Apa Hasilnya Debat Capres?

0
61

SEJAK pasangan presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung, mungkin Pemilu 2019 inilah yang paling “panas”. Kedua belah pihak saling serang, dan seringkali menggunakan pilihan kata yang jauh dari keadaban.

Pemilihan umum presiden pun bukan lagi mencari pasangan kandidat yang terbaik, tetapi hanya sekadar mencari pemenang. Oleh karena itu auranya pemilu ini bukan lagi pemilihan, tapi sudah berubah menjadi pertarungan. Pasangan yang satu harus mengalahkan yang lain –dengan cara apa pun.

Mungkin ini semacam pembuktian hidup mati bagi kedua calon presiden. Joko Widodo, sebagai petahana, jelas tak mau dikalahkan. Sebab, kalau kalah, dia akan tercatat sebagai petahana pertama yang keok di pemilu langsung. Sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono, presiden pertama hasil pemilihan langsung pada tahun 2004, berhasil mempertahankan tahtanya pada Pemilu 2009. Jokowi jelas akan berupaya mati-matian mempertahankan “tradisi” petahana selalu menang itu.

Lain lagi bagi Prabowo. Pemilu kali ini merupakan the last battle, pertempuran terakhir, bagi mantan jenderal itu. Dia sudah bertempur di medan pemilu presiden sejak 2004 melalui Konvensi Calon Presiden Partai Golkar, lalu menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Megawati pada Pemilu 2009, dan terakhir menjadi calon presiden pada Pemilu 2014. Semuanya belum berhasil mengantarkannya ke puncak kekuasaan. Tapi, memang, old soldier never dies, tahun ini Prabowo kembali maju. Dengan usianya yang sudah 69 tahun, tentu ini akan menjadi perang pamungkas baginya. Sebab, kecil kemungkinan, dia akan maju lagi pada pemilu berikutnya di usia 74 tahunan.

Suasana psikologis now or never inilah yang membingkai emosi pribadi masing-masing calon kepala negara itu.

Masalahnya, tingkat emosi ini justru lebih tinggi di kalangan tim sukses masing-masing. Itulah yang melahirkan suasana pertarungan. Mereka sering sekali mengatakan bahwa di tahun politik ini hal sekecil apa pun akan dipolitisasi. Tetapi anehnya mereka sendiri yang justru rajin memproduksi “bahan baku” politisasi itu. Politisasi dilakukan massif oleh kedua belah pihak, baik politisasi degradatif terhadap lawan maupun degradasi promotif untuk kawan.

Seperti sering kita bahas, massa politik kita masing sangat emosional. Pilihan mereka didasarkan pada rasa suka atau tidak suka. Massa politik kita belum massa politik yang rasional, yang menentukan sikap dan pilihannya berdasarkan pertimbangan akal sehat. Karena itu, brutal tidaknya massa politik sangat ditentukan oleh gaya para pemimpinnya.

Maka pelaksanaan debat malam nanti sudah menggambarkan kualitas demokrasi kita. Coba saja lihat, KPU akan menempatkan massa pendukung masing-masing di tempat yang terpisah. Langkah tersebut diambil KPU untuk menghindari terjadinya hal-hal yang mengganggu keamanan. “Kita bermaksud untuk memisahkan pendukung 01 dan pendukung 02, agar dapat tercipta suasana yang kondusif, aman, tertib dan terhindarkan dari hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Komisioner KPU Wahyu Setiawan di kantor KPU kemarin (16/1/2019).

Atau perhatikan juga langkah-langkah Polri untuk mengamankan acara debat tersebut. Polda Metro Jaya akan mengerahkan 2.000 personil ditambah bantuan dari TNI dan pengamanan KPU sendiri. “Sudah diantisipasi secara komprehensif oleh Polda Metro Jaya, agar tidak terjadi bentrok fisik,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Mengamankan situasi memang tugas polisi. Sangat tepat jika mereka melakukan langkah antisipasi. Tapi mengerahkan 2.000 personil, jelas luar biasa. Jumlahnya hampir sama dengan personil yang diturunkan mengamankan pertandingan sepakbola di Gelora Bung Karno.

Artinya, kualitas pendukung calon presiden-wakil presiden ini tak jauh beda dengan remaja tanggung supporter sepakbola Indonesia yang mudah sekali melakukan kerusuhan.

Debat malam ini akan menjadi pembuktian banyak hal, tidak saja penguasaan masalah kedua pasangan, kemampuan berpikir cepat, ketrampilan menyusun kalimat yang logis, sistematika pikiran dan sebagainya, tetapi juga kedewasaan meredam emosi. Karena yang menonton mereka adalah pendukung yang kualitas emosinya sekelas remaja tanggung.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here