Apa yang Terjadi Jika Donald Trump Dimakzulkan?

0
154
Foto: ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news, Washinton – Sejumlah skandal yang menimpa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dianggap bisa mengarah kepada pemakzulan (impeachment). Salah satunya, terkuaknya upaya Trump menghalangi penyelidikan Biro Investigasi Federal (FBI) atas keterlibatan Rusia dalam Pilpres yang dimenangkan Trump tahun 2016 lalu. Trump akhirnya memecat Direktur FBI James Comey beberapa waktu lalu.

Seperti dilaporkan The Guardian, Rabu (18/5) bahwa ada sejumlah kemiripan antara skandal kampanye Trump yang melibatkan Rusia dengan Watergate. Dalam hal ini, kemiripan tak terelakkan saat terkuak bahwa Trump ternyata sempat meminta Comey untuk membatalkan penyelidikan tersebut.

Terungkapnya permintaan itu membuat sejumlah politisi AS, termasuk mantan capres dari Partai Republik, John McCain menyebut bahwa skandal Trump mirip dengan skandal Watergate.

Watergate (1972-1974) sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan serangkaian skandal politik di AS yang mengakibatkan pengunduran diri Presiden Richard Nixon pada 1974.

Sama dengan Trump, Nixon juga sempat mencoba menghentikan penyelidikan FBI. Sehingga kemudian menyebabkan Senat AS membentuk komite untuk menyelidiki Nixon yang berujung pada tuntutan Senat agar Nixon dimakzulkan. Namun, sebelum usulan itu disetujui Kongres AS, Nixon lebih memilih mengundurkan diri pada 8 Agustus 1974.

Trump telah beberapa kali melakukan kecerobohan yang menyinggung komunitas intelijen AS. Terakhir, pekan lalu mantan pengusaha properti ini dituding membocorkan informasi intelijen yang sangat sensitif kepada pihak Rusia dalam pertemuan di ruang Oval Gedung Putih. Padahal informasi mengenai Islamic State (IS) berasal dari intelijen mitra AS yang tidak boleh disebarkan ke pihak lain, apalagi ke Rusia.

Baca: Bocorkan Informasi Intelijen ke Rusia, Trump Dianggap Bahayakan Negara

Meski presiden AS secara hukum memiliki hak memberi informasi rahasia ke pihak mana pun, tapi Trump bisa dinilai melanggar sumpah jabatan atau bahkan melakukan pengkhianatan terhadap negara dalam kasus ini, karena apa yang dilakukannya dianggap mengancam keselamatan negara. Sejumlah kalangan menilai Trump bisa dimakzulkan dari kekuasaannya sebagaimana skandal Watergate yang menumbangkan Presiden Richard Nixon.

Terungkapnya permintaan Trump agar Comey menghentikan penyelidikan terhadap Flynn  pertama kali dipublikasikan The New York Times pada 16 Mei 2017.

“Saya harap Anda bisa menemukan jalan untuk membiarkan Flynn. Dia orang baik. Saya harap Anda dapat lupakan hal ini,” tulis Trump dalam memo kepada Comey seperti dilansir The New York Times.

Flynn adalah penasehat keamanan nasional Trump yang kemudian akhirnya mengundurkan diri karena tak ingin posisinya menjadi bumerang buat sang presiden.

Sebelum mundur, Flynn juga sempat mengakui bahwa dirinya sempat berkomunikasi dengan diplomat Rusia. Namun Flynn membantah komunikasi tersebut terkait dengan kampanye Trump. Flynn kemudian digantikan oleh jenderal H.R. McMaster yang dikenal anti-Rusia.

Siapa yang menginginkan pemakzulan?

Pada Senin lalu, anggota Kongres Demokrat dari wilayah Texas Al Green mengadakan konferensi pers untuk meminta pemakzulan Donald Trump.

Pemecatan direktur FBI James Comey, kata Green, merupakan sebuah penyumbatan terhadap keadilan, yang termasuk sebagai “kejahatan tinggi dan pelanggaran” yang ditentukan dalam konstitusi sebagai alasan untuk pemakzulan.

“Presiden mungkin telah melanggar sumpah jabatannya,” menurut seorang analisis di Lawfareblog.

“Sangat sulit untuk mengatakan bahwa dengan ceroboh memberikan materi yang sangat sensitif kepada kekuatan musuh merupakan

eksekusi dari kesetiaan pada jabatan presiden.”

Tuduhan pelanggaran sumpah jabatan selalu menjadi inti pada setiap kasus pemakzulan presiden sebelum-sebelumnya.

Skandal terakhir sebetulnya hanya memperkuat alasan untuk kembali mengangkat isu pemakzulan presiden AS yang baru menjabat kurang dari tiga bulan itu. Tak lama setelah Trump dilantik, isu pemakzulan sebetulnya telah berhembus. Mulai dari tudingan bahwa Trump memanfaatkan jabatannya sebagai presiden AS untuk kepentingan raksasa bisnisnya dan keluarganya, sejumlah perintah eksekutif yang bertentangan dengan konstitusi AS sehingga beberapa di antaranya dibatalkan oleh pengadilan, hingga skandal kampanye pemilu yang melibatkan Rusia.

Bukan tidak mungkin, upaya-upaya untuk menuju pemakzulan Trump sudah bergulir di Senat AS, terutama oleh para senator Demokrat yang sejak awal tidak begitu nyaman dengan terpilihnya Trump. Yang jelas, senator Al Green dari Texas itu pasti tidak bergerak sendirian.

Mungkinkah Trump dimakzulkan?

Pemakzulan bukan barang baru di AS, tapi dalam sejarahnya belum ada presiden AS yang jatuh karena pemakzulan. Selain Nixon, dua presiden AS Bill Clinton (1998) dan Andrew Johnson (1868) juga pernah mengalami pemakzulan, kedua terakhir dimaafkan Kongres, kecuali Nixon yang mengundurkan diri sebelum Kongres AS memutuskan sikap.

Menurut konstitusi AS pemakzulan terjadi jika mayoritas anggota senat di DPR AS menyetujui pasal-pasal pemakzulan. Kemudian pemakzulan diajukan ke Senat, dimana dua pertiga suara mayoritas diminta untuk menghukum presiden, yang kemudian akan dipecat dari jabatannya.

Pengkhianatan, penyuapan, atau kejahatan berat lainnya dan pelanggaran ringan” menurut konstitusi AS bisa menyebabkan presiden AS dimakzulkan asalkan mendapat persetujuan senat AS. Jadi, mungkin saja Trump dimakzulkan jika senat menyetujuinya.

Berapa lama proses pemakzulan di AS berlangsung? Dalam kasus Presiden Clinton pemakzulan berlanjut ke Kongres AS dalam waktu relatif cepat, sekitar tiga bulan. Meskipun penyelidikan kasus Bill dan Hillary Clinton berlangsung selama bertahun-tahun, termasuk skandal perselingkuhan Lewinsky oleh jaksa khusus Kenneth Starr yang mendahului pemakzulan.

Apa yang terjadi jika Trump dimakzulkan?

Perlu dicatat bahwa Nixon, seorang Republikan, menghadapi pemakzulan dalam sebuah kongres yang dikendalikan Partai Demokrat dan Clinton dimakzulkan oleh Kongres yang dikuasai Republikan.

Oleh karena itu, tidak mungkin Trump bisa dimakzulkan jika senat tidak dikuasai oleh Demokrat. Itu sebabnya, persetujuan dasar Partai Republik atas Trump menjadi penting. Jika pemilih Partai Republik tidak meninggalkan sang presiden, maka anggota Kongres dari Republik sulit menerima pemakzulan.

Kecuali misalnya, Kongres Partai Republik tertarik melakukan pemakzulan agar Trump “jatuh”, sehingga kemudian wakilnya Mike Pence, bisa menggantikannya. Pence merupakan seorang mantan anggota kongres dan merupakan politisi konservatif tradisional yang dianggap jauh lebih nyaman bagi anggota kongres Republik dan lebih dapat diprediksi ketimbang Trump.

Apakah Trump akan menolak dimakzulkan? Jika melihat, misalnya peringatan anggota Kongres soal krisis konstitusi yang ditimbulkan Trump tak lama setelah dilantik sebagai presiden, Trump yang “menghina” hakim pengadilan, pengadilan yang memblokir perintah eksekutif Trump, dan lain sebagainya, menunjukkan bahwa Trump tak begitu peduli dengan krisis konstitusi.

Jadi, jika dia dimakzulkan pun mungkin saja dia akan menolak, dan dia tidak akan peduli meskipun hal itu akan menimbulkan krisis konstitusi di AS yang berkepanjangan. Apa yang akan terjadi, sulit dibayangkan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here