Aneh, Tetiba Harga Tiket Airline Naik Turun

0
439
Tiket airline tetiba naik dan tetiba turun sehingga membingungkan masyarakat. Fenomena ini diduga akibat perang tarif low cost carrier dimasa lalu yang berdampak pada keuangan airline yang berdarah-darah.

Nusantara.news, Jakarta – Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah nasib penumpang pesawat udara dalam negeri. Karena perusahaan airline tetiba menaikkan harga tiket dan mengenakan biaya bagasi. Setelah diprotes banyak kalangan, termasuk Menteri Perhubungan, pekan ini pun tetiba turun.

Ini adalah zaman paling aneh sejak Indonesia merdeka. Tetiba terjadi kenaikan harga tike untuk seluruh penerbangan lokal natara 100% hingga 300%. Semua tiket penerbangan lokal di atas Rp1 juta per perjalanan, padahal sebelumnya ada yang hanya Rp500 ribu, Rp400 ribu, bahkan Rp300 ribu satu kali perjalanan.

Kisaran kenaikan harga tiket pesawat mulai dari 60% hingga 200% sesuai dengan jarak, musim dan harga minyak global. Bahkan tarif Jakarta-Jayapura-Jakarta Rp2,8 juta, bisa melonjak hingga Rp12 juta satu kali penerbangan.

Yang menarik, dalam sepekan terakhir warga Aceh dan Sumatera Utara berbondong-bondong membuat paspor untuk anggota keluarganya. Selidik punya selidik, ternyata disebabkan mahalnya harga tiket Jakarta-Aceh, Jakarta-Medan atau sebaliknya. Sementara mereka bisa naik pesawat Jakarta-Malaysia-Aceh atau Jakarta-Malaysia-Medan atau sebaliknya, yang biayanya bisa 200% lebih murah.

Meski bisa transit di Malaysia sekitar 5 hingga 8 jam, penumpang asal Aceh dan Sumatera Utara jauh lebih senang. Selain biayanya lebih murah juga bisa jalan-jalan ke Malaysia walau hanya beberapa jam saja.

Yang aneh lagi, tarif tiket pesawat Jakarta-Sydney atau Jakarta Melbourne bisa hanya Rp3,5 juta, jauh lebih murah tarif Jakarta-Aceh atau Jakarta-Medan. Semua keanehan ini berlangsung hampir satu pekan yang lalu, harga tiket tetiba turun naik bak yoyo.

Tak hanya itu, perusahaan airline, terutama yang low cost carrier (LCC), yang biasanya membebaskan biaya bagasi mulai mengenakan tarif bagasi. Lion Air yang sempat menggratiskan biaya bagasi sampai 20 kg, kini mulai menerapkan tarif baru. Sementara Wings yang tadinya bebas biaya bagasi sampai 5 kg, juga ikut menerapkan tarif.

Berdasarkan laman resmi Lion Air, penerbangan Bandara Soekarno-Hatta menuju ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dikenai tambahan bagasi sebesar 5 kilogram dengan biaya Rp155 ribu, untuk 10 kilogram Rp310 ribu, untuk 15 kilogram Rp465 ribu, untuk 20 kilogram Rp620 ribu, untuk 25 kilogram Rp755 ribu, dan untuk 30 kilogram Rp930 ribu.

Pendek kata, penumpang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mengapa penumpang dikatakan jatuh, ya beberapa waktu lalu duka nestapa keluarga penumpang Lion Air belum hilang duka. Kini harus dikejutkan oleh naik turunnya harga tiket pesawat dan pengenaan biaya bagasi.

Jika ditelusuri betapa mahalnya tarif tiket pesawat untuk penerbangan lokal belakangan ini, ditandai dengan kenaikan tarif tiba-tiba, dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Pertama, dimasa lalu penerbangan berjenis LCC memang terperangkap perang harga. Airline rame-rame menurunkan tarif tiket pesawat guna menangguk sebanyak mungkin penumpang.

Oleh karena penurunan tarif sudah keterlaluan, sehingga hal-hal yang bersifat ‘keamanan’ cenderung diabaikan.  Hal ini berujung pada jatuhnya pesawat Lion Air GT-610 dengan memakan korban 189 jiwa di Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Kedua, belakangan harga avtur naik tinggi sekali yakni mencapai 125% sehingga suasana perang tarif yang selama ini dirasakan aman dan nyaman mulai mengusik keuangan industri airline di tanah air. Itu sebabnya selepas libur Natal dan Tahun Baru, perusahaan airline ramai-ramai menaikan tarif lokal hingga 300%, bahkan mulai mengenakan tarif bagasi.

Ketiga, gaji karyawan industri airline juga naik hingga 15%, sementara penerimaan menurun seiring krisis bahan bakar.

Keempat, faktor inflasi yang ikut menekan keuangan masing-masing airline, sehingga mereka perlu menggenjot penerimaan kembali lewat kenaikan harga tersebut.

Kelima, bahkan ada spekulasi yang berkembang bahwa kenaikan tarif tetiba dan turun tetiba, sebagai konsekuensi penggalangan dana (fund rising) untuk Pilpres 17 April salah satu pasangan calon. Memang sulit diverifikasi alasan ini, namun jika dikait-kaitkan mungkin saja ada ketersambungan logikanya.

Lepas dari berbagai alasan di atas, alasan kenaikan tarif pesawat penerbangan memang diperlukan oleh indutri penerbangan. Seperti misalnya maskapai PT Garuda Indonesia Tbk yang mulai melakukan pembenahan dari sisi keuangannya. Sebab, selama ini maskapai pelat merah tersebut selalu merugi.

Sebagai informasi, tahun ini maskapai pelat merah tersebut berkeinginan untuk mencetak laba hingga Rp1 triliun. Nyatanya Garuda masih membukukan rugi bersih sebesar US$127,97 juta pada triwulan ketiga 2018. Kerugian Garuda sudah berkurang dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar US$207,45 juta.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menjelaskan sebenarnya kenaikan harga tiket pesawat masih berada di bawah tarif batas atas. Justru harga tiket pesawat dinilai tengah kembali ke level normal, lantaran beberapa tahun terakhir terjadi perang harga antar maskapai penerbangan.

Dia menyadari kenaikan harga tiket pesawat memang dikeluhkan masyarakat, kendati demikian pihaknya juga menilai perlu memperhatikan keberlangsungan industri penerbangan. Sebab, perang harga tak bisa terus dilakukan oleh maskapai.

Dia bahkan menyatakan, akibat perang harga di beberapa negara bahkan banyak industri penerbangan yang mengalami kebangkrutan. “Kalau ini terus-terusan perang harga akan jadi masalah,” katanya.

Oleh sebab itu, dirinya bahkan meminta masyarakat untuk memaklumi soal kenaikan harga tersebut, di samping juga Kemenhub meminta maskapai tak menaikkan terlalu tinggi.

“Maskapai juga diminta jangan menaikkan terlalu tinggi,” ujarnya.

Namun karena naiknya tarif tiket pesawat yang berlebihan, akhirnya Menhub mengumpulkan para CEO airline di tanah air. Mereka sepakat untuk menurunkan kembali tiket yang sudah terlanjur naik hingga 300% itu diturunkan antara 60% hingga 80% mulai 13 Januari 2019.

Sementara Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)  Tulus Abadi menilai kenaikan dan penurunan tarif pesawat yang drastis telah membingungkan masyarakat. Kebijakan yang mendadak itu telah mengejutkan masyarakat pengguna airline.

Dia menyatakan idealnya maskapai menaikkan atau menurunkan tarif secara bertahap, termasuk besaran kenaikan atau penurunan itu tidak terlalu signifikan. Yang terjadi belakangan airline rame-rame menaikkan tarif secara serentak, setelah ditegur baru rame-rame menurunkan serentak.

Ditambah lagi pengenaan tarif bagasi untuk maskapai yang masuk dalam bisnis LCC. Hal ini tentu saja membebani konsumen pengguna pesawat terbang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Yang paling disayangkan alasan kenaikan dan penurunan tarif pesawat yang mendadak itu tidak transparan. Sehingga industri airline memasuki fase misteri, dimana para manajemen airline dapat menaikkan tarif tiket semaunya, dan menurunkan tarif tiket semaunya.

Ujung-ujungnya, konsumen yang dirugikan dan dibuat terkejut dengan permainan tiket pesawat. Sudah saatnya para CEO mengembalikan persaingan tarif tiket secara alami, bukan karena dorongan perang tarif atau bahkan pesanan politik kubu tertentu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here