Anggaran Pertahanan: AS Naik, Cina Turun

0
174
Pesawat tempur J-15 lepas landas dari kapal induk Liaoning Cina dalam latihan pada 2 Januari 2017 di Laut Cina Selatan. Ahli militer Cina percaya soal rencana kenaikan anggaran militer Cina tahun ini yang akan dioptimalkan untuk angkatan laut. (Foto: Cina Stringer/Reuters)

Nusantara.news, Beijing – Amerika dan Cina, dua negara yang mempunyai anggaran pertahanan terbesar di dunia. Cina saat ini berada di posisi kedua kendati jumlahnya masih jauh di bawah AS. Tahun ini Cina bakal menaikkan anggaran pertahanan sebesar 7%, kenaikkan terendah sejak 2010, jika disetujui total anggaran pertahanan Cina USD 145 miliar. Bandingkan dengan AS yang jika naik 10% sesuai usulan Donald Trump akan berjumlah USD 603 miliar.

Sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (4/2), menurut pejabat Cina, kenaikan anggaran militer tahun ini adalah yang paling kecil sejak tahun 2010.

Angka tersebut diumumkan menjelang pertemuan politik tahunan di Beijing. Ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan 10% anggaran belanja militer AS.

Amerika Serikat akan menghabiskan anggaran untuk pertahanan yang jauh lebih besar ketimbang Cina, baik dari segi jumlah maupun proporsi pada PDB.

Cina tahun ini menganggarkan 1,3% dari PDB untuk militer, Menurut juru bicara Kongres Rakyat Nasional, Fu Ying.

Stockholm International Peace Research Institute memperkirakan pada tahun 2015 Cina menghabiskan 1,9% dari PDB untuk militer, bandingkan dengan AS yang jumlahnya 3,3% dari PDB. Namun, Fu Ying belum memberikan rincian tentang berapa jumlah anggaran militer Cina di tahun 2017.

Para pengamat militer Cina dan koran Partai Komunis memprediksi kenaikan anggaran militer ini akan digunakan untuk angkatan laut Cina.

Klaim Beijing atas sebagian besar kawasan Laut Cina Selatan yang telah menjadi sumber utama ketegangan antara Cina-AS serta antara Cina dan negara-negara tetangganya.

Menteri Luar Negeri Rex Tillerson dan Gedung Putih di awal pemerintahan Donald Trump telah menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Cina menguasai wilayah Laut Cina Selatan.

Pemerintah AS telah berbicara keras soal Laut Cina Selatan, ditambah dengan rencana AS menaikkan anggaran militernya agar lebih besar, hal ini tentu semakin memperdalam kekhawatiran tentang terjadinya konflik di Laut Cina Selatan.

Cina juga tegas menyatakan, AS tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam sengketa Laut Cina Selatan. Tapi bagaimanapun sejak AS dipimpin Donald Trump, para pejabat Cina tampak berhati-hati berkomentar dan selalu menekankan prospek perdamaian.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Cina pekan ini menyatakan harapannya bahwa rencana AS terkait menambah anggaran militer sebesar USD 54 miliar, akan menguntungkan stabilitas.

Cina selalu sensitif terhadap kritik terkait anggaran pertahanan, terutama jika kritik itu datang dari AS.

“Lihatlah dalam dekade terakhir; ada begitu banyak konflik bahkan perang di seluruh dunia yang mengakibatkan korban dan kerugian harta benda, sehingga banyak yang jadi pengungsi miskin dan tunawisma. Mana yang telah disebabkan oleh Cina?” kata Fu Yin menyindir AS, Sabtu (4/3).

Para pengamat Cina berpendapat bahwa kenaikan anggaran pertahanan adalah bagian dari upaya sejak lama untuk memodernisasi militer Cina, tidak untuk melawan AS.

“Belanja Militer akan terus tumbuh,” kata Zhao Chu, seorang ahli militer Cina. “Peralatan militer sedang ditingkatkan. Tentara Cina masih porses memodernisasi militernya,” kata Chu.

“Cina memiliki tujuan jangka panjang untuk menjadi kekuatan militer kelas dunia, seperti Amerika,” tambahnya.

Sementara itu, Cina tidak peduli dengan tingkat pertumbuhan belanja militer AS. “Selama kita mengurus masalah keamanan kita sendiri, kita tidak perlu membandingkan dengan orang lain,” kata pejabat Cina, Peng Guangqian.

Presiden Cina Xi Jinping telah mengumumkan rencana untuk mengurangi 300 ribu pasukan Tentara Pembebasan Rakyat, tapi agaknya upaya tersebut tidak akan berjalan dengan mudah.

Seorang pensiunan jenderal di Cina meminta kenaikan belanja 12% untuk mengejar modernisasi dan mengikuti AS.

“Anggaran pertahanan AS telah meningkat 10% dan kami membutuhkan setidaknya peningkatan dua digit, yang paling ideal adalah 12%” kata Letjen (purn) Wang Hongguang, mantan wakil komandan Komando Militer Nanjing, sebagaimana dilansir South China Morning, Jumat (3/2).

Gedung Putih di bawah Presiden Donald Trump mengusulkan “peningkatan bersejarah” anggaran pertahanan hingga 10% atau sebesar 54 miliar USD. Sebagaimana rencana Trump sejak awal, kenaikan tersebut akan diimbangi dengan pemotongan bantuan luar negeri dan program dalam negeri.

Pelestarian perdamaian dan keamanan

Fu Ying menegaskan kembali klaim Cina, bahwa anggaran militer  murni untuk pertahanan dan mewakili kontribusi besar untuk menjaga stabilitas di Asia.

“Kami menganjurkan dialog untuk resolusi damai, sementara pada saat yang sama, kita perlu memiliki kemampuan untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan kita,” katanya.

“Penguatan kemampuan Cina manfaat pelestarian perdamaian dan keamanan di kawasan ini, dan bukan sebaliknya,” tambah Fu.

Pernyataan Fu ditujukan untuk negara-negara tetangga dan meyakinkan mereka yang resah oleh sikap yang semakin tegas diambil Beijing dalam perselisihan teritorial di Laut Cina Selatan dan Timur.

Laporan terbaru, Cina telah membangun pulau buatan di Laut Cina Selatan untuk keperluan militer dan telah menimbulkan keprihatinan di Washington. AS juga telah mengirimkan kapal induk dan sejumlah kapal militer untuk berpatroli di kawasan itu.

AS mengatakan Cina membangun pulau untuk kepentingan militer

AS tingkatkan anggaran militer  

Amerika akan meningkatkan anggaran militer sebesar 10% atau sekitar USD 145 miliar tahun ini. Namun rencana tersebut dipertanyakan banyak kalangan.

Pada saat kampanye, Trump mencatat bahwa AS telah menghabiskan hampir USD 6 tiliun untuk pertempuran perang sejak serangan 11 September.

Meski Trump berulang kali menginginkan peningkatan anggaran militer, tapi pada masa kampanye dia banyak berjanji untuk menarik kekuatan militer di berbagai penjuru dunia.

Trump berjanji tentang kebijakan “America First”, dia mengeluh soal pengalaman pahit masa lalu AS tentang triliunan dolar yang dihabiskan dalam pertempuran di Timur Tengah yang bisa digunakan untuk membangun kembali Amerika.

“Ini adalah mismatch strategi anggaran dalam pemerintahan Trump,” kata Todd Harrison, seorang peneliti senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional.

“Banyak retorika menunjukkan dia (Trump) ingin melakukan lebih sedikit (dalam militer), tetapi dalam anggaran mengatakan ia ingin berbuat lebih banyak. Mana yang benar?” kata Harrison.

Permintaan Trump soal kenaikan anggaran militer dipandang banyak orang sebagai tawaran pembuka. Pengamat memperkirakan, Kongres akan meningkatkan anggaran Pentagon, meskipun jumlah akhirnya belum diketahui. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here