK untuk dibahas di dalam forum terkait dengan permasalahan yang tengah dihadapi.

“Tapi ini kalau dilihat dari size-nya tidak termasuk yang mengganggu stabilitas sistem keuangan. Tapi kalau Bank Muamalat mempunyai nilai yang bersejarah dan lain-lain bisa saja dilaporkan. Saya yakin itu pasti ada penyelesaiannya,” ucapnya.

Sikap manajemen Bank Muamalat di bawah komando Dirut Endi PR Abdurahman yang kurang prudent dalam menyalurkan pembiayaan.

Salah satu penyebab naiknya NPF Bank Muamalat adalah pembiayaan modal kerja kepada PT Rockit Aldeway dengan plafon  Rp100 miliar. Dropping dilakukan pada bulan November 2015 sebesar Rp100 miliar rupiah dan langsung macet seketika pada bulan berikutnya yaitu Desember 2015. Pembiayaan itu mengalami gagal bayar di bulan pertama (first payment default). Hingga Agustus 2016  sampai sekarang, debitur tersebut tercatat tidak pernah melakukan pembayaran sepeserpun.

Berikutnya adalah kasus pembiayaan kepada PT Bintang Jaya Proteina (BJP) dan  PT Sinka Sinye Agrotama senilai Rp100 miliar. Selain macet pada bulan keempat, kedua anak perusahaan Sujaya Group ini ternyata merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang peternakan dan industri pakan Babi.

Kalau ini benar, maka manajemen Bank Muamalat selain mengabaikan prinsip-prinsip kehati-hatian dalam tata kelola perbankan syariah, juga telah melanggar syariah karena membiayai peternakan babi.

Perlu tambahan modal

Ketua OJK Wimboh Santoso membantah nasib penambahan modal Bank Muamalat kian tak jelas. Menurutnya Pemegang Saham Pengendali (PSP) Bank Muamalat sejauh ini masih menyatakan komitmennya untuk menambah modal bank syariah tertua di Indonesia tersebut.

Wimboh bahkan mengaku belum menerima surat pengunduran diri Minna Padi sebagai standby buyer Bank Muamalat. Tambahan pula pemegang saham pengendali juga masih kuat dan masih mau menyuntikkan modal ke Bank Muamalat.

“Kalau ada bank yang membutuhkan tambahan modal, itu yang kami minta pasti ke pemegang saham pengendali, apakah mereka kemudian mau suntik sendiri atau cari investor lain. pengendali ini punya opsi, mau suntik. Sampai saat ini mereka juga belum sampaikan ke kami untuk mundur (tidak jadi suntik modal),” terang Wimboh beberapa waktu lalu.

Saat ini, menurut Wimboh, Bank Mualamat berada dalam kondisi yang sangat baik, terutama dari sisi likuiditas. Hanya saja, Wimboh mengakui, Bank Muamalat sedang menghadapi pemburukan kualitas kredit yang ditunjukkan dengan rasio pembiayaan bermasalah yang berada di atas ambang batas yang ditetapkan OJK sebesar 5%.

“Ada radang-radang sedikit. NPF-nya sudah melebih threshold, ya kami minta setoran modal,” demikian Wimboh.

Padahal, OJK sering mewanti-wanti perbankan untuk menjaga rasio CAR di atas 12%. Kendati ambang batas CAR ditetapkan OJK sebesar 8%, tetapi perbankan diwajibkan untuk menambah sejumlah cadangan modal sesuai dengan ketentuan Bassel To Accord III yang berlaku internasional.

Terkait permintaan penambahan modal OJK, Bank Muamalat pun sebenarnya sudah mengumumkan rencana untuk menambah permodalan sejak tahun lalu melalui penerbitan saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Namun, proses tersebut hingga kini masih tertunda.

Pertanyaannya, adakah calon investor yang kredibel dan bersedia menyetorkan sejumlah dana yang dibutuhkan untuk menyelamatkan Bank Muamalat? Mestinya ada, tapi mungkin masih sembunyi, atau masih malu-malu, atau bahkan menunggu harganya lebih rendah lagi.

Siapakah dia? Bisa saja BUMN keuangan, bisa juga investor swasta, Paytren kelolaan Ustad Yusuf Mansur menyatakan berminat atau bahkan bisa juga investor asing, dan boleh jadi para pemegang saham pengendali.

Atau mungkin Anda?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here