Apa Rencana Gubernur BI Baru dengan Rupiah Rp14.200?

0
66
Gubernur BI Perry Warjiyo sudah menyiapkan 4 langkah strategis untuk stabilisasi nilai tukar.

Nusantara.news, Jakarta – Hari ini Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih, Perry Warjiyo, secara sah dilantik menjadi Gubernur BI untuk periode 2018-2023 oleh Mahkamah Agung. Pelantikannya diwarnai pelemahan rupiah di level Rp14.200 per dolar AS. Apakah yang akan ditempuh Gubernur BI Perry Warjiyo untuk menstabilkan rupiah?

Perlu diketahui, faktor melemahnya rupiah saat ini tidak tunggal, namun ada berbagai faktor penyebab. Mulai dari efek rencana kenaikan bunga Fed Fund Rate (FFR), perang dagang AS-China, defisit transaksi berjalan dan defisit pembayaran (defisit kembar), besarnya beban pokok dan bunga utang, sampai pada aksi spekulasi para investor lokal dan asing.

Oleh sebabnya, diperlukan bauran kebijakan yang cespleng baik di internal BI, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun bauran kebijakan bersama yang mempengaruhi penguatan rupiah.

Asumsi nilai tukar rupiah sebenarnya sudah ditetapka dalam APBN 2018 sebesar Rp13.400, namun realisasinya hari ini sudah mencapai Rp14.200. Tentu saja pelemahan rupiah ini dapat menjadi faktor penekan ruang fiskal dan kinerja dunia usaha.

Lain halnya buat para eksportir mungkin mereka akan senang dengan melemahnya rupiah, karena pendapatan mereka dalam denominasi dolar AS akan lebih besar nilainya jika dikonversi dengan rupiah menyusul adanya laba selisih kurs.

Sayangnya para eksportir masih banyak yang menaruh likuiditas hasil ekspornya di perbankan luar negeri. Akan lebih elok jika mereka meletakkan likuiditas hasil ekspornya di perbankan dalam negeri agar nilai tukar rupiah bisa lebih percaya diri.

4 Langkah strategis

Lantas, dengan komplikasi masalah rupiah seperti di atas, apa rencana Gubernur BI yang baru, Perrry Warjiwo?

Perry sendiri mengaku sudah menyiapkan langkah-langkah strategis jangka pendek dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah. Perry berjanji, pertama, akan memprioritaskan kebijakan moneter untuk bisa menstabilkan kurs dengan lebih mengkombinasikan kebijakan suku bunga dan intervensi ganda.

“Ke depan, BI akan lebih responsif dan lebih maju dalam pengambilan kebijakan suku bunga,” ujarnya usai dilantik Mahkamah Agung hari ini.

Sebelumnya Gubernur BI Agus Martowardojo pada akhir masa jabatannya, 18 Mei 2018 lalu, menaikkan suku bunga acuan 7-Days Repo Rate sebesar 25 bps. Sehingga suku bunga acuan meningkat dari level 4,25% menjadi 4,5%.

Kedua, Perry akan melakukan intervensi ganda untuk menstabilkan, mensuplai foreign exchange, serta membeli surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder. Hingga saat ini, BI sudah membeli sebanyak hampir Rp50 triliun SBN yang dijual oleh asing sejak awal tahun hingga saat ini. Yang paling banyak pembelian SBN dilakukan bulan Mei 2018 dengan nilai sudah mencapai Rp13 triliun di pasar sekunder.

Ketiga, Perry akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan OJK untuk melakukan langkah-langkah bersama dalam menstabilkan kurs rupiah. Misalnya dalam hal lelang SBN, melakukan buy back, serta mendorong pertumbuhan, dan stabilitas keuangan.

Keempat, dalam waktu dekat Gubernur BI berencana untuk bertemu dengan kalangan perbankan serta pelaku usaha. Pertemuan itu bertujuan untuk meyakinkan dua kalangan tersebut ihwal pentingnya menjaga stabilitas keuangan dan membentuk persepsi positif dalam kondisi perekonomian saat ini.

“Persepsi ini kan ada beberapa misinformasi sehingga membutuhkan banyak komunikasi, koordinasi, serta pertemuan untuk menyamakannya,” demikian Perry Warjiyo

Belum cukup

Jika melihat kompleksitas penyebab melemahnya nilai tukar rupiah belakangan ini, langkah-langkah yang dipersiapkan Gubernur BI Perry rasanya tidak cukup. Diperkirakan rupiah masih akan melemah dan terus melemah. Federal Reserve saja sudah men-sounding bahwa akan menaikkan suku bunga acuan FFR antara tiga empat kali dalam tahun 2018.

Karena itu, BI perlu juga mengumumkan rencana kenaikan suku bunga acuan dua hingga tiga kali lagi. Langkah ini penting untuk mengimbangi kebijakan moneter Amerika, perkara kebijakan itu dieksekusi, ditunda atau dibatalkan, itu lain persoalan. Langkah Federal Reserve benar-benar telah membuat dolar AS pulang kandang.

Selain kembali menaikkan suku bunga acuan, Perry juga perlu memastikan dana-dana hasil ekspor diwajibkan parkir di perbankan nasional di dalam negeri. Langkah ini penting agar dana-dana hasil ekspor tersebut bukan malah dijadikan sebagai alat spekulasi sesaat guna mendapatkan marjin selisih kurs.

Selain itu, Perry Warjiyo, perlu membuka diri terhadap perkembangan teknologi saat ini. Gubernur BI perlu mendorong pertumbuhan bisnis pembayaran elektronik oleh pelaku financial technology (fintech e-payment). Langkah ini perlu dilakukan karena generasi milenial sangat akrab akan perubahan teknologi informasi, termasuk financial technology (Fintech).

Diupayakan pengembangan Fintech yang kabarnya sudah mencapai belasan triliun, diprioritaskan menggunakan denominasi rupiah.

Peluang bisnis fintech e-payment saat ini terbuka lebar bagi pemain baru. Saat ini, baru ada 15 perusahaan fintech e-payment yang terdaftar di BI.

Adapun total transaksi uang elektronik per 2017 mencapai 943 juta transaksi senilai Rp12,3 triliun. Nilai transaksi itu naik 74,2% dalam satu tahun terakhir. Jumlah transaksinya, ujar Bhima, diprediksikan lebih dari 80% per tahun.

Pemerintah sendiri menargetkan Indonesia bisa menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia pada 2020 dengan valuasi industri ekonomi digital US$130 miliar. Untuk mewujudkan pertumbuhan fintech e-payment, Perry harus menyederhanakan prosedur izin usaha (single window policy). Saat ini, ada sebelas kementerian atau lembaga yang bersentuhan dengan izin fintech.

Tak hanya itu, Gubernur BI dapat mendorong kolaborasi antarbank dan pebisnis fintech sehubungan dengan sistem pembayaran. Kalau perlu, diberi insentif, sehingga transaksi bisa lebih murah dan cepat. Langkah-langkah di atas sedikit banyak dapat menggairahkan perekonomian nasional, sekaligus mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Tinggal kita ikuti saja langkah-langkah fantastik Gubernur BI Perry Warjiyo di atas, apakah akan efektif, atau masih memerlukan tambahan dosis kebijakan alias doping tambahan agar rupiah segera mendekati face value yang sesungguhnya.

Dengan rupiah yang undervalued, tentu saja akan merugikan banyak pihak. Tanpa kecuali akan membuat gerak APBN semakin sempit, membuat rakyat semakin terjepit.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here