Anomali Rupiah dan IHSG Pertanda Ekonomi Rapuh

0
187
Rupiah melemah di akhir pekan menembus level Rp13.639, sementara IHSG justru menguat menembus level 6.000

Nusantara.news, Jakarta – Pada perdagangan akhir pekan terjadi anomali pasar, di satu sisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditransaksikan tembus level 6.000, sementara nilai tukar rupiah justru melemha menembus level Rp13.600.

Anomali pergerakan rupiah-IHSG dalam beberapa waktu belakangan terlihat dari rupiah yang cenderung melemah, sementara IHSG menguat. Terkadang pola anomalinya, rupiah melemah di saat mata uang Asia menguat. Ada pula anomali rupiah menguat di saat IHSG melemah dan mata uang Asia melemah.

Menurut data perdagangan Bloomberg hari ini, rupiah dibuka di posisi terlemah Rp13.639 per dolar AS. Namun karena danya unsur intervensi Bank Indonesia (BI) akhirnya rupiah ditutup pada level Rp13.609 per dolar. Itu adalah posisi terlemah sejak Juni 2016.

Sementara IHSG dalam perdagangan pekan ini juga mecatat rekor menembus level 6.000. Pertama tembus terjadi pada perdagangan Rabu (25/10) dimana IHSG menyentuh level 6.025. Bahkan sempat menyentuh level tertinggi 6.042,45, namun ketika penutupan perdagangan melemah kembali ke level 5.995.

Penguatan IHSG dipicu oleh rampungnya pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2018 menjadi Undang-Undang (UU). Ada optimisme pasar sehingga IHSG ditubruk menembus level 6.000.

Ini adalah fenomena pasar biasa karena adanya keanehan dalam fundamental ekonomi kita.

Pengamat Ekonomi & Foreign Exchange Trader Bank Jateng Nandi Wardhana mengatakan, pelemahan rupiah terjadi karena selama Senin-Rabu terjadi net outflow di pasar obligasi sebesar Rp1,51 triliun. Selain itu, sentimen positif bagi dollar AS masih cukup kuat.

Menurut dia, pergerakan rupiah ke depan akan dipengaruhi rilis produk domestik bruto (PDB) AS pada Jumat (27/10).

Selain itu, pada pekan depan notulensi rapat FOMC akan dirilis. Di awal November, AS juga akan merilis data non-farm payrolls.

Lukman meramalkan, hingga akhir tahun, rupiah berpotensi melemah hingga mencapai level Rp14.000 per dollar AS.

BI Intevensi

Melihat rupiah tertekan, BI langsung sigap menahan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini. Terbukti, BI mulai mengguyur pasokan valas (intervensi) di pasar dengan menggunakan cadangan devisa yang dimiliki.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, memang selama ini pergerakan rupiah diserahkan ke mekanisme pasar. Sehingga akan mencerminkan suply dan demand pasar valas di Indonesia itu sendiri.

“Sejauh ini memang pergerakan nilai tukar lebih karena faktor eksternal dan dialami seluruh negara, maka sasaran melakukan stabilisasinya memang diutamakan. Memang Oktober kita banyak melakukan intervensi pasar valas, tapi kita juga mulai lakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” papar Perry.

Dengan intervensi yang dilakukan Bank Indonesia tersebut, dipastikan rupiah tetap dalam koridor yang sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Mengenai cadangan devisa, ditegaskan Perry, meski telah digunakan untuk melakukan intervensi di pasar valas, jumlahnya masih cukup aman. Cadangan devisa BI jauh lebih besar dan jauh mencukupi untuk melakukan stabiliasai nilai tukar rupiah. Itu bisa dilihat dari indikator baik dari sisi jumlah bulan impor dan utang luar negeri, jauh mencukupi dari standar iternasional.

 Daya tahan rapuh

Ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Faisal Basri berpendapat begitu rentannya perekonomian Indonesia terhadap pengaruh eksternal, menandakan ada masalah fundamental dalam struktur ekonomi negara. Faisal bahkan menyebut ekonomi Indonesia tengah mengalami sakit jantung yang kronis.

Dia mengibaratkan gejolak ekonomi global sebagai virus yang bergentayangan di sekitar tubuh ekonomi Indonesia. Apabila daya tahan tubuh prima, maka virus tersebut tidak akan mudah menyerang dan membuat sakit. Sementara jika mudah terserah virus, hal tersebut menurutnya ada yang bermasalah di dalam tubuh.

“Jika sangat rentan terhadap gejolak eksternal, berarti daya tahan ekonomi Indonesia sangat rapuh. Mudah diombang-ambingkan oleh embusan dari luar. Bank Sentral Amerika Serikat baru saja mewacanakan kenaikan suku bunga, kita sudah muntah darah berkepanjangan,” kata Faisal dikutip dari kajiannya.

Dia memberi contoh lain, ketika beberapa waktu lalu Yunani mengalami gagal membayar utang-utangya, Indonesia juga terkena imbasnya. Lalu saat China mendevaluasi yuan, kebijakan tersebut langsung membuat pasar modal dan rupiah masuk angin.

Oleh karena itu, Faisal meminta pemerintah untuk mencari akar dari masalah ekonomi yang rentan tersebut.

“Pertama, jantung perekonomian amat lemah. Kemampuannya menyedot dan memompakan darah amat rendah,” kata Faisal.

Dia menambahkan kemampuan menyedot darah tercermin dari besarnya dana pihak ketiga perbankan yang hanya 40% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan kemampuan memompakan darah terlihat dari besarnya kredit perbankan yang hanya 35,6% dari PDB.

“Bandingkan dengan negara tetangga di ASEAN yang kebanyakan di atas 100%,” tegasnya.

Menurutnya jantung ekonomi Indonesia tidak akan berfungsi optimal jika financial inclusion index Indonesia masih teramat rendah.

“Jumlah kantor bank saja hanya 20.118, melayani penduduk yang berjumlah 250 juta lebih. Sementara hanya 36% orang dewasa yang terhubung dengan layanan perbankan dan lembaga keuangan lainnya,” kata Faisal.

Hal seperti itu menurut Faisal seharusnya telah diketahui oleh pemerintah. Sebab Indonesia telah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kemerosotan ekspor memasuki tahun keempat. Nilai tukar rupiah pun terus mengalami kecenderungan melemah sejak empat tahun silam setelah mencapai titik terkuatnya Rp8.460 per dolar pada 2 Agustus 2011.

“Jadi tidak ada yang baru dan serba mendadak. Bedanya, belakangan ini pemburukan mengakselerasi. Tak usah menyalahkan pihak atau faktor luar sebagaimana kerap diklaim oleh Menteri Keuangan dan Bank Indonesia. Kalau memang murni faktor eksternal, mengapa Indonesia terpuruk sedemikian dalam dibandingkan Vietnam, Filipina, dan Thailand?” katanya.

Berangkat dari masalah-masalah di atas, tampaknya otoritas moneter dan pemerintah perlu bersinergi memperkuat fundamental ekonomi. BI aktif di pasar dengan kekuatan cadangan devisanya, sementara pemerintah menciptakan pompa ekonomi baru sehingga jantung perekonomian ini berjalan lebih sehat.

Solusi teknis yang harus dilakukan agar rupiah tak terus tertekan adalah memperbaiki defisit transaksi berjalan dengan cara mulai membangun industri-industri substitusi impor. Dalam hal ini pembangunan industri jaman Soekarno sebenarnya lebih visioner yaitu Soekarno membangun PT Krakatau Steel dimana baja memang dibutuhkan sebagai bahan baku yang strategis.

Sayangnya sekarang PT Krakatau Steel sudah dijual. Kebijakan industri Soekarno itu tampaknya tak diteruskan di jaman Orde Baru yang menempuh jalan pintas dengan langsung membangun industri hilir berorientasi ekspor padahal bahan baku dan barang modalnya masih impor.

Langkah lain yang diperlukan adalah menarik pulang devisa hasil ekspor yang sekarang masih banyak parkir di bank-bank luar negeri dengan cara misalnya membebaskan pajak bunga deposito hasil ekspor tersebut. Kepulangan devisa hasil ekspor sangat penting untuk meyangga cadangan devisa Indonesia agar lebih kokoh, untuk kepentingan BI menstabilkan nilai tukar rupiah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here