Apa Pentingnya Asian Games?

0
61

“Pemuda-pemuda dan Pemudi-pemudi datang di Solo ini tidak untuk berolahraga saja, tapi terutama untuk menunjukkan semangat kemerdekaan yang menyala-nyala, diadakan bagi perbaikan derajat dan rohani bangsa.”

BEGITU pidato Presiden Soekarno saat membuka Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Stadion Sriwedari, Solo, 9 September 1948. Jangan membayangkan pembukaan PON pertama itu berlangsung spektakuler seperti pembukaan Asian Games kemarin. Semua serba sederhana. Maklumlah, Indonesia baru tiga tahun merdeka. Itupun dibayang-bayangi ancaman agresi militer Belanda.

Meski namanya pekan olahraga nasional, pesertanya hanya dari Pulau Jawa. Ada 600 orang atlet dari 13 karesidenan di Pulau Jawa yang bertanding di sembilan cabang olahraga. Acaranya pun hanya digelar selama tiga hari, 9-12 September.

Tapi substansi penyelenggaraannya adalah seperti yang dipidatokan Bung Karno: Ini soal kemerdekaan. Nasionalisme yang menggebu-gebu terpancar dari situ.

Bukti nasionalisme itu juga ditunjukkan ketika Indonesia diundang sebagai peserta peninjau pada Olimpiade London di tahun yang sama. Indonesia menolak ikut karena Belanda yang belum mengakui kedaulatan Indonesia mengharuskan seluruh delegasi menggunakan paspor Belanda.

Nah, jika PON I di Solo itu berhasil membakar semangat nasionalisme anak-anak negeri ini, seharusnya ajang Asian Games yang tengah berlangsung ini bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia.

Dukungan, doa, atau tempik sorak masyarakat Indonesia yang mendukung atletnya bertanding tentunya muncul dari kecintaan kepada negara. Rasa dalam hati mereka ikut berlaga, yang tentunya berbeda kadar emosionalnya ketika mereka menonton pertandingan Piala Dunia sepakbola tempo hari.

Ketika pemain taekwondo Indonesia Defia Rosmaniar berhasil meraih medali emas pertama untuk Indonesia kemarin, bisa dipastikan seluruh rakyat Indonesia larut dalam kegembiraan. Semua bersuka cita tanpa ada batas-batas daerah, SARA, atau pilihan politik.

Kegembiraan merata tanpa sekat primordial itu modal yang berharga untuk menebalkan rasa cinta negara. Sorak-sorai, kibaran bendera, atau tepuk tangan itu baru awal, nasionalisme itu harus ditingkatkan ke nasionalisme yang lebih substansial. Nasionalisme yang merujuk pada ideologi dan konstitusi.

Karena itu, setelah membuka Asian Games yang ekstravaganza kemarin, presiden harus segera memastikan apakah seluruh kebijakan sudah nasionalis atau belum. Apakah kebijakan ekonomi sudah melahirkan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, sebagaimana amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945. Apakah cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak sudah dikuasai sepenuhnya oleh negara? Dan banyak pertanyaan mendasar lain sebagai indikator nasionalisme.

Ini penting dipastikan. Sebab, manusia diciptakan berbangsa-bangsa itu adalah fitrah. Tetapi rasa kebangsaan (nasionalisme) tidak barang jadi. Nasionalisme perlu proses penumbuhan. Tempat penumbuhan terbaik adalah wadah negara yang menempatkan rakyatnya di tempat tertinggi.

Kalau rakyat dihargai dan diperlakukan benar-benar sebagai pemegang kedaulatan negara, rasa kebangsaannya niscaya mekar. Jika rakyat tidak terpinggirkan, kebanggaannya sebagai bagian dari bangsa pasti tak akan layu.

Sebaliknya, kalau rakyat tidak pernah didengar suaranya, diabaikan kehendaknya, dizalimi aspirasinya, direndahkan martabatnya, bukankah sangat fitrawi pula apabila tak ada lagi rasa bangga yang tersisa.

Masalahnya, tolok ukur ideologis dan konstitusi tidak pernah dirumuskan.

Inilah yang memprihatinkan bagi Indonesia yang merayakan kemerdekaannya ke 73 tahun ini. Di umur negara setua itu, kalaupun sesama bangsa ini harus bertengkar, semestinya pertengkaran itu tidak lebih dari sekadar memperdebatkan cara, dan bukan tentang dasar. Meminjam terminologi dalam hukum Islam, soal dasar itu bersifat qath’i, sesuatu yang mutlak dan tidak perlu didebat lagi. Sedangkan soal cara, memang harus senantiasa diperbarui, karena berkembang sesuai keadaan.

Barangkali inilah yang membuat bangsa ini tak pernah beringsut maju. Setelah lebih tujuh dasawarsa sebagai negara merdeka, ternyata kita masih bingung soal dasar. Jika kebingungan itu menjangkiti orang-orang yang mengaku dirinya pemimpin, ini lebih dari sekadar memprihatinkan.

Sebab, para elit itu adalah orang yang seharusnya menjaga dan menerapkan common platform tadi. Jika tidak, ada kemungkinan bangkitnya common platform lain yang bisa kontradiktif dengan kesepakatan awal negara ini.

Tanpa itu, kita hanya akan berhenti pada nasionalisme simbolistik, yang geloranya akan segera hilang setelah api di kaldron Asian Games Jakarta ini dipadamkan pada 2 September nanti.

Di situlah pentingnya Asian Games ini bagi kita.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here