Angela Merkel: “Iron Lady” yang Diharapkan Memimpin Dunia

0
136
Kanselir German Angela Merkel,Foto: ANTARAFOTO/REUTERS

Nusantara.news – Angela Merkel merupakan sosok pemimpin wanita yang mendapat julukan “Iron Lady”. Sebelumnya, julukan yang sama pernah disematkan untuk Margaret Thatcher, pemimpin Inggris yang di eranya mampu mendominasi Eropa dengan mayoritas pemimpin laki-laki. Kini, Merkel juga telah melakukan hal yang sama, dia mampu mendominasi panggung kepemimpinan di benua Eropa, dia mampu men-drive ekonomi Eropa. Tidak ada wanita yang telah melakukannya sejak Margaret Thatcher.

Tak heran, Majalah Forbes pada tahun 2016 mendapuk Merkel sebagai wanita paling berpengaruh di dunia, mengalahkan 100 wanita berpengaruh di dunia lainnya seperti Hillary Clinton capres Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang juga pernah menjabat Menlu AS. Kemudian Janet Yellen, pemimpin Bank Sentral Amerika, dan lain-lain. Survei menampilkan 100 wanita dari 29 negara yang mewakili berbagai sektor, seperti politik, bisnis, teknologi, dan filantropi. Dari Indonesia Menteri Keuangan RI Sri Mulyani masuk dalam daftar di urutan ke-37.

Dominasi kepemimpinan Merkel dibuktikan di panggung G20, 7-8 Juli lalu di Hamburg, Jerman, kota pelabuhan yang juga merupakan tempat kelahirannya. Sebagai tuan rumah perhelatan akbar tersebut, Merkel mampu memimpin kelompok negara-negara ekonomi utama dunia, bahkan lebih dari itu mampu “menentang” kehendak Amerika Serikat (Donald Trump) yang mendorong proteksionisme negara.

Merkel, “bersekutu” dengan negara-negara Eropa lain dan negara-negara non Eropa seperti China dan Jepang untuk “membikot” keinginan Trump tentang proteksionisme dan penolakan terhadap upaya bersama pencegahan perubahan iklim. “Tanpa Amerika”, Merkel dan hampir seluruh kepala negara anggota G20 menyatakan penolakan terhadap proteksionisme. Begitu juga dengan kesepakatan perubahan iklim, meski hanya dengan 19 anggota G20 minus Amerika, Merkel bersikukuh agar Kesepakatan Paris 2015 tetap dijalankan. Di forum tingkat dunia tersebut, secara tegas Merkel menunjukkan sikap penentangan terhadap AS, hal yang mungkin belum pernah dilakukan pemimpin Eropa sebelumnya. Sebab bagaimanapun, AS merupakan sekutu lama dan saudara tua bagi Eropa.

Kenapa Merkel si Iron Lady melakukannya?

Merkel telah lama diam menghadapi berbagai tudingan menyakitkan presiden baru AS Donald Trump, mulai dari dianggap sebagai mitra perdagangan yang merugikan, karena AS mengalami defisit perdagangan dengan Jerman. Kemudian dituding membebani anggaran pertahanan AS terkait pakta pertahanan NATO karena Jerman dianggap sedikit berkontribusi pada lembaga itu dengan tidak menaikkan anggaran pertahanannya hingga 2% dari PDB. Puncaknya, ketika AS menarik diri dari Kesepakatan Iklim Paris, sementara Merkel sangat mendorong pencegahan perubahan iklim.

Setelah itu, Merkel tak mau lagi diam. Dia kemudian bilang, “Eropa tidak bisa lagi bergantung dengan Amerika atau bergantung dengan negara mana pun di dunia. Eropa harus mampu berdiri di atas kaki sendiri.” Sejak itulah, para pemimpin Eropa, bahkan dunia, terutama yang tergabung dalam G20 mendorong Merkel menggantikan peran AS “memimpin dunia”.

Menurut hasil survei Pew Research Center terbaru, untuk memimpin dunia secara benar, penduduk dari sebagian besar anggota negara-negara G-20 ternyata lebih mempercayai Merkel ketimbang Trump.

Pew Research Center adalah lembaga independen berbasis di Amerika Serikat yang aktif menginformasikan kepada masyarakat dunia tentang isu, sikap dan tren terkait dengan Amerika Serikat dan dunia.

Baca: Jerman-China Geser AS Pimpin Dunia

Kenapa Merkel dijuluki Iron Lady

Angela Merkel dianggap tangguh karena telah mengantarkan Jerman melewati resesi, Jerman saat ini menjadi negara terkuat di Eropa setelah Inggris keluar dari Uni Eropa dan mengalami penurunan ekonomi. Kanselir Merkel tetap kuat setelah 10 tahun menjabat, rencananya dia akan maju lagi dalam Pemilu Jerman mendatang untuk mendapatkan jabatannya di periode keempat, dan dari sejumlah survei, elektabilitas Merkel masih tinggi.

Merkel berhasil mengubah politik Jerman sejak ia terpilih menjadi kanselir pada tahun 2005. Prestasinya di dalam dan luar negeri diakui sehingga dia masuk daftar perempuan paling top versi Forbes sebanyak delapan kali.

Kini Merkel telah berada di periode ketiga jabatannya, jika dia terpilih lagi pada periode keempat dan tetap dengan kekuasaan yang kuat, dia dianggap pemimpin perempuan terkuat di Jerman sepanjang sejarah, di Eropa dia hanya bersaing ketat dengan rekor Margaret Thatcher.

Merkel saat ini dianggap sebagai pemimpin de facto Eropa atau minimal sebagai “penentu” dan sering punya kesempatan untuk memperkuat peran itu selama krisis euro. Pernyataan Merkel, bahwa “jika euro gagal, Eropa gagal” mengekspresikan komitmen dia terhadap Uni Eropa.

Pada saat sebagian besar pemimpin Eropa lain diliputi krisis keuangan, Merkel mampu mengatasinya. Dia dengan tangkas menangkis resesi jangka panjang di Jerman saat krisis ekonomi global melanda dengan memperkenalkan paket stimulus ekonomi dan memperpendek jam kerja, dimana pekerja bekerja lebih sedikit namun pendapatan mereka diatasi oleh pemerintah, bukan dari bisnis. Jerman pun bertahan walau ditempa krisis.

Setelah bencana Fukushima, Jepang, Merkel membuat kebijakan mengejutkan, dia akan menutup delapan dari 17 reaktor nuklir Jerman dan yang lainnya akan ditutup pada tahun 2022. Langkah tersebut menjadi jalan bagi transisi jangka panjang ke sumber energi alternatif. Dengan kebijakan tersebut Merkel mendapat dukungan besar dari seluruh spektrum di Jerman, dan mendorong agar Jeman menjadi pelopor dunia dalam reformasi energi dalam upaya mengatasi pemanasan global.

Merkel juga menghapus wajib militer di Jerman pada Juli 2011. Militer Jerman Bundeswehr saat ini lebih manusiawi dengan memiliki layanan penitipan anak dan jam kerja yang fleksibel. Ini merupakan salah satu upaya Merkel meningkatkan kesejahteraan kehidupan keluarga di Jerman.

Dalam kebijakan luar negerinya, Merkel terus-menerus berdialog dengan presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk mengatasi krisis Krimea. Berkat pendidikannya di Jerman Timur, Merkel mengenal budaya Rusia dengan baik dan berbicara bahasa Rusia dengan sangat baik.

Kehadiran Merkel sebagai wanita Protestan, wanita Jerman Timur yang memimpin Partai Demokrat Kristen, partai yang didominasi laki-laki dan sebagian besar beragama Katolik, berakar di Jerman Barat, telah mengubah mindset bukan saja di dalam partainya, tapi juga bagi seluruh warga Jerman.

Merkel adalah pemimpin politik wanita pertama di Jerman yang telah banyak bersaing dengan pria dalam karir politiknya. Merkel juga mengubah partai yang tadinya sangat tradisional menjadi salah satu pilar konsensus Jerman yang baru. Ini tentu saja berpengaruh pada arah kebijakan baru mengenai segala hal mulai dari reformasi energi hingga hak keluarga dan perempuan, termasuk keputusan tentang kuota perempuan di parlemen.

Masa Kecil

Angela Kasner saat berusia 3 tahun, 1957.Foto: Time.com

Sebagaimana dikutip dari dari Time, Angela Merkel dibesarkan oleh keluarga ayahnya yang sebagian keturunan Polandia. Merkel adalah nama suami pertamanya, Ulrich Merkel, teman sewaktu menjadi mahasiswa fisika yang kemudian menikahinya pada tahun 1977, namun bercerai empat tahun kemudian.

Tahun 1998 ia resmi menikah dengan Profesor Joachim Sauer, ahli kimia di Universitas Humboldt (Berlin). Pernikahan keduanya itu dilakukan setelah ia hidup bersama selama lebih dari sepuluh tahun, setelah seorang kardinal konservatif mengkritik gaya hidupnya yang sulit diterima partainya yang konservatif dan mengkampanyekan nilai-nilai keluarga dan perkawinan.

Ayah Merkel adalah pejabat di gereja Lutheran. Keluarganya pindah dari Jerman Barat ke Jerman Timur yang dikuasai Soviet tak lama setelah Angela lahir, ribuan orang melarikan diri ke tempat lain ketika itu. Oleh kerena itu, pendekatan politik Merkel yang disiplin dan berhati-hati dianggap sebagai pengaruh dari “asuhan” Jerman Timur.

Merkel memiliki gelar di bidang fisika dan merupakan doktor dalam ilmu kimia kuantum, beberapa orang mengatakan kesuksesannya sebagai politisi berasal dari pendekatan ilmiah dan analisisnya yang tajam terhadap situasi. Merkel kemudian bekerja sebagai ilmuwan riset, satu-satunya wanita di bagian kimia teoritis di East German Academy of Sciences.

Angela Merkel memegang sebuah tabung tes berisi air di stasiun kontrol air Bad Honnef, 12 Januari 1995. Foto: Getty Images

Terlibat politik

Tahun 1989, Angela Merkel terlibat dalam gerakan demokrasi yang marak setelah runtuhnya Tembok Berlin. Dia bergabung dengan partai baru Demokratischer Aufbruch. Setelah pemilu pertama yang demokratis, Merkel menjadi wakil juru bicara dari pemerintahan sementara yang baru, sebelum penyatuan kembali di bawah Lothar de Maizière.

Pada pemilu pertama setelah penyatuan Jerman tahun 1990, Merkel terpilih sebagai anggota Bundestag (parlemen Jerman) dari daerah pemilihan distrik Nordvorpommern dan Rügen serta kota Stralsund. Partainya bergabung dengan Christian Democratic Union (CDU) di Jerman bagian barat, dan Merkel pun menjadi Menteri Urusan Perempuan dan Pemuda dalam kabinet Helmut Kohl, kanselir Jerman (1982-1998).

Pada tahun 1994, Merkel diangkat sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Keamanan Reaktor Nuklir, yang membuat kiprah politiknya semakin menonjol. Sebagai salah seorang anak emas Kohl dan menteri termuda di kabinetnya, Merkel biasa disebut Kohl sebagai “das Mädchen” yang berarti “sang gadis”.

Tahun 1998 Merkel ditunjuk sebagai Sekjen partai CDU. Karir politiknya moncer sehingga dia terpilih sebagai ketua partai tersebut pada 10 April 2000. Terpilihnya Merkel mengejutkan banyak pengamat, karena dia merupakan kontras dari partai yang dipimpinnya.

Namun setelah Merkel dipilih sebagai ketua partai, ternyata dia cukup populer di masyarakat. Pada pemilu 2005, CDU meraih 226 kursi parlemen dan sebanyak 222 kursi diraih oleh SPD. Kedua partai kemudian sepakat membangun koalisi besar. Dan setelah memenangi voting di Bundestag (Parlemen Jerman) pada 22 November 2005, Angela Merkel resmi sebagai Kanselir Jerman.

Merkel tercatat sebagai pemimpin pemerintahan Jerman kedelapan sejak berakhirnya Perang Dunia II. Ia menggantikan Gerhard Schroeder yang telah tujuh tahun berkuasa bersama SPD dan Partai Hijau. Sudah lebih dari 10 tahun Merkel memimpin Jerman, tapi pesona dan kekuasannya masih diperhitungkan, bahkan semakin menguat.

Mampukah Merkel kembali memimpin Jerman setelah pemilu September nanti, dan membuktikan bahwa negara itu bisa pemimpin dunia, sebagaimana harapan negara-negara Eropa lainnya? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here