Apa Dampak Teror Manchester bagi Kontestan Pemilu Inggris?

0
82
Perdana Menteri Inggris Theresa May berbicara dalam acara kampanye pemilihan di Wrexham, Wales, Senin (22/5). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news Ledakan bom “Manchester Arena” yang terjadi di kota Mancheter Senin (22/5) lalu menyisakan duka mendalam bagi warga Inggris, 22 korban yang kebanyakan remaja dinyatakan tewas, puluhan lainnya luka-luka. Seorang pria usia 22 tahun kelahiran Manchester, Salman Abedi, telah diidentifikasi sebagai pelaku pengeboman. Salman yang tumbuh dalam komunitas Libya itu dilaporkan baru saja datang dari Libya setelah berkunjung ke negara itu beberapa minggu lalu.

Tentu saja, aksi teror Manchester telah menimbulkan stabilitas keamanan di Inggris terganggu, apalagi negara itu saat ini tengah menghadapi pemilihan umum yang bakal digelar 8 Juni mendatang. Apa dampak peristiwa teror terburuk di Manchester sejak 2005 lalu itu, bagi para kontestan pemilu di Inggris?

Partai-partai politik di Inggris secara serentak menghentikan kampanye mereka setelah terjadi peristiwa pengeboman. Semua pihak, baik dari kalangan partai konservatif maupun partai buruh, dua partai utama yang bertarung memperebutkan 650 kursi di Majelis Rendah atau parlemen Inggris bergabung bersama mengucapkan bela sungkawa. Mereka sejenak harus melupakan perbedaan politik sebagai dampak sebuah peristiwa teror yang memilukan itu.

Pada bulan April lalu, Perdana Menteri Theresa May telah meminta pemilihan umum di Inggris dipercepat, dengan harapan dapat memanfaatkan popularitasnya yang saat ini tengah meningkat dan kekacauan internal yang terjadi di Partai Buruh, partai oposisi pemerintah. May ingin membangun kekuatan mayoritas di parlemen sehingga memuluskan upayanya melakukan negosiasi Brexit dengan Uni Eropa.

Apakah bom Manchester berpengaruh pada popularitas May yang merupakan Perdana Menteri Inggris saat ini sekaligus pemimpin Partai Konservatif Inggris?

Sejauh ini May masih diharapkan untuk bisa memenangkan Pemilu, setidaknya terlihat dalam sejumlah jajak pendapat baru-baru ini. Selain itu, partai konservatif juga justru semakin mendapat “panggung” dengan peristiwa terorisme, mengingat kebijakan-kebijakan partai konservatif sebelumnya memang lebih memihak kepada pemberantasan terorisme di Inggris.

Di sisi lain, pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn, seorang politisi sayap kiri, sebelumnya telah mengemukakan pernyataan-pernyataan positif tentang Hamas dan Hizbullah, yang bagi warga Inggris justru dianggap dapat meningkatkan risiko serangan terorisme. Corbyn secara pribadi juga sangat tidak populer di kalangan pemilih, konsep-konsep ekonomi populis Partai Buruh yang mencakup penghapusan biaya kuliah dan renasionalisasi perusahaan energi tidak memiliki daya tarik di pemilih Inggris.

Meski belum diketahui secara pasti apa motif di balik pengeboman Manchester Arena, dimana ISIS mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut, tapi peristiwa ini mau tidak mau mengarahkan konsentrasi warga Inggris pada isu terorisme, radikalisasi, dan mungkin isu imigran yang menguntungkan Partai Konservatif dimana partai ini mengidentifikasi dirinya sebagai pembela keamanan perbatasan Inggris, kedaulatan nasional, dan identitas budaya Inggris.

Namun demikian, Theresa May sebagai pemimpin partai konservatif juga menghadapi masalah soal terorisme. Pasalnya, usulan RUU tentang pencegahan ekstremisme yang dia dorong sejak dia menjadi menteri dalam negeri tahun 2015, tidak jelas juntrungannya, RUU itu bahkan terancam gagal di tengah kekaburan dalam mendefinisikan istilah ekstremisme dan nilai-nilai Inggris.

Meski teror Manchester tergolong besar, tapi nampaknya tidak membuat kepanikan dan rasa takut yang berlebihan bagi warga Inggris. Hal tersebut tentu saja akan menentukan lancarnya pemilu Inggris yang tinggal menghitung hari. Situasi ini juga yang akan menjadi perhatian dalam kampanye oleh setiap kontestan pemilu.

Apakah peristiwa teror juga berpengaruh terhadap persepsi publik atas keberhasilan referendum Brexit tahun lalu, yang didukung Konservatif?

Nampaknya tidak akan terlalu berpengaruh, sebabnya masalah ini bukan yang paling menonjol bagi para pemilih saat referendum. Faktanya, ketika itu 50% pemilih sudah mengatakan bahwa Brexit tidak akan mengurangi risiko serangan teroris di Inggris di masa depan. Hanya 6% yang menyebut masalah keamanan sebagai dasar mereka memilih Brexit.

Sampai batas tertentu, publik Inggris mungkin telah menerima risiko terjadinya serangan teroris (Brexit atau tidak Brexit). Jadi, dalam hal ini popularitas Theresa May dengan partai konservatifnya mungkin tidak akan terlalu terpengaruh.

Pemilu Inggris

Perdana Menteri Inggris Theresa May secara mengejutkan mengumumkan pemilu dini di Inggris yang akan dilakukan pada 8 Juni mendatang. Selain perdana menteri Inggris Theresa May merupakan tokoh yang menggantikan David Cameron yang mundur setelah hasil referendum mayoritas memilih Inggris keluar dari Uni Eropa (Brexit).

Percepatan menurut May diperlukan untuk mengimbangi permainan politik oposisi dalam proses Brexit yang tengah berlangsung. May mengatakan, pemilu juga bertujuan memperkokoh popularitas dan mandatnya sebagai kepala pemerintahan.

Partai Konservatif yang saat ini memerintah berharap meraih keuntungan tambahan kursi di Majelis Rendah atau parlemen Inggris. May menginginkan proses “hard Brexit” yang merupakan keputusannya didukung oleh mayoritas anggota parlemen.

Pimpinan Partai Buruh Jeremy Corbyn, partai oposisi pemerintah, juga mendukung pemilu dipercepat. Corbyn juga ingin menaikan posisinya sebagai alternatif efektif bagi Partai Konservatif. Namun Partai Buruh saat ini menjadi lemah karena perpecahan internal. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh berusaha menentang percepatan pemilu.

Selain partai buruh, Partai Demokrat Liberal akan bertarung dalam pemilu Inggris. Demokrat Liberal merupakan mitra koalisi partai konservatif pada era pemerintahan Cameron. Saat ini, Partai Demokrat Liberal menyatakan pro Uni Eropa. Dalam pemilu nanti, partai ini mengharapkan dukungan dari pemilih Partai Buruh yang pro Uni Eropa serta pendukung soft Brexit yang ingin tetap mempertahankan posisi Inggris dalam pasar tunggal Uni Eropa.

Selain partai-partai tersebut sejumlah partai akan ikut dalam pemilu Inggris yaitu: Partai Nasional Skotlandia, yang memposisikan diri sebagai lawan May, UK Independence Party (UKIP), pemain utama  Brexit, Partai Hijau, Partai Uni Demokratik Irlandia Utara, Sinn Fein, dan Plaid Cymru Wales. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here