Ekspansi Ekonomi Cina di Afrika (2)

0
1019

Nusantara.news, Angola merupakan sebuah negara di Afrika sudah dalam pengendalian Cina dan saat ini tidak bisa bayar hutang, sehingga dipaksa menggunakan Yuan/RBB sebagai mata uang seperti yang dilakukan di Zimbabwe.

Ekses dari dominasi Cina dari negara tersebut secara resmi melarang agama Islam. Masjid dan Al Qur’an dianggap sebagai hal terlarang, Sholat, puasa Ramadahan menjadi dilarang keberadaannya. Presiden Angola Jose Eduardo dos Santos mendukung penuh pelarangan ini tanpa mempertimbangkan azas kebebasan memeluk agama bagi rakyatnya. Pelarangan ini ditetapkan melalui Menteri Budaya, Rosa Cruz e Silva yang mengumumkannya secara langsung. Menurut Silva, agama Islam memang belum mendapatkan ijin dari pemerintahnya. Silva lebih jelas menyatakan pelarangan Islam bukan tanpa pertimbangan. Menurutnya Islam tidak sejalan dengan adat istiadat dan budaya masyarakat Angola tanpa merinci budaya apa yang dimaksud. Secara hukum proses legalisasi Islam ditolak oleh Kementrian Hukum dan HAM Angola.

Melanggar HAM dan ekses investasi Cina

Proses pelarangan eksistensi Islam di Angola diyakini bahas tanpa sebut dan tanpa proses panjang. Salah satu penyebabnya adalah serbuan investor dan pekerja dari Cina ke Angola. Langkah Cina di Angola seperti yang dilakukan di Zimbabwe dalam waktu singkat (9 tahun) relatif ekonomi dan pengaruh politik Cina menguasai kebijakan pemerintah. Angola memang belum menggunakan mata uang Yuan/RBB, tapi langkah ke arah tersebut sedang menggejala dan merupakan ancaman bagi negara-negara Afrika.

Keberadaan migas Angola menjadi nilai strategi bagi Cina. Pelanggaran HAM serius bagi umat Muslim di Angola, rupanya tidak menjadi daya tarik penggiat HAM dunia. Menjadi pertanyaan mendasar bagi kita, “Apakah HAM tidak berlaku bagi rakyat di Palestina, Suriah, dan Irak begitu juga di Angola?”

Pelanggaran HAM yang mendasar adalah soal kebebasan memeluk agama. Sudah pantas jika wikileaks, AS mengganggap Cina sebagai pesaing ekonomi yang sangat agresif dan merusak tanpa berazaskan moralitas.

Tugas Taipan Cina di Afrika termasuk Angola adalah melobi pejabat-pejabat terhadap kepentingan bisnis Cina baik sebagai State Capitalism (RRC) maupun Taipan bagian dari Cina’s Overseas.

Salah satunya Wing’s, konglomerat asal Indonesia yang saat ini menjadi pilihan produk-produk konsumen di bisnis retail di beberapa negara Afrika. Perjanjian dagang Cina dengan Afrika juga disertai kerjasama militer. Bantuan persenjataan dan latihan militer disepakati setelah perusahaan-perusahaan minyak Cina melobi para elit militer negara-negara Afrika. Selain untuk mengamankan investasi dan sekaligus meningkatkan perdagangan senjata.

Tahapan Strategi Ekspansi Cina

Cina yang telah memiliki fondasi kekuatan ekonomi di Afrika juga ingin memperluas kemampuan strateginya dalam militer dikawasan Asia Pasifik. Untuk itu Cina membangun pangkalan militer pertama di Afrika Timur, tepatnya di negara Djibouti.

Kelak di Afrika sebagai penguasa dalam budaya juga terjadi alkulturasi budaya, kawin campur etnis Cina dengan Afrika menggejala dan menjadi budaya baru Afrika.

Pembiayaan infrastruktur melalui sektor publik atas private yang dijamin oleh pemerintah dalam bentuk apapun. Sesungguhnya hal ini terus menambah hutang-hutang pemerintah walaupun di neraca (APBN) pemerintah tidak terlihat.

Dilihat dari segi biaya, riset membuktikan skema pembiayaan skema publik/private ala Cina dua kali lebih mahal dibanding pinjaman pada bank pemerintah atau negara menerbitkan obligasi.

Hal ini bisa dipahami karena publik – private mendapatkan bunga yang tinggi dengan kontraktor private menargetkan untuk yang tinggi. Dalam jangka panjang, beban pemerintah mempunyai resiko tinggi, meskipun beban hutang disembunyikan dari neraca resmi.

Prinsipnya negara yang bergantung pada hutang luar negeri ternyata tidak membuat dampak signifikanpada perbaikan struktur ekonomi suatu negara. Pengalaman IMF, World Bank dan ADB hanya menciptakan ketergantungan lewat hutang (Debtrap) sehingga suatu negara kehilangan kedaulatan, ketika tidak bisa membayar hutang.

Tingginya hutang luar negeri seperti yang dialami Indonesia saat ini mencapai Rp 4.320 Triliun atas hampir 30% dari PDB (Product Domestic Bruto) Indonesia tahun 2016. Pertumbuhan ekonomi ternyata tidak berkorelasi penuh dengan ketersediaan lapangan kerja, kesenjangan sosial makin menganga, dan pengangguran semakin terbuka. Sepantasnya Indonesia lebih berhati-hati terhadap tawaran pembangunan dan skema hutang dari Cina.

Apalagi dengan insiden JP Morgan sebagai lembaga pemeringkat dan sekaligus dealer utama surat-surat utang negara (SUN) dimana Indonesia ditempatkan ke posisi tidak disarankan (under weight). Jika Sri Mulyani dan pemerintah Indonesia tidak mampu meyakinkan investor global, tentu keuangan negara (APBN) 2017 akan bermasalah. Sementara hanya Cina yang siap berinvestasi secara besar-besaran di Indonesia, jangan sampai kita terjebak seperti negara-negara Afrika.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here