Antisipasi Teror Bom LCKA Harus Dihidupkan Lagi

0
110
Pencetus Lomba Cipta Kampung Aman M Iqbal (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Tak salah jika ada yang menyebut kondisi Surabaya pasca ledakan bom di tiga gereja merupakan tamparan amat menyakitkan, sepi, dan menebar ketakutan. Selama ini Surabaya dan Jawa Timur umumnya dikenal sebagai wilayah yang sejuk, aman dari berbagai peristiwa menakutkan. Insiden Minggu pagi itu tak hanya menyita mata pejabat dalam negeri, tetapi juga mata dunia yang ikut terbelalak, mereka kaget keamanan di Surabaya bisa jebol oleh ulah teror.

Kondisi itu terasa hingga dua hari pasca peristiwa ledakan. Ketakutan dan situasi mencekam sempat menghantui warga kota. Tak hanya gereja, sejumlah pusat perbelanjaan ikut terimbas. Padahal, biasanya sangat ramai termasuk saat ada acara bazar murah yang selalu diserbu pengunjung. Kondisi itu diakui oleh sejumlah pengelola pusat perbelanjaan di Kota Pahlawan itu. Misalnya, pengelola mal di kawasan Jalan Basuki Rahmat, yakni Tunjungan Plaza atau yang biasa di sebut TP. Pasca ledakan bom ikut mempengaruhi kedatangan pengunjung.

“Terasa dampaknya, bazar yang biasanya ramai kini sepi pengunjung. Informasi yang masuk, tidak banyak di datangi pengunjung,” terang Humas TP Surabaya, Amanda, saat itu.

Tak hanya di pusat perbelanjaan TP, sepinya pengunjung juga berimbas di Royal Plaza dan Pasar Atom yang menjadi salah satu dari banyak pusat grosir di Surabaya. Suasana pengunjung berbanding terbalik dengan hari-hari biasa yang selalu berjejal pengunjung.

“Mal sepi, di jalanan depan mal juga lengang sekali, tidak padat seperti hari-hari biasanya,” terang Humas Royal Plaza, Rani.

Melina, Humas Pasar Atom menyebut pagi itu banyak toko tutup, dan pengunjung juga berkurang drastis tidak seperti di hari Minggu biasanya saat tidak ada peristiwa ledakan.

“Banyak tenant memilih tutup, pengunjung juga berkurang drastis. Berbeda dengan hari biasa traffic pengunjung bisa sampai empat kali lipat dari hari biasa,” jelasnya.

Pasca-ledakan bom di tiga gereja dipastikan pengunjung tidak ingin susah dengan kondisi keamanan yang mendadak berubah, mereka takut lantaran keamanan terganggu dan sangat beralasan jika sewaktu-waktu bom kembali meledak, entah di mana.

Perketat Keamanan Bandara dan Pelabuhan 

Mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan PT Angkasa Pura I (Persero) pengelola Bandara Juanda juga melipatkan jumlah petugas keamanannya. Tidak tanggung-tanggung jumlah mereka ditambah dari 216 personel menjadi 723 personel, mereka disebar di semua sudut guna meningkatkan pengawasan.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi saat itu melansir, jumlah petugas keamanan dilipatgandakan dua kali lipat pasca peristiwa pengeboman tiga gereja.

Faik menyebut, petugas keamanan yang diturunkan berjumlah total 3.835 personel. Selain berjaga di setia sudut juga disiagakan di beberapa Posko Pengamanan yang juga menjadi pusat sentra bantuan keamanan, jika diperlukan mendadak bisa bergerak cepat. Pihaknya juga menghimbau agar para penumpang untuk bersiap tiga jam sebelum jadwal keberangkatan. Itu lantaran pemeriksaan dimungkinkan akan menjadi lama, karena harus dilakukan dengan teliti.

“Peningkatan pengamanan juga pemeriksaan akan berpotensi menimbulkan penumpukan. Sebab, frekuensi proses pemeriksaan termasuk kendaraan yang akan masuk bandara juga diperketat. Kita harap agar calon penumpang pesawat tiba di bandara tiga jam sebelum jadwal keberangkatan,” ujar Faik.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan (Foto: Tudji)

Selain Bandara Juanda, pengamanan Pelabuhan Tanjung Perak juga di perketat. Petugas keamanan pelabuhan laut yang tergolong sibuk itu menjadi prioritas pengamanan obyek vital nasional. Pasca ledakan bom gereja, pelabuhan yang dikelola PT Pelindo III itu juga meningkatkan koordinasi dengan satuan TNI-Polri. Petugas keamanan dari Pelindo III yakni, dari unsur Port Facility Security Officer (PFSO), quality, health, safety, security and the environment (QHSSE), dan Shiftman on Duty disiagakan dan ditambah jumlahnya.

Corporate Secretary Pelindo III Faruq Hidayat menyebut, masing-masing gugus tugas fokus pada obyek pengamanan yang berbeda. PFSO untuk pengamanan fasilitas pelabuhan secara umum. QHSSE kabagian mengontrol keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan kerja.

“Juga Shiftman on Duty untuk memastikan kinerja operasional bongkar muat tetap berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Tujuannya, kegiatan bisnis tetap berjalan lancar, Pelindo III juga fokus bertugas menjaga efisiensi logistik,” terang Faruq, Senin (14/5/2018).

Spanduk Hujatan dan Lawan Terorisme

Kepanikan, kemarahan campur aduk menghantui benak warga Kota Surabaya. Tanpa ada komando, dipastikan pemikiran mereka sama mengutuk pelaku teror bom dan muncul semangat untuk melawan. Sejak peristiwa keji dan mengerikan itu, di sejumlah sudut dan banyak tempat muncul spanduk bertuliskan kalimat kecaman, mengutuk dan ‘melawan’ aksi teror di antaranya ada kalimat ‘Teroris Jancok’ dan ‘Saya tidak takut, lawan terorisme’.

Kekesalan dan kemarahan dituangkan dalam spanduk “Kami Tidak Takut Teroris Jancok” picbon.com

Salah satunya di lakukan warga di Jalan Ngagel, di perkampungan padat itu terpasang spanduk bertuliskan ‘Teroris Jancok, Ayo Kita Lawan’ ditulis dengan cat hitam dan merah dikaitkan di kedua pohon, dan mudah terbaca oleh pengendara yang melintas.

“Sengaja kita pasang sebagai ungkapan kekesalan terhadap pelaku teror,” ujar Arifin warga setempat.

Mewakili warga di kampungnya pemuda itu mengaku geram dan mengutuk pelaku teror. Bahkan, dia mengaku siap melawan terhadap para pelaku teror.

Rangkaiannya, sejumlah kampung di Surabaya menyepakati menghidupkan kembali penjagaan kampung dengan Siskamling. Itu untuk mengantisipasi munculnya gerakan teror dan masuk ke kampung.

Sehari setelah itu, melalui Surat Edaran Walikota Surabaya No.300/4193/436.8.4/2018, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memerintahkan jajaran Rukun Warga (RW) dan Rukun Tetangga (RT) menghidupkan Siskamling serta mengaktifkan kembali program swadaya masyarakat, melalui Pam Swakarsa.

Menindaklanjuti itu, di Kelurahan Pakis misalnya, yang setiap RT menerima SE Wali Kota Surabaya langsung melaksanakannya. Slamet Juliono, Ketua RT 02/RW 06, Kecamatan Sawahan misalnya mengaku langsung melaksanakannya.

“Setelah terima SE Wali Kota Surabaya, kita langsung sosialisasikan dengan menghidupkan Siskamling, kita buat jadwal untuk seluruh warga,” ujar Slamet, warga Kembang Kuning Kulon.

Ditambahkan, pasca peristiwa ledakan bom di tiga gereja, di lingkungan RW tempat tinggalnya langsung mengumpulkan pengurus RT, mereka merapatkan barisan dan sepakat menghidupkan Siskamling untuk penjagaan kampung.

Per tanggal 23 Mei 2018, di kampung itu mengaktifkan Siskamling dan meningkatkan kewaspadaan. Termasuk mendata jika ada tamu yang menginap dengan mencatat identitas KTP. “Aturan kita tegakkan dengan mencatat identitas KTP bagi tamu yang menginap 1X24 jam,” tambahnya.  Setiap RT, juga warga diminta untuk memberikan laporan jika menjumpai ada indikasi yang janggal termasuk jika ada warga asing masuk ke lingkungan kampung mereka.

Imam, Ketua RW 06 menambahkan pihaknya langsung meneruskan SE Wali Kota Surabaya ke seluruh ketua RT, di wilayahnya. “Kami langsung bergerak cepat selain menyampaikan SE Wali Kota Surabaya, juga untuk mempersempit ruang gerak teroris dengan meningkatkan kewaspadaan terutama di tingkat RT,” tambah Imam.

Pernah Dilakukan M Iqbal, LCKA Harus Digiatkan Lagi

Tak salah jika kegiatan Lomba Cipta Kampung Aman (LCKA) seperti yang pernah dilakukan oleh Kapolres Gresik AKBP M. Iqbal, saat itu kembali dihidupkan untuk menjaga keamanan wilayah.

Saat masih menjabat, M Iqbal melakukan terobosan moncer, dengan pendekatan dan dialog yang kerap dilakukan saat itu, M Iqbal berhasil menghidupkan LCKA di Gresik.

Saat itu, tak kurang dari 5 desa di Kecamatan Kebomas Gresik, terjaring sebagai desa terbaik di LCKA. Lima desa itu adalah Desa Kembangan, Desa Tenggulunan, Desa Sukorejo, Desa Gulomantung dan Desa Sekarkurung.

“Lomba itu adalah gagasan dari Bapak Kapolres Gresik AKBP M. Iqbal saat menjabat, dan itu terbukti memang efektif menjaga ketertiban, ketenteraman dan keamanan lingkungan,” terang M Fahrur Suudi, berbincang dengan Nusantara.news, kemarin.

Di tahap awal, wakil masing-masing peserta diberikan kesempatan memaparkan metode dan sistem pengamanan desanya, dilakukan di hadapan para juri. Juri terdiri dari Kapolsek Kebomas Gresik, Komandan Koramil (Danramil) Kebomas, serta Camat Kebomas.

Ada empat ketentuan yang menjadi dasar penilaian. Yakni, bina mitra meliputi kesadaran dan ketaatan masyarakat dalam menjaga keamanan kampungnya. Unsur lalu lintas, antara lain tentang kesadaran masyarakat dalam mentaati rambu-rambu lalu-lintas. Ketiga, fungsi dan peran intelkam. Misalnya, melatih kepekaan masyarakat terhadap situasi lingkungan dengan melapor ke polisi jika menemukan kejanggalan di wilayahnya. Serta fungsi Reskrim (reserse kriminal).

Saat itu, Desa Sekarkurung misalnya, dengan membawa suporter warganya dari Komunitas Dokar Wisata Sunan Giri ikut menyemangati. Setelah melakukan paparan sistem keamanan dilanjutkan dengan peninjauan ke lapangan untuk memastikan semua yang dipaparkan sesuai dengan kondisi sebenarnya, di kampungnya.

Melihat yang dilakukan M Iqbal, saat itu Kapolda Jatim, Brigjen Pol Praktiknyo memberikan apresiasi, dan berinisiatif untuk menerapkannya di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Bahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kapolwil dan Kapolres se-Jawa Timur untuk memulai program yang dinilai efektif memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Brigjen Pol Praktiknyo menjelaskan, LCKA merupakan ide unik dan kreatif yang pertama kali diadakan oleh Polres Gresik, dan itu patut dicontoh.

”Kami akan mengadopsi program tersebut dan menerapkan di seluruh daerah di Jatim,” ungkap Brigjen Pol Praktiknyo.

Benar, menilik kegiatan itu sangat besar manfaat jika setiap kampung atau desa di Jawa Timur juga di mana saja, jika menerapkan yang telah dilakukan Kombes Pol M Iqbal. Dipastikan keamanan wilayah akan terjaga dengan baik dan kemungkinan aktivitas yang mengarah pada kegiatan pra kejahatan termasuk berkumpulnya orang, apalagi untuk merangkai bom dipastikan akan terdeteksi. Dan, upaya peledakan sebuah tempat atau obyek vital bisa dicegah.

Atasi Trauma Dua Siswa Sekolah Main Bareng 

Guna menghilangkan trauma pasca ledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Surabaya, sejumlah siswa dari dua sekolah, yakni SD Kristen Santa Clara dan SD Muhammadiyah 6 Surabaya, bermain bareng permainan tradisional. Bermain bareng antar siswa ke dua sekolah dasar itu juga dibarengi dengan keakraban sejumlah guru dari kedua sekolah yang ikut hadir dan menyaksikan gelaran keakraban di halaman SDK Santa Clara, yang digelar Kamis (24/5/2018), lalu.

“Main bersama yang dilakukan para siswa ini, adalah salah satu cara untuk menghilangkan perasaan trauma pasca peristiwa ledakan bom di gereja yang berdekatan dengan sekolah ini,” ujar Kepala Sekolah SDK Santa Clara Bernadetna Wiwik.

Dengan masih mengenakan seragam, kedua kelompok siswa sekolah Kristen dan Islam itu membaur. Dengan ceria mereka mengikuti arahan guru, kemudian dengan beregu memainkan permainan tradisional Egrang dan Balapan Bakiak. Sebelum permainan dimulai, masing-masing sekolah juga mengenalkan guru dan pengurus sekolahnya. Termasuk mengenalkan Suster yang tak lain adalah Kepala SDK Santa Clara kepada siswa SD Muhammadiyah, yang datang sebagai tamu di sekolah Kristen itu.

Kepala Sekolah SDK Santa Clara Bernadetna Wiwik (Foto: Tudji)

Auriel Luthfiah (11), siswa kelas 5 SDM 6 itu misalnya, dengan polos mengaku kalau dirinya baru pertama kali menginjakkan kaki di sekolah Kristen itu.

“Senang, bisa datang ke sekolah Kristen ini, mereka juga asyik kita jadi saling kenal dan kemudian bisa main bareng,” ucap Luthfiah.

Seperti disampaikan suster, meskipun berbeda agama semua harus saling menghargai dan mencintai sesama anak-anak Nusantara.

Kemudian, Vinsensius Ferrel Agung (12) siswa SDK Santa Clara, mengungkapkan dengan cara bermain bersama, termasuk dengan siswa dari SDM 6, mereka jadi saling mengenal, menumbuhkan rasa saling cinta dan menghargai. Menurutnya, beda agama tidak harus saling membenci sebaliknya harus saling menghargai dan mengasihi.

“Saya juga pernah main bola bersama anak-anak Islam, kami semua sama, anak-anak Indonesia yang harus saling menghargai,” ucap Ferrel, dengan polos.

Suster Wiwik menambahkan, pihaknya sangat senang menerima kehadiran siswa-siswi SD Muhammadiyah 6 dan bisa bermain bersama anak didiknya. Ke depan, pihaknya akan memikirkan menggelar acara serupa guna terus menjaga jalinan persahabatan antara siswa sekolah dasar. Tujuannya menghilangkan rasa trauma dan kembali menghidupkan rasa percaya diri.

Pihaknya mengakui, pasca terjadinya ledakan bom di gereja yang bersebelahan dengan sekolah membuat anak didiknya sempat ‘terganggu’. Mereka ada yang enggan saat ada yang mendekati, termasuk mengaku mau muntah saat akan masuk ke ruang kelas. Namun, perlahan semua itu hilang, dan pihak sekolah juga memberikan pemahaman kepada para orang tua siswa, agar tidak takut untuk ke sekolah, karena situasi sudah aman dan semua telah berlalu.

Kapolres Ajak Arek Surabaya Gandengan Tangan

Pasca peristiwa ledakan bom di tiga gereja, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan melangkah tegas, bersama TNI membentuk pengamanan petugas gabungan, dari polisi dan TNI, serta elemen samping termasuk untuk menjaga dan memulihkan keamanan di gereja.

“Itu bertujuan untuk memberi rasa nyaman bagi semua warga, termasuk masyarakat yang akan ke gereja,” ucap Kombes Pol Rudi, di GKI Diponegoro satu minggu pasca ledakan.

Dikatakan, rasa aman dan nyaman harus terus ditumbuhkan kepada masyarakat, agar kembali percaya situasi telah kembali normal, termasuk bisa menjalankan ibadah. Rudi menambahkan, pengamanan akan diberlakukan kapan pun untuk mengembalikan situasi aman.

“Sampai kapan pun, kami selalu hadir mengamankan. Hadir pula partisipasi masyarakat, ada PSHT, Bonek, juga Banser ikut hadir. Arek Suroboyo saling berpegangan tangan, memberikan rasa nyaman untuk warga yang lain,” terang Kombes Pol Rudi.

Ditegaskan, Arek-Arek Suroboyo akan terus saling berpegangan tangan untuk menjaga dan mengamankan kegiatan gereja dan memberikan rasa nyaman bagi warga. Sementara, untuk tiga gereja yang terdampak bom, Kombes Pol Rudi menurunkan personelnya lebih banyak, itu untuk memupuk rasa nyaman bagi umat gereja. “Kami ingin menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi jemaat juga seluruh warga, bahwa kondisi sudah normal,” tegasnya.

Senada, Komandan Korem 084 Bhaskara Jaya Kolonel Kavaleri M Zulkifli, yang juga turut mengawal terwujudnya pengamanan Kota Surabaya, berharap tragedi tak berperikemanusiaan tak terulang.

“Kami akan membantu kepolisian guna mengamankan Kota Surabaya,” ujar Kolonel Zulkifli sambil menambahkan ada 300 lebih gereja yang dilakukan penjagaan. Pihaknya juga menyebut pengamanan yang dilakukan juga dibantu oleh masyarakat, yang kesadarannya terus tumbuh.

MUI Kutuk Pelaku Bom

Terkait peristiwa keji peledakan bom gereja di Surabaya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras. “Tindakan tersebut di luar nalar akal sehat dan sudah melampaui batas nilai-nilai kemanusiaan,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi dalam keterangan tertulisnya. Zainut menyebut, pelaku peledakan bom di Surabaya patut diduga sebagai orang yang tidak beragama dan sudah tidak memiliki rasa kemanusiaan.

MUI meminta aparat keamanan menumpas jaringan teroris di Indonesia karena akan menjadi ancaman serius bagi keamanan negara dan masyarakat. Zainut juga mengingatkan aksi terorisme di Indonesia masih memiliki akar kuat dengan jaringan terkait terorisme Internasional.

“MUI meminta kepada aparat keamanan untuk menangkap dalang aksi teror tersebut dan membasmi sampai ke akar-akarnya,” pintanya.

Kembali mengingatkan, peristiwa bom di tiga gereja di Surabaya diledakkan di GKI di Jalan Diponegoro, Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, dan di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Petugas Brimob siaga pasca ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Surabaya (Foto: Tudji)

Pasca peristiwa itu Presiden RI Joko Widodo, didampingi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Menteri Polhukam Wiranto dan sejumlah pejabat lainnya datang meninjau lokasi ledakan.

Kepolisian melansir, pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya dilakukan oleh satu keluarga. Mereka dari jaringan Jamaah Ansharul Tauhid (JAD), dibawah kendali Dita yang meledakkan diri dengan menabrakkan mobil yang ditumpangi hingga menimbulkan ledakan hebat.

Tentu semua berharap peristiwa keji yang terjadi di Surabaya tidak terulang, termasuk di daerah lain di Indonesia. Gerakan menghidupkan kembali Siskamling dan mengaktifkan ronda keliling menjadi langkah awal deteksi dini. Peran Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) dari Polri serta Bintara Pembina Desa (Babinsa) dari kesatuan TNI-AD ikut berperan melakukan deteksi dini, dan masyarakat juga harus ikut mendukung.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here