Angkot Konvensioal Kota Malang Tergilas Angkutan Beraplikasi

0
198

Nusantara.news, Kota Malang – Fenomena tersisihnya moda angkutan kota (angkot) oleh moda angkutan beraplikasi kembali terjadi. Kalau sebelumnya terjadi di Ibukota Jakarta, kini giliran melanda Kota Malang.

Ratusan armada angkot dan sopir semua trayek di Kota Malang menggelar demo di depan Balaikota Malang, pada Selasa, (26/9) lalu. Ini merupakan aksi ketiga kalinya para sopir angkot. Sebelumnya, suasana seperti itu juga pernah terjadi pada Februari dan Maret 2017 lalu.

Para sopir yang melakukan demonstrasi  tergabung dalam Forum Komunikasi Angkot Malang Raya yang memiliki anggota sebanyak 1.200 orang. Para pemilik Angkot Konvensional mendesak terkait penolakan beroprasinya transportasi berbasis aplikasi yang belum sepenuhnya memiliki izin di Kota Malang. Demo pertama digelar Februari 2017 lalu.

Hariadi salah salah satu Anggota Forum Komunikasi Angkot Malang Raya mengungkapkan terkait masih menjamurnya transportasi online yang tidak berizin di Kota Malang. “Masih banyak transportasi online tidak memiliki izin, tetapi seakan dilindungi pemerintah,” pungkasnya.

Ia menegaskan untuk penghapusan transportasi online. Karena mereka tak memiliki dasar untuk beroperasi di Kota Malang.

Para sopir mengaku kecewa karena solusi pada demonstrasi sebelumnya belum juga dilakukan dengan tegas. “Pemkot Malang belum memberikan sikap tegas terhadap transportasi online, malah justru seperti membiarkan mereka beroperasi, justru yang mengawasi mereka melanggar aturan itu dari pihak kami sendiri mas. Kami menyita KTP mereka yang melanggar aturan zonasi wilayah,” tandas Hariadi.

Kain putih berisikan Tanda tangan saat demontrasi (Sumber,: Muhammad Aminudin)

Pihaknya ingin meminta ketegasan dari Pemkot Malang untuk menyelesaikan masalah transportasi ini sekaligus, menghapus transportasi online yang tidak memiliki izin. Para demonstran membentangkan kain putih yang berisikan tanda tangan sopir sebagai wujud solidaritas menolak transportasi online.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Kusnadi ditemui di Balai Kota Malang, mengatakan, bahwa soal transportasi online akan disampaikan langsung oleh Pemprov Jatim, sebagai pihak yang memiliki kewenangan. “Sosialisasi akan disampaikan Dishub Propinsi Jatim, setelah nanti berkoordinasi dengan beberapa kabupaten juga,” terangnya.

Pemerintah Kota Malang belum memberi ketegasan pada transportasi online sebagaimana yang diminta oleh taksi konvensional dalam mediasi maret lalu. Dalihnya, Pemkot Malang masih menunggu keputusan dari Provinsi dalam penyikapan permasalahan yang terjadi sekarang ini.

Walikota Malang, M Anton menyampaikan terkait polemik transportasi online dengan Transportasi konvensional masih dalam tahap penyelesaian. “Harus adil dong, kan mereka semua sama-sama warga Kota Malang,” jelasnya pada wartawan usai menutup kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di kampus IKIP Budi Utomo (IBU), Rabu (27/9/2017) kemarin.

Anton meminta, agar ke dua belah pihak saling menghormati. Karena keputusan dari pemerintah provinsi akan dijadikan acuan final. Pihaknya pun tidak dapat memberi banyak tindakan pada transportasi online.

“Kita tunggu sampai November saja, kan masih digodok lagi peraturannya,” tambahnya lagi.

Dari hasil rembuk yang dilakukan bersama dengan perwakilan taksi online, Organda, dan pemerintah kota beserta jajaran samping yang dilakukan pada Rabu (27/9/2017) sebelumnya memang belum ada kesepakatan baru.

Pihak sopir angkot yang merasa tidak puas dan melakukan walk out sebelum acara berunding selesai dilakukan. “Tadi kan belum sampai ada keputusan final, karena pihak sopir angkot merasa tidak puas,” jelas Anton.

Sementara itu, pakar transportasi Universitas Brawijaya, Prof. Harnen Sulistio, M.Sc, Ph.D. menyarankan Pemerintah Kota Malang bersikap lebih tegas, jika perlu mengancam sopir angkot. “Angkutan umum ini kan melayani masyarakat, kalau ada aksi begini lagi seharusnya pemerintah daerah bersikap lebih tegas kalau perlu ancam sopir angkot. Dicabut saja itu izin trayeknya. Sebab ini kan sudah menganggu pelayanan masyarakat,” kata Harnen dilansir dari MalangTimes.

Pakar yang sekaligus Guru Besar Universitas Brawijaya menyebutkan bahwa angkot di Kota Malang sekarang sudah jauh dari permintaan ideal masyarakat modern. “Kalau itu saya kurang tahu, yang jelas mau bagaimana lagi, sekarang angkot jauh dari permintaan masyarakat ya jelas mereka memilih transportasi online,” ujarnya.

Memang secara fakta dan realita Transportasi Konvensional dalam hal ini Angkot jauh dari permintaan masyarakat, tidak menafikan kemajuan teknologi memang harus kita terima dan serap. Namun, hal tersbut juga harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya dan modal setiap masyarakat agar tidak terjadi kesenjangan dalam masyarakat.

Ntah, hal tersebut Modal ekonomi, ataupun modal sosial seperti pendidikan, softskill dan kecakapan yang dimiliki. Apabila dipertaruhkan dibidang bisnis jasa transportasi bisa seimbang dan fair.

Perjuangan hidup

Demonstrasi yang dilakukan oleh ratusan bahkan ribuan anggota Forum Komunikasi Angkot Malang Raya merupakan suatu potret masyarakat kecil dengan ekonomi menengah kebawah memperjuangkan nasib penghidupannya.

Dengan keadaan alakadarnya dan kekuatan seadanya perjuangan senasib yang kemudian menyatukan masyarakat sopir angkot untuk demonstrasi akan keadaanya yang semakin tergerus bahkan terhimpit oleh hadirnya transportasi online.

Tidak hanya di Kota Malang saja, namun ada beberapa kota yang merasakan hal yang sama akan hadirnya transportasi online. Seperti Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Surabaya, Padang, Samarinda, Batu dan masih banyak lagi.

Meskipun berbeda cara mengekspresikan aspirasinya di setiap kota, namun secara keadaan di setiap kota sama-sama memperjuangkan nasib dan kondisi kehidupannya kedepan, yang tergerus oleh kehadiran transportasi online.

Sugiharto, Seorang sopir angkot jalur trayek ADL mengeluh karena penurunan pendapatannya yang kian hari kian menurun.

Jika biasanya ia bisa dapat Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu per hari, kini pendapatan menurun bahkan bisa minus, hingga hanya mendapatkan Rp 45 – 55 ribu saja . Selain menurunnya pendapatan, ia juga melihat beberapa kawannya berhenti menjadi sopir.

“Sedangkan jumlah trasnpsortasi online semakin banyak. Padahal kami ini yang resmi dan berizin,” ujar lelaki yang sudah 20 tahun berprofesi sebagai sopir itu.

Sementara itu, Agus Hariyono, Seorang sopir taksi yang tidak mau disebut nama instansinya mengeluh karena pendapatannya kini turun hingga 60%, yang kemudian menyebabkan akhir ini tidak memenuhi uang setoran. “Ya bagaimana lagi semakin sulit, sering tidak memenuhi setoran tiap harinya. Semakin terhimpit adanya” jelas dia.

Potret kondisi seperti inilah yang kemudian menjadikan satu gejala di beberapa kota tertuma di Kota Malang merasakan nasib yang sama. Oleh karena ia menyuarakan aspirasinya dengan demonstrasi ke pihak Pemerintah Kota Malang untuk mengadu nasibnya, dan mencari solusi atas kondisi keberadaan Transportasi Online yang kian menghimpit Transportasi Konvensional.

Ekspresi Sopir Angkot dalam unjuk rasa Demo Angkot di Balaikota Malang

 

Merujuk pada pendapat pakar yang memberikan saran apabila terus-terusan melakukan demo, unuk dicabut saja izin trayek dan angkotnya itu merupakan solusi yang  sangat kurang relevan sama sekali apabila dilakukan begitu saja.

Seolah tidak memikirkan nasib para sopir angkot konvensional, dan demonstrasi yang dilakukan oleh sopir angkot merupakan tindakan meresahkan?

Sopir angkot tersebut menjerit dan melakukan demonstrasi karena ia memperjuangkan aspirasi, nasib dan keadaanya akan fenomena teknologi baru yang mereka (Read: Sopir angkot) belum mampu untuk menguasainya. Apabila trayek angkot dicabut dan ditutup begitu saja maka akan terjadi ketimpangan, kesenjangan dan berujung pada meningkatnya angka kemiskinan masyarakat.

Kritikian dan cuitan mengenai  demonstrasi yang membuat macet, dan padat jalan kemudian dianggap meresahkan masyarakat, hal tersebut sebenarnya adalah salah satu media penyampaian aspirasi keluh kesah sopir angkot akan kondisi yang ditimpannya kini.

Keresahan sopir angkot pastinya jauh lebih mendalam karena berhubungan dengan kondisi ekonomi, keberlangsungan hidup bagi keluarga mereka. Tidak lebih meresahkan apabila hanya mengahdapi kemacetan, pemikiran masyarakat yang resah demo dan kemacetan adalah mindset yang harus dirubah.

Belum tentu keresahan kemacetan yang diterima masyarakat atas demonstrasi itu lebih pedih dari pada apa yang hendak mereka (Read: Sopir angkot) perjuangkan. Yakni keadilan dan keberlangsungan hidup.

Zonasi bukan solusi

Solusi sementara dari pihak pemerintah maupun negara sebagai stabilitator adalah adanya zonasi transportasi, yang mana adanya pembagian kewilayahan operasi Transportasi Konvensional dan Transportasi Online.

Hal tersebut bukan menjadi solusi yang konkret untuk membenahi konflik perseteruan yag ada. Fenomena pelanggaran Zonasi Transportasi pun kerap ditemui oleh berbagi pihak Transportasi Konvensional. Mereka menyebut para pelanggar yang notabene adalah pihak Transportasi Online sebagai ‘hantu’.

Sugiharto, Anggota Forum Komunikasi Angkot Malang Raya yang juga Seorang sopir jalur trayek ADL mengatakan persaingan angkot konvensional dengan online saat ini tidak sehat.

Sugiharto menyebut transportasi online itu adalah ‘hantu’ karena beroperasi sebelum ada legalitas. Sehingga aktivitas yang mereka lakukan cenderung terlihat seperti mencuri penumpang transportasi konvensional. “Ibarat kita punya hasil, hasil kami lebih barokah,” pungkasnya.

“Terkadang kalo kita tidak jeli kita juga tidak bisa melihat mas mana yang itu orang biasa, keluarga atau transportasi online, mangkanya seperti hantu, itu yang kemudian mematikan transportasi resmi (umum) meskipun konvensional kami resmi dan berizin,” kesal Sugiharto.

Melihat hal tersebut kemudian memang menjadi fenomena penyebutan Transportasi Online sebagai hantu. Terlihat kualitas kontrol terhadap transportasi online pun sangat minim dan belum mampu da nada pastinya.

Quality of control transportasi online itu pun belum dapat dilacak dan diterka. Oleh karena itu Transportasi online ada dimana-mana dan tidak kelihatan, meskipun sudah diwajibkan memakai seragam namun ada beberapa oknum yang nakal tidak menggunakan seragam serta seragam yang dibalik kemudian melanggar aturan zonasi kewilayahan untuk meraup keuntungan.  

Ini yang kiranya menjadi titik kelamahan atas solusi dari Zonasi pembagian kwilatahan transportasi. Solusi tersebut dapat juga dibilang merupakan solusi semu yang ditawarkan oleh pemerintah sementara ini.

Persaingan bisnis 

Pertautan antara Transportasi Online dengan Transportasi Konvensional, merupakan potret persaingan bisnis jasa transportasi. Persaingan yang ketat tersebut yang kemudian menjadi permasalahan yang kerap muncul akhir tahun ini, seiring berkembang pesatnya Transportasi baru berbasis teknologi canggih online.

Keuntungan lebih murah, nyaman serta praktis membuat khalayak masyarakat mudah menerima kehadiran Transportasi online berbasis teknologi canggih tersebut.

Namun, bagaimana kemudian dengan nasib para masyarakat Transportasi Konvensional yang belum memakai teknologi canggih tersebut

Secara logika, yang memiliki dan memakai teknologi akan unggul dibanding yang konvensional, oleh karenannya kondisi seperi itu apabila dibiarkan terjadi persaingan yang tidak sehat, dan kembali kepada mereka yang tidak memakai teknologi akan tersingkir.

Apabila persaingan bisnisn jasa tersebut tidak segera diimbangi maka akan terjadi kesenjangan, konflik horizontal dan bermuara pada naiknya angka kemiskinan dengan penciptaan kondisi persaingan bisnis transportasi yang  fair dan sehat

Kemajuan teknologi merupakan suatu langkah pembangunan, dimana adanya kecanggihan dan nilai kebermanfaatan dalam kehidupan. Era ini, kemajuan teknologi untuk membantu dan menopang kehidupan sehari-hari tidak bisa tampik keberadaanya.

Yang menjadi kekeliruan adalah memaknai pembangunan dalam satu sudut pandang dan sisi saja. Pembangunan yang berarti merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk mencapai suatu kondisi yang lebih baik ini harus dilakukan secara komprehensif segala lini.

Jangan sampai pembangunan dilakukan, namun merusak salah satu sektor lainnya. Misalkan pembangunan ekonomi, namun merusak lingkungan hal tersebut bukan termasuk dari makna pembangunan itu sendiri.

Pembangunan memberikan nilai tambah bukan mengurangi nilai yang ada dan yang lain. Begitupun juga kemajuan teknologi Transportasi online yang merupakan terobosan baru untuk memudahkan kehidupan harus kita serap. Namun problemnya adalah tidak semua masyarakat mampu menguasai teknologi.

Oleh karenannya diperlukan dorongan/stimulus, dari pemerintah untuk memberikan pengetahuan tentang penggunan teknologi yang baik dan benar, melalu pendidikan dan pemberdayaan masyarakat pasti tidak akan terjadi konflik horizontal seperti yang ada di Kota Malang, sebagai contoh ketegangan Transportasi Online dengan Transportasi Konvensional.

Ribuan Angkutan Kota Malang mogok di depan Alun-Alun Kota Malang

Bukan berpikir anti pembangunan, anti kemajuan, namun jangan di fahami kehadiran teknologi yang baik dan bermanfaat kita tolak. Masyarakat harus berpikiran maju dan terbuka. Sementara itu, pasti ada perubahan angkot menjadi sarana transportasi tradisional seperti halnya dulu kereta kuda (dokar), becak, bentor yang kini mulai ditinggalkan.

Namun, tidak seutas apa yang tradisional ditinggalkan. Karena hal tersebut merupakan sejarah yang juga harus dirawat tugas pemerintah untuk mempertahankan agar transportasi tradisional tetap diabadikan dan kita dapat belajar mengenal sejarah sesuai dengan pesan Presiden Pertama kita Ir. Soekarno “Jasmerah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri,” tabik.

Teknologi seolah menjadi modal (capital) baru dalam era kini, oleh peran negara sebagai stabilitator untuk bisa mengontrol dan menstabilkan agar tidak terjadi kesenjangan sosial. Baik dengan pendidikan, pemberdayaan pengetahuan teknologi agar semua orang mampu menggunakan teknologi dan terciptanya persaingan jasa yang sehat tanpa ada dominasi teknologi antara yang memiliki dan tidak memiliki.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here