Aneh, Kuota Habis Ribuan Ton Garam Impor Masih Berdatangan

0
282
Garam Impor

Nusantara.news, Surabaya – Efektivitas produksi PT Garam (Persero), salah satu BUMN yang bergerak di bidang produksi garam, kerap jadi sorotan terkait kekurangan stok domestik. Padahal ada indikasi permainan lain yang justru memberangus peran salah satu perusahaan plat merah ini untuk menyerap produksi garam rakyat, yakni permainan kuota impor.

Keluhan ini diungkap Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jawa Timur, M. Hasan, dan meminta pemerintah membatasi masuknya garam impor, apalagi ketika garam rakyat memasuki persiapan panen.

Hasan mengatakan, impor garam harus mendapat rekomendasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Data yang dirilis HMPG, kuota izin impor garam konsumsi sebanyak 226 ribu ton. “Dari kuota izin impor garam konsumsi itu, tahap awal baru terealisasi 75 ribu ton. Rinciannya, 20 ribu ton dari India dan 55 ribu ton dari Australia,” terangnya kepada wartawan, Senin (13/3/2017).

Impor tersebut untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi di dalam negeri. Sebagaimana diketahui, produksi garam 2016 lalu mengalami gagal panen akibat anomali cuaca. Kondisi ini tidak dipermasalahkan oleh HMPG. Persoalannya, HMPG juga meminta agar realisasi impor garam konsumsi tersebut bisa segera dilakukan paling lambat April. “Masa-masa itu sudah persiapan panen garam rakyat,” cetusnya.

Karena itu, Hasan mengaku was-was dengan informasinya bongkar muat garam impor yang kini masih berlangsung di Terminal Jamrud Tanjung Perak, Surabaya. Apalagi jumlahnya tidak main-main. Mencapai 26.765 ton. “Padahal, berdasarkan kuota yang ditetapkan KKP semestinya tidak ada lagi garam impor yang masuk. Kami menunggu hasil investasi KKP terkait itu,” bebernya.

Ia mengatakan meski garam industri, mekanisme pengajuan impor sendiri tidak jauh berbeda dengan garam konsumsi, yakni mengajukan rekomendasi dari KKP, kemudian izin impor berasal dari Kementerian Perdagangan sesuai pasal pengawasan UU 7/2016 tentang perlindungan dan pemberdayaan nelayan, pembudi daya ikan dan petambak garam.

Namun, Hasan khawatir, peraturan yang tidak ada ketentuan mengatur tentang keterlibatan pemerintah, khususnya ikut serta melakukan pengawasan impor garam industri memberi peluang bagi para perusahaan untuk bebas melakukan impor garam. “Bisa jadi itu yang dipakai acuan pabrik dalam mengimpor garam industri, tapi semestinya tidak bisa demikian, sebab kalau perusahaan bebas melakukan impor garam industri, maka peluang untuk merembes ke garam konsumsi besar,” katanya.

Sementara itu, PT Garam berencana meningkatkan produksi dengan memanfaatkan lahan tidur seluas 600 hektar di Madura. Kebijakan ini ditempuh untuk mendorong swasembada garam yang ditetapkan pemerintah. “Tahun ini kami menargetkan produksi garam sama dengan tahun lalu, yakni 400 ribu ton dan berharap dari pemanfaatan lahan tidur di Pulau Madura,” kata Direktur Utama PT Garam, Achmad Budiono.

Ia mengatakan, pihaknya telah menyiapkan dua langkah strategis dalam mendorong swasembada garam yakni dengan memanfaatkan lahan tidur di Pulau Madura, serta pelebaran dan pendalaman water intake di seluruh kolam (tambak) yang dimiliki PT Garam.

“Kami juga berharap tidak ada anomali cuaca untuk memenuhi realisasi target produksi tersebut, sebab di tahun 2016 realisasi produksi garam cukup jeblok, dan hanya mencapai 144 ribu ton,” katanya. Budiono mengatakan, untuk program pelebaran dan pendalaman water intake diharapkan air laut yang masuk ke tambak bisa lebih besar.

Direktur Pemasaran PT Garam, Ali Mahdi menambahkan telah melakukan percobaan produksi di Bipolo, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni dari 400 hektar lahan yang dimiliki, baru 15 hektar yang sudah diujicobakan dan hasilnya bisa memproduksi sekitar 500 ton garam.

“Uji coba produksi di NTT dilakukan karena kualitas garam di Bipolo jauh lebih baik jika dibandingkan di Madura. Rata-rata produksi di Bipolo bisa mencapai 100-120 ton per hektar, sedangkan di Madura hanya 60-70 ton per hektar. Demikian juga dengan waktu yang dibutuhkan di Bipolo jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan Madura,” katanya.

Oleh karena itu, Ali berharap PT Garam mampu mencapai target dengan produksi 400 ribu ton garam, ditambah serapan dari petani sebesar 300 ribu ton, dengan produksi dari petani rata-rata mencapai 2,8 hingga 3 juta ton per tahunnya.

Sayangnya, produksi itu akan sia-sia jika kebijakan impor garam tidak diatur dengan tegas oleh pemerintah. Selain rawan menjatuhkan harga, keutungan petani lokal juga bakal merosot jauh lantaran panen yang berlimpah masih harus menghadapi serbuan garam impor. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here