Anomali dan Konsekuensi Kenaikan Bunga The Fed

0
22
Federal Reserve akhirnya menaikkan suku bunga Fed Fund Rate, kebijakan ini tentu akan disusul oleh kebijakan bank-bank sentral dunia lainnya sebagai respon atas kebijakan moneter tersebut

Nusantara.news, Jakarta – Federal Reserve (The Fed) akhirnya memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25% menjadi kisaran 1% hingga 1,25% menyusul anggapan membaiknya ekonomi negeri Paman Sam itu. Kenaikan suku bunga acuan disinyalir masih akan terjadi pada tahun ini.

Gubernur The Fed, Janet Yellen, mengatakan kenaikan Fed Fund Rate, suku bunga acuan, itu dilakukan karena adanya progres perbaikan ekonomi yang terindikasi dari lapangan kerja terus bertambah dengan solid.

“Ekonomi berjalan baik, dan memperlihatkan ketahanannya,” kata Yellen seperti dilansir dari AFP, Kamis (15/6/2017).

The Fed memprediksi laju inflasi bakal terus naik. Meski akan dipertahankan di bawah 2%.

“Kami memiliki pasar tenaga kerja yang kuat, angka pengangguran menurun ke tingkat yang tidak pernah terlihat sejak 2001. Dan pasar tenaga kerja ini terus menguat,” tambah Yellen.

Ini kenaikan suku bunga ketiga kalinya dalam 7 bulan terakhir. Keputusan ini datang setelah munculnya angka ekonomi kuartal satu yang tidak bagus. Diperkirakan The Fed tidak mau terlalu bergantung pada data dalam memutuskan kebijakannya, demikian analisa Kepala Ekonom dari Fitch Ratings, Brian Coulton.

BI Mewaspadai

Bank Indonesia (BI) diketahui telah mempersiapkan diri mengantisipasi rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat tersebut. Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, antisipasi ini dilakukan untuk menjaga indikator ekonomi di dalam negeri. Suku bunga acuan atau greenback memang sudah diprediksi banyak analis akan naik.

Tahun ini, Agus menyebut kenaikan Fed Fund Rate sudah sebanyak 3 kali. Sejauh ini, kenaikan suku bunga acuan BI Rate baru dilakukan satu kali

“Kami harus menyiapkan diri jika ada kenaikan lagi tahun ini, karena itu ada dampak ke stabilitas sistem keuangan, jadi harus diwaspadai,” kata Agus.

Terkait rencana AS yang akan menurunkan neracanya dari jumlah saat ini US$4,5 triliun, akan dilakukan secara bertahap dan penuh kalkulasi, disambut baik oleh BI.

Agus mengatakan, suku bunga kredit perbankan akan terpengaruh jika The Fed kembali menaikkan suku bunga. “Termasuk ketika Fed Fund Rate naik, itu memungkinkan akan mempengaruhi,” uja Agus.

Saat ini pertumbuhan kredit perbankan nasional memang masih di bawah 2 digit. Namun itu cukup baik dibandingkan pertumbuhan tahun lalu. Bila nanti ada konsolidasi di perbankan dan sudah lebih baik, maka bank bisa menyesuaikan tingkat bunga, karena diperlukan waktu menyesuaikan dengan kondisi ekonomi saat ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kredit perbankan pada Maret 2017 tumbuh 9,24% year on year (yoy). Kemudian tingkat kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross tercatat 3,04%.

Dampak lanjutan

Selain menyebabkan kenaikan suku bunga kredit, kenaikan suku bunga The Fed juga akan berdampak pada jutaan debitor. Dampak ini akan banyak dirasakan di antaranya kesulitan melakukan pembayaran bulanan pada kartu kredit dan jenis hutang lainnya yang akan menjadi lebih mahal.

Meskipun mungkin tidak terdengar banyak di atas kertas, langkah yang diantisipasi Federal Reserve pada Rabu lalu menaikkan target suku bunga acuan hingga seperempatnya memiliki konsekuensi.

Perusahaan jasa informasi keuangan TransUnion menemukan bahwa ketika Fed melakukan langkah serupa kembali pada bulan Desember 2016, sekitar 8,6 juta konsumen tidak dapat mengantisipasi dampak tersebut. Meskipun langkah tersebut menelan biaya rata-rata pemegang utang hanya US$18 per bulan, namun “menimbulkan tantangan finansial bagi jutaan konsumen” dalam tiga bulan setelahnya terjadi, seperti dikutip cnbc.com.

The Fed telah menahan suku bunga mendekati nol selama sekitar tujuh tahun setelah membawanya ke sana selama krisis keuangan. Sejak Desember 2015, bank sentral berusaha menormalisasi kebijakan yang dimilikinya untuk memandu perekonomian keluar dari kemerosotan terburuknya sejak depresi hebat.

Konsumen mengambil keuntungan dari tarif, menggulirkan banyak kredit murah untuk pinjaman konsumen, hipotek dan hutang siswa. Para debitor memiliki total US$3,8 triliun, meningkat 31% selama lima tahun terakhir, menurut data Fed.

Justru melemah

Hal yang tak biasa terjadi, setiap naiknya suku bunga acuan, dampak lanjutannya adalah penguatan mata uang setempat, dalam hal ini dolar AS. Karena ada kenaikan suku bunga, maka dolar-dolar yang bertebaran di manca negara pada balik kandang. Kenyataan yang terjadi sebaliknya.

Kurs dolar AS terus melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia, setelah The Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan untuk keempat kalinya sejak Desember 2015.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,08% pada akhir perdagangan menjadi 96,901. Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi 1,1217 dolar AS dari 1,1205 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik tipis menjadi 1,2748 dolar AS dari 1,2646 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia meningkat menjadi 0,7585 dolar AS dari 0,7539 dolar AS.

Dolar AS dibeli 109,64 yen Jepang, lebih rendah dari 109,97 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9719 franc Swiss dari 0,9686 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,3258 dolar Kanada dari 1.3235 dolar Kanada menurut kantor berita Xinhua.

Data ekonomi AS keluar lebih lemah dari perkiraan. Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk semua konsumen perkotaan yang disesuaikan secara musiman turun 0,1% pada Mei menurut Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat pada Rabu (14/6). Selama 12 bulan terakhir, indeks semua barang naik 1,9%. Sehingga wajar terjadi anomali.

Indeks untuk semua barang minus makanan dan energi meningkat 0,1% pada Mei, dan naik 1,7% selama 12 bulan terakhir.

Sementara itu, perkiraan awal penjualan ritel dan jasa makanan Amerika Serikat untuk Mei turun 0,3% dari bulan sebelumnya menjadi US$473,8 miliar menurut pengumuman Departemen Perdagangan pada Rabu.

Dalam situasi anomali pasar seperti ini, ada baiknya otoritas moneter kita mengukur dampak lanjutan kenaikan bunga greenback. Jangan sampai efek lanjutannya memperburuk ekonomi nasional yang tengah beranjak naik. Terutama tugas BI dan OJK menjaga agar jangan sampai terjadi kenaikan bunga kredit yang tak terkendali.

Perlu ada kebijakan khusus agar dampak kenaikan suku bunga ini sangat terbatas. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here