Ansor dan Muhammadiyah Kecam Aksi Genosida Muslim Rohingya

0
142
Ketua Ansor Jatim, Rudi Triwahid kutuk penindasan Muslim Rohingya (Foto:Tudji Martudji)

Nusantara.news, Surabaya – Ratusan anggota Barisan Serba Guna (Banser) dan Ansor Jawa Timur berkumpul di Aula PWNU Jawa Timur, di Surabaya. Mereka datang dari berbagai anak ranting, ranting, cabang dan wilayah di Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan daerah lainnya.

Mengenakan seragam loreng khas Banser, secara bersama-sama mereka melakukan salat gaib, dilanjutkan pembacaan tahlil. Kemudian mendoakan muslim Rohingya di Myanmar agar segera terbebas dari penderitaan dan ketidakadilan.

“Ini aksi keprihatinan kita terhadap sesama muslim, muslim Rohingya yang hingga hari ini mendapat perlakuan tidak manusiawi, di Myanmar,” ujar Ketua Ansor Jawa Timur, Rudi Triwahid usai melakukan salat gaib, Senin (4/9/2017).

Pimpinan Ansor Jawa Timur itu menegaskan, tidak sepatutnya pemerintah Myanmar melakukan pembiaran atas peristiwa pelanggaran kemanusiaan tersebut. Muslim Rohingya diperlakukan tidak manusiawi, dibantai, ditindas dan diusir dari kampung halamannya.

“Kami, Ansor Jawa Timur berkeyakinan bahwa benar telah terjadi tragedi kemanusiaan di Myanmar, tepatnya di daerah Arakan, Rakhine yang menimpa etnis Rohingya. Atas dasar keyakinan tersebut PW GP Ansor Jawa Timur mengutuk terjadinya tragedi kemanusiaan tersebut. Kita berharap kekejaman itu segera dihentikan,” tegasnya, disambut kalimat Allahu Akbar oleh anggota Banser yang mengikuti acara tersebut.

Selain mengutuk tindak kekerasan dan pelanggaran kemanusiaan, Ansor Jawa Timur menyebut anggota Banser dan Ansor di seluurh wilayah Jawa Timur siap ke Myanmar. Memberikan bantuan kemanusiaan kepada Muslim Rohingya yang tengah teraniaya.

“Kita siap memberikan bantuan kepada saudara-saudara Muslim Rohingya. Kita menunggu perintah untuk kemudian berangkat ke Myanmar,” tegasnya.

Lanjut Rudi, teknisnya tengah dirumuskan dan dalam beberapa hari ke depan, anggota Banser dan Ansor di daftar di setiap anak ranting, ranting kemudian ke cabang. Dari cabang kemudian diteruskan ke pengurus wilayah. Dan dikoordinasikan untuk bisa berangkat mengemban misi kemanusiaan ke Myanmar.

“Entah bentuknya seperti apa, atau bergabung dengan tim kemanusiaan internasional silahkan, kita lihat saja nanti,” tambahnya.

Ansor dan Banser Jatim (Foto:Tudji Martudji)

Usai melakukan salat gaib dan membacakan doa, ratusan anggota Banser dan Ansor sambil membentangkan spanduk, mereka kemudian berjalan mengelilingi jalanan di sekitar Masjid Agung.

Masih kata Rudi, selain siap menggerakkan personil Banser dan Ansor, pihaknya meminta kepada semua kelompok masyarakat, tokoh agama, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan untuk menyikapi secara arif dan bijaksana peristiwa Rohingya. Kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar tidak boleh dibiarkan dan harus segera dihentikan. Karena kejahatan kemanusiaan tidak dibenarkan dengan alasan apapun.

“Tetapi kita juga berharap untuk tidak membuat aktivitas yang justru akan membuat keruh suasana,” tegas Rudi didampingi Sekretaris PW GP Ansor Jatim Ahmad Tamim.

Meski melontarkan kecaman, Ansor Jawa Timur mengajak semua pihak untuk menyatukan hati, tekad, semangat dan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dan, tidak memilih diam terhadap setiap ujaran kebencian, permusuhan dan persekusi terhadap minoritas.

Pernyataan Sikap GP Ansor Jatim

1.Mengutuk keras peristiwa tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rohingya di Myanmar, dan meminta kekerasan segera dihentikan.

2.Mengajak organisasi kepemudaan dan masyarakat untuk melakukan aksi solidaritas kemanusiaan dan misi bantuan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya. Serta secara aktif melakukan People to People Diplomacy di kawasan Asia. Tujuannya agar konflik geopolitik di Myanmar tidak merembet ke Indonesia.

3.Mengajak umat Islam di Jawa Timur menggelar salat gaib, ditujukan bagi korban yang meninggal dunia. Mengirimkan doa khusus agar korban yang meninggal mendapat ketenangan. Korban terluka mendapat kesembuhan, korban yang hilang dapat ditemukan sehat dan hidup. Korban yang mengungsi mendapat perlindungan dan keselamatan serta bisa kembali ke negerinya, kembali mendapat perlindungan dan keamanan.

4.Menyerukan kepada semua kelompok masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan untuk menyikapi secara arif dan bijaksana atas tragedi kemanusiaan di Myanmar dengan tidak membuat aktivitas yang justru membuat keruh suasana.

5.Mengajak semua masyarakat di Indonesia untuk ikut melakukan filterisasi dan pencegahan berita-berita hoax dan provokatif yang akan menimbulkan persoalan baru.

6.Menginstruksikan kepada semua kader Ansor di Jawa Timur untuk menjadi motor penggerak harmonisasi di tengah masyarakat, melakukan aksi nyata yang solutif menyikapi tragedi kemanusiaan di Myanmar.

“Kami mengajak seluruh umat Islam di Jawa Timur melakukan salat gaib, ditujukan kepada korban meninggal, mengirimkan doa khusus agar para korban yang meninggal mendapat ketenangan, korban terluka segera mendapatkan kesembuhan. Yang hilang bisa ditemukan dalam keadaan hidup dan sehat. Dan yang mengungsi mendapat pengamanan, perlindungan dan bisa kembali hadir di Negeri Myanmar,” paparnya.

Muhammadiyah Minta BPP Serius Tangani Penindasan Etnis Rohingya

Terkait nasib yang dialami etnis Rohingya, pernyataan sikap juga dikeluarkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Muhammadiyah mendesak agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambilalih penanganan tragedi kemanusiaan di Myanmar.

Peryataan sikap oleh Muhammadiyah itu dituangkan dalam surat bernomor 369/PER/01/H/2017, Terkait Genosida Etnis Rohingya Terkini di Myanmar, yang ditandatangani oleh Ketua, Bahtiar Effendi dan Sekretaris Umum Abdul Muti.

Dalam surat tersebut, Muhammadiyah mengingatkan PBB, bahwa ketidakadaan identitas membuat penderitaan etnis Myanmar semakin panjang. Mereka tidak memiliki akses pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Bahkan, ruang gerak mereka dibatasi hanya pada lingkup geografis tertentu.

Selain meminta PBB untuk serius melakukan penanganan kemanusiaan di Myanmar. Juga meminta Pemerintah Bangladesh untuk membuka perbatasan demi kemanusiaan. Meminta aktivis HAM dan Kemanusiaan di seluruh dunia memberikan perhatian serius terhadap kasus Genosida etnis Rohingya agar kasus kemanusiaan tersebut bisa diakhiri.

Mendesak ASEAN menekan Myanmar untuk menghentikan praktik Genosida terhadap etnis Rohingya. Jika tidak dihiraukan dalam waktu tertentu, maka diharapkan akan dilakukan pembekuan keanggotaan Myanmar sebagai anggota ASEAN.

Aung San Suu Kyi Penerima Nobel Perdamaian (Mercinews.com)

Desak Cabut Penghargaan Nobel Pejabat Myanmar

Mendesak Komite Hadiah Nobel untuk mencabut Penghargaan Nobel Perdamaian bagi Aung San Suu Kyi, salah seorang pemimpin Myanmar. Itu harus dilakukan, karena sebagai pimpinan di Myanmar, nama tersebut tidak layak menerima hadiah nobel perdamaian, tetapi pada kenyataannya militer negara tersebut melakukan pembantaian dan pelanggaran kemanusiaan berat.

Mendesak Mahkamah Kejahatan Internasional untuk mengadili pihak-pihak yang bertanggungjawab atas penindasan dan pelanggaran kemanusiaan terhadap etnis Rohingya. Karena, dinilai kejahatan yang dilakukan oleh negara tersebut sudah kelewat batas dan mencederai semangat ASEAN yang menjungjung tinggi perdamaian dan melindungi warganegaranya.

Selanjutnya, PP Muhammadiyah juga mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk mengevaluasi kebijakan diplomasi sunyi (non megaphone diplomacy) yang selama ini diterapkan kepada Myanmar. Dan, meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk mempertimbangkan disediakannya sebuah kawasan atau daerah di Indonesia untuk bisa menampung sementara para pengungsi Rohingya, yang memang membutuhkan bantuan.

Untuk diketahui, berita terbaru seperti disampaikan juru bicara ERC Anita Schug kepada kantor berita Turki Anadolu Agency, antara 2 hingga 3 ribu Muslim Rohingya terbunuh di negara bagian Rakhine. Itu terjadi hanya dalam waktu tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, kemarin.

Disebutkan, pembantaian keji itu dilakukan oleh militer Myanmar dengan dalih mencari kelompok teroris, atau Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) yang diklaim sebagai gerombolan penyerang pos-pos militer, Jumat lalu.

Sumber lainnya, dikutip dari Al-Jazeera, menyebutkan korban tewas mencapai 800 orang, jumlah itu jauh lebih banyak dari angka yang disampaikan pemerintah Myanmar.

Kemudian, dikutip dari Associated Press, Aung San Suu Kyi dalam pernyataannya mengatakan angka kematian akibat kekerasan di Rakhine sejak Kamis malam hanya 96 orang. Disebutkan, mereka yang tewas sebagian besar teroris Rohingya, 12 di antaranya aparat keamanan.

Kenapa Etnis Rohingya Dibantai?

Melansir The Economist, keberadaan Rohingya dimulai dengan penyebaran Islam di Bangladesh pada abad ke-17 oleh para pedagang Timur Tengah. Saat itu, ribuan warga Muslim Bangladesh ditawan oleh militer Arakan. Sebagian dari mereka dipaksa bekerja di instansi militer, sebagian lainnya dijadikan budak dan dipaksa tinggal di Arakan dengan serba berkekurangan.

Dalam perjalanannya, pada 1785 kerajaan Arakan ditaklukkan oleh tentara Burma. Saat itu gesekan tidak pernah terjadi antara Muslim Rohingya dengan warga asli Arakan. Namun, kondisi berubah sejak Inggris menaklukkan Arakan pada 1825. Myanmar menjadi bagian dari British India, membuat ratusan ribu warga Bangladesh membanjiri Arakan untuk bekerja.

Imigrasi massal memang meningkatkan perekonomian di Arakan, tapi warga setempat marah karena merasa pekerjaan mereka direbut. Warga Rohingya yang telah lama tinggal di tempat itu kena getahnya, mulai dijuluki “Bengali” atau pendatang ilegal dari Bangladesh.

Hubungan kedua etnis kemudian memburuk setelah Perang Dunia II, Inggris mempersenjatai warga muslim untuk berperang dengan warga Rakhine yang kebanyakan memihak kepada Jepang. Hingga kemudian, sampai sekarang etnis Rohingya dinilai berseberangan dengan pemerintah setempat, dan pemeluk Islam tersebut terus dipinggirkan dan berusaha dilenyapkan.

Sejarah Suku-suku di Myanmar

Rohingya, adalah sebuah kelompok etnis Indo-Arya dari Rakhine mereka juga dikenal sebagai Arakan, atau Rohang dalam bahasa Rohingya di Burma. Rohingya adalah etno-linguistik yang berhubungan dengan bahasa bangsa Indo-Arya di India dan Bangladesh. Keberadaan mereka berlawanan dengan mayoritas rakyat Burma yang keturunan Sino-Tibet.

Warga Rohingya dan beberapa ulama menuturkan, mereka berasal dari negara bagian Rakhine. Sedangkan sejarawan lainnya mengklaim bahwa mereka bermigrasi ke Myanmar dari Bengal terutama perpindahannya berlangsung selama masa pemerintahan Inggris di Burma. Perpindahan lainnya terjadi setelah kemerdekaan Burma pada tahun 1948 dan selama periode Perang Kemerdekaan Bangladesh pada tahun 1971.

Literatur lainnya menyebut, Muslim Rohingya telah menetap di negara bagian Rakhine atau Arakan sejak abad ke-16. Meskipun jumlah pemukim Muslim sebelum pemerintahan Inggris tidak tidak diketahui dengan pasti. Setelah Perang Anglo-Burma Pertama tahun 1826, Inggris menganeksasi Arakan dan pemerintah pendudukan mendorong terjadinya migrasi pekerja dari Bengal datang untuk bekerja sebagai buruh tani.

Diperkirakan terdapat 5 persen populasi Muslim yang mendiami Arakan pada tahun 1869, meskipun perkiraan untuk tahun sebelumnya memberikan angka yang lebih tinggi. Selama Perang Dunia II, pada tahun 1942 terjadi peristiwa pembantaian Arakan, dalam peristiwa ini pecah kekerasan komunal antara rekrutan milisi bersenjata Inggris dari Angkatan Ke-V Rohingya yang berseteru dengan orang-orang Budha Rakhine.

Peristiwa berdarah itu menjadikan etnis-etnis yang mendiami daerah menjadi semakin terpolarisasi oleh konflik dan perbedaan keyakinan. Pada tahun 1982, pemerintah Jenderal Ne Win memberlakukan hukum kewarganegaraan di Burma. Undang-undang tersebut menolak status kewarganegaraan etnis Rohingya. Sejak tahun 1990-an, penggunaan istilah “Orang-orang Rohingya” telah meningkat dalam penggunaan di kalangan masyarakat untuk merujuk penyebutan etnis Rohingya.

Pada 2013 sekitar 1,3 juta orang Rohingya menetap di Myanmar. Mereka mayoritas mendiami kota-kota Rakhine utara, di mana mereka membentuk 80 hingga 98 persen dari populasi. Media internasional dan organisasi hak asasi manusia menggambarkan Rohingya sebagai salah satu etnis minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Menghindari kekerasan di daerahnya banyak di antara mereka melarikan diri ke pemukiman-pemukiman kumuh dan kamp-kamp pengungsi di negara tetangga, di Bangladesh. Sebagian besar lainnya, orang-orang Rohingya juga bermukim di sepanjang perbatasan dengan Thailand. Lebih dari 100 ribu orang Rohingya di Myanmar terus hidup di kamp-kamp untuk pengungsi internal, mereka dilarang meninggalkan kamp-kamp pengungsian oleh otoritas setempat.

Penderitaan Muslim Rohingya menyita perhatian internasional setelah terjadi kerusuhan negara bagian di Rakhine pada tahun 2012, meletus. Kemudian, pada 2015 perhatian internasional semakin menjadi, saat gelombang krisis pengungsian berlangsung besar-besaran. Orang-orang Rohingya yang menempuh perjalanan laut menentang bahaya dan banyak yang tewas, saat menuju negara-negara di Asia Tenggara, termasuk hendak ke Malaysia yang menjadi tujuan utama mereka.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here