Anomali Inflasi Turun, Harga Pangan Justru Naik

0
44
Harga komoditas pangan kembali merangkak naik ditengah deflasi di bulan Februari 2019. Anomali ini pada gilirannya akan mengubah posisi inflasi yang mencatat rekor terendah sejak 2009 ini.

Nusantara.news, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini mengumumkan inflasi tahunan pada Januari 2019 sebesar 2,57% (year on year), sementara pada Februari (month to month) justru mengalami deflasi 0,08%. Namun di lapangan harga-harga pangan cenderung merangkak naik.

Ini adalah fenomena anomali dalam pencapaian inflasi yang rendah sejak 2009, namun rendahnya inflasi tidak tercermin pada harga pangan. Bagaimana mungkin dalam kondisi inflasi yang terkendali, justru harga-harga pangan mulai lepas kendali.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti mengungkapkan capaian deflasi Februari 2019 sebesar 0,8% lebih terkendali dari inflasi bulan Januari 2019 yang mengalami inflasi sebesar 0,32%.

Adapun inflasi tahun kalender Januari-Februari 2019 tercatat 0,24% (year to date/ytd).

Dia menyatakan, perkembangan laju Indeks Harga konsumen (IHK) bulan Februari lebih terkendali dari periode yang sama di dua tahun sebelumnya. Di mana pada Februari 2017 terjadi inflasi sebesar 0,17% dan di 2018 inflasi sebesar 0,23%.

BPS diketahui telah melakukan pemantauan di 82 kota di Indonesia. Dari 82 kota tersebut, sebanyak 69 kota mengalami deflasi, sedangkan 9 kota mengalami inflasi.

Pantauan BPS menyebut, deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 2,11% dan deflasi terendah di Serang sebesar 0,02%. Sebaliknya, inflasi tertinggi ada di Tual sebesar 2,98% dan inflasi terendah di Kendari sebesar 0,03%.

Saking rendahnya inflasi pada dua bulan pertama tahun ini, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mempertimbangkan penurunan bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate yang sepanjang 2018 mengalami kenaikan 6 kali ke posisi 6%. Sehingga ada peluang besar BI menurunkan lagi bunga acuan tersebut guna merelaksasi ekonomi.

Artinya, kecenderungan inflasi rendah itu akan dimanfaatkan bank sentral untuk melonggarkan suku bunga, pada gilirannya akan menurunkan bunga perbankan. Pada saat bunga turun, maka kredit akan mengalir lebih banyak ke sektor riil. Inilah logika positif inflasi rendah.

Situasi inflasi yang rendah ternyata berkebalikan dengan kondisi harga komoditas pangan yang justru sedang merangkak naik. Terutama harga beras, minyak goreng, gula pasir, daging sapi, daging ayam dan telur ayam, cabai dan bawang.

Adalah Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) yang mendata kenaikan harga pangan tersebut. Seperti rerata harga beras kualitas bawah naik Rp100 hingga Rp600 per kg menjadi Rp10.550 hingga Rp11.400 per kg.

Sementara beras kualitas medium naik pada kisaran Rp450 hingga Rp500 per kg menjadi Rp12.250 sampai Rp12.400. Sedangkan, beras kualitas super naik Rp50 hingga Rp200 per kg menjadi Rp13.000 hingga Rp13.250 per kg.

Selain beras, harga minyak goreng juga merangkak naik. Harga minyak goreng curah naik rerata Rp950 menjadi Rp12.250 per kg. Sedangkan harga minyak goreng kemasan naik antara Rp400 sampai Rp700 per kg menjadi Rp14.150 sampai Rp15.100 per kg.

Gula pasir lokal dibanderol Rp12.150 per kg atau naik sekitar Rp250 per kg secara rerata, sedangkan gula pasir premium dipatok Rp15.650 atau naik Rp900 per kg.

Selain komoditas di atas, tren harga daging sapi ikut merangkak naik di kisaran Rp2.350 sampai Rp3.850 per kg menjadi sekitar Rp115.350 hingga Rp122.350 per kg.

Bersama daging sapi, harga telur ayam dan daging ayam ras segar juga naik. Masing-masing naik Rp2.200 per kg menjadi Rp26.600 per kg untuk telur ayam ras segar. Sedangkan untuk daging ayam ras segar naik sebesar Rp1.650 per kg menjadi Rp34.400 per kg.

Sementara harga cabai pun tak kalah serius kenaikkannya. Kenaikannya harga cabai bahkan tembus Rp7.850 per kg menjadi Rp38.200 per kg untuk jenis rawit hijau. Sedangkan untuk rawit merah naik Rp5.800 per kg menjadi Rp39.450 per kg.

Hal sama terjadi pada cabai merah keriting dan cabe merah besar yang mengalami kenaikan harga masing-masing di kisaran Rp1.000 dan Rp1.550 per kg.

Adapun, untuk harga bawang merah ukuran sedang dibanderol Rp31.750 per kg atau naik Rp2.750 per kg, sedangkan harga bawang putih ukuran sedang Rp28.400 per kg atau merangkak naik Rp2.300 per kg.

Kalau kenaikan harga komoditas pangan itu sudah terjadi di bulan Maret 2019, maka boleh jadi pada akhir Maret 2019 akan terjadi kenaikan inflasi. Apabila pemerintah tidak segera mengeluarkan kebijakan untuk mengendalikan kenaikan harga pangan itu, boleh jadi ke depan inflasi akan melambung cukup tinggi. Apalagi menjelang bulan ramadhan, boleh jadi akan terjadi kenaikan inflasi lanjutan.

Itu sebabnya kenaikan harga pangan ini jangan dianggap enteng, apalagi diabaikan. Bagitu sekali diabaikan, kenaikan harga terus merambat dan sampai pada level tak terbendung, maka solusi kebiasaan yang diambil pemerintah adalah mengimpor komoditas pangan tersebut.

Kalau sudah sampai disitu, dan biasanya memang begitu, maka lagi-lagi petani yang akan gigit jari. Jadi isu kenaikan harga pangan ini bakal menjadi isu sensitif buat para petani.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here