Setelah Ahok Kalah Dalam Pilkada DKI Jakarta

Antisipasi “Senjata” Dilucuti, China Perantauan Berpotensi Berpolitik Lebih Keras

0
504
Ahok dan Djarot adakan jumpa pers setelah melihat perolehan suara hasil hitung cepat Pilkada Jakarta.

Nusantara.news, Jakarta – Setelah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok,  kalah dalam Pilkada DKI Jakarta 19 April 2017, akankah kelompok China perantauan berhenti berpolitik? Rasanya tidak. Sebab, mereka kadung sudah masuk panggung politik secara terbuka melalui tiga even politik besar, yakni Pilkada DKI Jakarta 2012 yang mengusung Jokowi-Ahok, Pilpres 2014 yang mendukung Jokowi-JK, dan Pilkada DKI Jakarta 2017 yang mengusung Ahok-Djarot. Setelah kalah dalam pertarungan yang sangat keras dan menyentuh NKRI kemarin, maka saat ini China perantauan mungkin mulai khawatir “senjata”-nya dilucuti melalui berbagai regulasi. Hal ini menjadi faktor pendorong mereka berpolitik lebih keras lagi.

Proyek Reklamasi

Salah satu alasan yang diperkirakan akan membuat kelompok China perantauan tidak atau belum akan berhenti berpolitik setelah kekalahan Ahok adalah, proyek reklamasi Teluk Jakarta.  Selain posisi hukumnya yang masih bermasalah, juga karena dana investasi yang sudah kadung tertanam mencapai Rp500 trilun.

Belum lagi proyeksi keuntungan yang akan diperoleh apabila proyek ini sukses, yang menurut Ahok dalam satu kesempatan mencapai Rp 2700 triliun, sebuah angka fantastik, yang lebih besar dari APBN tahun 2017.

Lebih dari itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, dalam pertemuan dengan warga Pantai Indah Kapuk di Restoran Jemahdi, Jakarta Utara, Minggu (19/3/2017), juga menyatakan tidak akan meneruskan proyek raksasa tersebut karena aturannya sudah dibatalkan oleh PTUN. Sandi mengatakan dirinya dan Anies berpandangan bahwa bila reklamasi diteruskan, akan kian menambah ketidakpastian.

Sandi akan mencari solusi untuk pulau yang sudah terbangun. Apa bentuknya? “Pokoknya yang sudah beli enggak boleh rugi, kan pedagang harus cuan (untung), kalau enggak cuan kan repot. Kalau sudah inves enggak mau rugi, kalau status quo, kan mati,” ujar Sandiaga.

Sandiaga bersama-sama dengan pemangku kepentingan, seperti pembeli, pengembang dan pemerintah akan duduk bersama mencari solusi. “Pandangan kami bertolak belakang dengan Pak Basuki. Kalau Pak Basuki memaksakan. Kalau memaksakan menurut saya akan semakin panjang, lebih baik duduk cari solusi,” kata Sandiaga.

Pengembang memang akan diajak duduk bersama mencari solusi. Tetapi, apakah ini dapat diartikan investasi yang sudah ditanam akan kembali? Tidak ada jaminan. Seandainya pun kembali, proyeksi keuntungan yang mencapai Rp2700 triliun rasanya akan melayang alias mustahil diraih.

Ini berarti, pengembang yang sudah menanamkan modalnya di proyek itu, akan mengalami masalah keuangan.

Hal ini tentu saja memiliki konsekuensi luas bagi reputasi mereka sebagai pengusaha. Oleh sebab itu, proyek reklamasi akan mendorong China perantauan terus berpolitik, bahkan mungkin penetrasinya akan lebih keras ketimbang Ahok yang hanya keras dalam kata-kata.

Sebab hanya dengan menggenggam kekuasaan mereka bisa membangun fondasi hukum yang kuat untuk proyek reklamasi, sekaligus menegakkan kembali reputasi sebagai pengusaha yang bebas memicu bisnis di jalan tol yang tanpa hambatan.

Kekalahan Ahok dalam Pilkada DKI yang keras, bahkan sangat keras karena menyulut isu kebinekaan dan NKRI, juga berpotensi menimbulkan efek domino bukan hanya bagi China perantauan yang berpolitik, tetapi juga bagi China perantauan yang tidak neko neko kecuali berbisnis untuk cari makan.

Anies -Sandi memang sudah menyebut rekonsiliasi, namun China perantauan tentu menyimpan kekhawatiran “senjatanya” akan dilucuti melalui berbagai regulasi. Kekhawatiran ini semakin mendorong lagi China perantauan untuk terus berpolitik secara lebih keras dengan menggunakan senjata berupa penguasaan ekonomi yang masih dalam genggaman. Untuk mengefektikan langkah politiknya, tidak tertutup kemungkinan China perantauan mengancam memainkan informasi yang dimiliki terkait prilaku negatif pejabat []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here