Cosmetic Development Laporan Keuangan Garuda (1)

Aneh, Mahata Beraset Rp10 Miliar Bisa Kasih Proyek Rp3,36 Triliun ke Garuda

0
383
PT Garuda Indonesia Tbk diduga melakukan cosmetic development laporan keuangan dengan mencatatkan penerimaan sewa wifi senilai Rp3,36 triliun selama 15 tahun ke depan dari PT Mahata Aero Teknologi di tahun 2018.

Nusantara.news, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (Garuda) 2018. Langkah itu sebagai tindak lanjut atas kabar adanya kejanggalan dalam laporan keuangan itu.

PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) ibarat menjadi penyelamat bagi laporan keuangan Garuda. Kerja sama yang masih bersifat piutang itu menjadi 'bedak' bagi laporan keuangan Garuda Indonesia 2018 yang kini catatkan laba.

Kejanggalan dimaksud sudah tentu merupakan financial engineering atau lebih dikenal juga cosmetic development laporan keuangan yang dilakukan manajemen untuk menyuguhkan laporan keuangan yang lebih cantik dari yang sesungguhnya.

Dari hasil pemeriksaan BEI dan OJK ditemukan beberapa kejanggalan laporan keuangan Gaeuda. Kejanggalan yang muncul ke permukaan seperti laporan keuangan minus menjadi positif, pengakuan pendapatan 15 tahun di tahun 2018, bahkan Mahata selaku pemberi proyek pada 2018 belum menyetor pendapatan sama sekali, tapi sudah diakui sebagai pendapatan.

Yang lebih mengejutkan, ternyata Mahata saat mengikat kontrak dengan Garuda usianya baru 11 bulan. Sebagai start up baru, Mahata juga tidak mengikuti tender dalam perikatan bisnisnya. Sejumlah kejanggalan lainnya muncul dalam pengakuan manajemen Garuda kepada BEI dan OJK.

Bahkan dari proyek Mahata kepada Garuda senilai US$239,94 juta atau senilai Rp3,36 triliun selama 15 tahun sampai akhir 2018 belum dibayar. Uniknya lagi Mahata yang memberi proyek senilai Rp3,36 triliun itu asetnya diketahui hanya Rp10 miliar. Masuk akal kah?

BEI sendiri telah memanggil manajemen Garuda Indonesia dan auditornya untuk menjelaskan mengenai transaksi dengan Mahaka. Lalu BEI juga telah bertemu dengan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) untuk meminta masukan. 

Selain itu BEI juga akan bertemu dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) selaku pembuat standarisasi penyajian laporan keuangan. Intinya BEI akan fokus dengan kerjasama yang masih bersifat piutang itu namun sudah diakui sebagai pendapatan.

Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, pihaknya pada 30 April 2019 lalu sudah melakukan hearing dengan manajemen Garuda Indonesia dan pihak auditornya. Sementara hari ini BEI sudah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan meminta penjelasan dari Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).

"Kita akan ambil sikap hal apa yang akan di-follow up atas hasil monitoring kita," ujarnya di Gedung BEI akhir pekan  lalu.

Setelah itu, BEI akan meminta penjelasan juga kepada IAI sebagai pembuat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). BEI juga fokus menghimpun dokumen-dokumen untuk memperkuat monitoring.

Ketika semua proses berjalan, BEI akan menentukan hasil monitoringnya. BEI selaku wasit pasar modal bisa meminta manajemen Garuda Indonesia mengubah penyajian laporan keuangan hingga memberikan sanksi. Itu jika ditemukan kesalahan dalam penyajiannya.

"Apapun hasilnya, misalnya penyajian apakah harus disesuaikan atau tidak atau kalau perlu sanksi ya kita beri sanksi. Makanya kita tunggu tanggapan dari mereka dulu. Kita selesaikan prosesnya dulu dan akan kita perlakukan sama dengan yang lain. Kalau ada yang perlu disesuaikan ya akan disesuaikan," demikian ungkap Nyoman Yetna.

Nyoman menegaskan, BEI akan memperlakukan sama Garuda dengan emiten lainnya di pasar modal. Jika ada kesalahan dalam penyampaian laporan keuangan, maka BEI akan menjatuhkan sanksi.

"Dalam hal apapun yang disampaikan di RUPS ada subtansi penyampaiannya. Kalau ada yang harus disesuaikan ya memang wajib disesuaikan. Dan kita lakukan hal yang sama dengan yang lain jadi bukan karena Garuda-nya," tegas Nyoman.

Manajemen Garuda sendiri akhirnya buka suara tentang perjanjian kerja sama dengan Mahata menyusul arahan dari BEI yang meminta manajemen untuk menjelaskan transaksi tersebut.

Manajemen Garuda mengakui proses bermitra dengan Mahata tanpa melalui tender. Jika Mahata tak mampu bayar, Garuda juga berpotensi kehilangan piutangnya yang justru nanti akan berubah menjadi beban dalam laporan keuangan.

VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menjelaskan, kerja sama dengan Mahata merupakan upaya bagi manajemen untuk mencari pendapatan tambahan (ancillary). Caranya dengan meningkatkan pelayanan bagi penumpang melalui penyediaan konektivitas internet.

"Itu kan pemasangan wifi, poinnya bagian dari Garuda Grup meningkatkan layanan ke penumpang. Penumpang akan mendapatkan layanan khususnya wifi tanpa membayar. Tapi itu jadi revenue tambahan buat kita," ujarnya di Kementerian Perhubungan belum lama ini.

Penumpang Garuda Indonesia bisa menikmati konektivitas internet di pesawat secara gratis. Lalu bagaimana Garuda bisa memperoleh pendapatan hingga US$239,94 juta atau sekitar Rp3,36 triliun dari kerja sama dengan Mahata tersebut?

Dijelaskan Ikhsan, Mahata sebagai penyedia akses wifi di dalam pesawat akan menjual slot iklan dalam fasilitas wifi tersebut. Dari situlah perusahaan yang baru berdiri November 2017 itu akan mendapatkan pemasukan.

Ikhsan mengatakan, Garuda secara grup memiliki penumpang yang cukup banyak sekitar 50 juta penumpang per tahun. Jumlah penumpang itulah yang akan 'dijual' Mahata ke pengiklan nantinya. Garuda market place 50 juta (penumpang) kan secara grup. Itu yang di-monetize manajemen Garuda. Sekarang poinnya penumpang Garuda 50 juta bersama Citilink. Itu bagian pengembangan dari ancillary BUMN penerbangan itu.

Nah, karena Mahata sudah mendapatkan untung dari potensi penumpang Garuda itu dan memanfaatkan armada pesawat Garuda, Mahata akan membayar kompensasi ke maskapai pelat merah itu.

Sebagai gambaram Ikhsan mencontohkan, penjualan slot iklan dari fasilitas wifi itu bisa dihargai US$4 per penumpang. Jika Garuda Indonesia secara grup memiliki potensi penumpang 50 juta per tahun maka dari layanan itu bisa diperoleh pendapatan dari satu pengiklan sekitar US$200 juta.

"Katakanlah secara konservatif 50% (untuk Garuda) berarti US$100 juta. Itu lah pendapatan yang diterima ke depan secara pembagian," tuturnya.[bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here