Apa Mungkin Militer Cina dan AS Menyatu?

0
178
Jenderal Tentara Rakyat Cina (PLA) Fang Fenghui bersama Kepala Militer Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford di Beijing, Selasa (15/8). Foto: AP

Nusantara.news – Kendati Amerika Serikat dan Cina bukan dua negara yang saling bermusuhan secara politik, tapi militer kedua negara besar itu kerap terlibat dalam sejumlah konflik, misalnya dalam masalah Laut Cina Selatan, Taiwan, dan terakhir Korea Utara. Jadi, apa mungkin kedua militer bisa menyatu dalam sebuah kerja sama?

Di kawasan Laut Cina Selatan, militer Cina dan Amerika kerap beradu kekuatan untuk menunjukkan eksistensi masing-masing di kawasan tersebut, seperti mengirim patroli militer di laut maupun udara kawasan ini. Di lapangan, beberapa kali militer Cina hampir terlibat konflik dengan militer AS atau sekutunya (Jepang) yang tengah melakukan manuver di kawasan ini.

Dalam konflik Korea, Cina terus-menerus memprotes militer AS soal penempatan sistem anti rudal THAAD di Korea Selatan, sekutu AS, yang menurut Cina sangat mengganggu sistem pertahanan Cina. Cina juga, senada dengan Korea Utara, memprotes latihan militer AS bersama Korea Selatan di Semenanjung Korea. Baik Cina maupun Korea Utara, menyatakan hal itu tidak membuat keamanan di kawasan semenanjung Korea makin stabil, tapi justru sebaliknya.

Di beberapa kawasan seperti di Afrika, Pakistan-Afganistan, maupun Timur Tengah, persaingan militer AS dan Cina selalu terjadi. AS misalnya, memprotes rencana Cina membangun pangkalan militer di Afrika Selatan atau tepatnya di Djibouti, begitu juga soal rencana Cina membangun pangkalan militer di Pakistan. Di Laut Cina Selatan, reklamasi Cina atas kepulauan sengketa tersebut selalu diawasi oleh militer AS karena Cina diduga membangun pangkalan militer di kawasan ini.

Semua tudingan AS itu tentu saja dibantah oleh Cina, seperti biasanya, Cina menggunakan alasan hanya mengamankan jalur perdagangan dan perekonomian global, bukan membangun pangkalan militer. Padahal ribuan tentara Cina atau yang dikenal sebagai Tentara Rakyat dikerahkan ke sejumlah wilayah.

Dalam hal kekuatan militer, AS saat ini menduduki kekuatan militer nomor satu di dunia, menurut data Global Firepower, disusul Rusia di nomor dua. Tapi Cina yang saat ini menduduki posisi ketiga, terus-menerus menunjukkan kemajuan di bidang militer, misalnya dengan kemampuannya membangun kapal induk. Apalagi Rusia, negara dengan kekuatan militer nomor dua, secara ekonomi sedang menurun. Lagi pula, jika Rusia akan bergabung, dalam posisi saat ini dia akan lebih memilih Cina ketimbang Amerika. Presiden Rusia Vladimir Putin terlanjur kecewa dengan AS yang menjatuhkan sanksi baru terhadap Rusia.

Kerja sama militer AS-Cina

Keberadaan militer AS dan Cina di dunia ibarat dua ekor “harimau buas” yang tidak mungkin menyatu di satu puncak gunung. Oleh sebab itu, upaya untuk menyatukan kedua kekuatan militer ini dianggap hal yang mustahil.

Tapi kemustahilan itu tampaknya akan coba diterobos oleh jenderal militer AS, Jenderal Marinir Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan AS. Selasa (15/8), dia datang ke Beijing menemui jenderal tentara rakyat Cina (PLA), Jenderal Fang Fenghui. Kedua jenderal bertemu, membicarakan prospek kerja sama militer antar kedua negara adidaya ekonomi saat ini.

Kedua jenderal menandatangani kerangka kerja untuk membangun mekanisme komunikasi baru. Tujuannya, untuk meminimalisasi kesalahan perhitungan dalam sejumlah risiko geopolitik di kawasa Asia yang semakin kompleks. Kunjungan ini merupakan yang pertama bagi Dunford ke Cina dalam posisinya sebagai jenderal Kepala Staf Gabungan sejak Presiden AS Donald Trump menjabat presiden.

Dalam pertemuan itu, Jenderal Fang mengatakan, Presiden Xi Jinping dan Trump menilai ada perkembangan yang bersahabat antara kedua militer sehingga dapat mengembangkan cetak biru serta arahan untuk pembangunannya.

“Kerja sama adalah satu-satunya opsi yang tepat untuk Cina dan AS, kedua belah pihak bisa menjadi mitra hebat,” kata Fang.

Sementara Jenderal Dunford juga mengatakan, meski banyak hambatan hubungan kerja sama militer AS dan Cina bisa dibangun

“Meskipun kita mungkin tidak memiliki perspektif yang sama mengenai banyak masalah yang sulit,” kata sang jenderal, “tapi kita memiliki komitmen yang sama untuk menyelesaikannya.”

Kedua jenderal AS dan Cina itu bertukar pandangan mengenai Taiwan, Laut Cina Selatan dan isu nuklir di Semenanjung Korea, serta isu-isu lain yang selam ini menjadi perhatian bersama.

Jenderal Dunford berkunjung ke Cina dalam rangkaian perjalanannya ke Asia. Selain Cina, dia juga mengunjungi Korea Selatan dan Jepang, dua negara sekutu lama AS.

Dikutip dari defense.gov salah satu poin penting dari kerja sama tersebut adalah membangun kontak militer antara AS dan Cina, yang sebetulnya kerja sama tersebut sudah ada sejak lama namun cenderung tidak aktif.

Menurut Dunford kontak antara militer AS dan Cina sangat penting karena pada kenyataannya  akan ada sejumlah gesekan antara kedua negara.

“Kontak militer akan mengurangi kemungkinan terjadinya salah perhitungan,” kata Dunford.

Menurutnya, mengurangi salah perhitungan adalah “standar minimum” yang ingin dicapai dalam kerja sama kontak antar kedua militer. “Kita juga harus mencoba melihat wilayah-wilayah mana untuk bekerja sama,” katanya.

Masalahnya, apa mungkin kerja sama militer antar dua negara yang sama-sama punya ambisi memimpin dunia, dan secara politik kerap bertentangan?

Dalam menyikapi konflik Korea Utara misalnya, Cina telah secara tegas-tegas menyatakan akan campur tangan jika AS memulai invasi lebih dulu ke Korea Utara. Sementara, Cina merasa sudah banyak “mengalah” untuk mengendalikan saudara mudanya itu, dengan menyatakan kecaman terhadap program nuklir Korea Utara di Dewan Keamanan PBB dan rela menyanksi Korea Utara dengan menghentikan impor batu bara, besi, timbal, bijih, makanan laut serta produk-produk lain dari negeri Kim Jong-un itu.

Sebelumnya juga, Cina bersama Rusia mengecam Trump yang tidak bisa menahan diri untuk  ketegangan semenanjung Korea. Bahkan mungkin, jika AS benar-benar menginvasi Korea Utara, Cina dan Rusia-lah negara yang paling mungkin membantu Rusia. Selain karena kesamaan ideologis komunis Cina dan Rusia pula sama-sama negara yang berbatasan dengan Korea Utara.

Jadi, apa mungkin militer AS dan Cina bisa menyatu, mewujudkan kerja sama?

Jika kerja sama tersebut hanya dalam konteks mencegah Perang Korea kedua, mungkin saja. Sebab Cina juga berkepentingan untuk itu, selain juga kepentingan mengamankan kerja sama perdagangan dengan AS, sebab AS juga menggunakan isu Korea Utara untuk negosiasi dagang dengan Cina. Tapi dalam konteks persaingan militer global, dua negara ini sama-sama “harimau buas”, tidak mungkin bersekutu dalam satu kandang yang sama. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here