Babak Baru Bisnis Pertamina (1)

Apakah Blok Rokan Jadi Berkah Atau Bencana?

0
88
PT Chevron Pacific Indonesia mulai 2021 menyudahi masa kontraknya di Blok Rokan, sebagai ganti pemerintah menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai operator baru. Akankah Pertamina sanggup mengambil amanah ini?

Nusantara.news, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk mempercayakan pengelolaan Blok Rokan kepada PT Pertamina (Persero). Praktis mulai 2021, Pertamina benar-benar menjadi tuan rumah di tanah sendiri.

Keputusan ini murni diambil atas dasar pertimbangan bisnis dan ekonomi setelah mengevaluasi pengajuan proposal Pertamina yang dinilai lebih baik dalam mengelola blok tersebut dibandingkan pengelola lama, yakn Chevron Pacific Indonesia.

Indikasi utamanya kelebihan proposal Pertamina adalah, Signature Bonus yang disodorkan Pertamina sebesar US$784 juta atau sekitar Rp11,3 triliun dan nilai komitmen pasti sebesar US$500 juta atau Rp7,2 triliun dalam menjalankan aktivitas eksploitasi migas.

Besarnya angka tersebut juga membuktikan bahwa secara finansial Pertamina masih dalam kondisi sehat.

Terpilihnya Pertamina sebagai pengelola, akan meningkatkan kontribusi Pertamina terhadap produksi migas nasional. Sejauh ini, porsi Pertamina produksi migas nasional telah meningkat dari sekitar 23% saat ini, menjadi sebesar 36% pada tahun 2018 dan 39% tahun 2019 saat blok migas terminasi mulai aktif dikelola Pertamina.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan, nilai tambah yang didapat dari keputusan ini adalah menjadikan Pertamina sejajar dengan world top oil company yang mampu menguasai 60% produksi migas nasional pada tahun 2021.

Blok Rokan sendiri termasuk blok migas yang bernilai strategis. Produksi migas Blok Rokan saat ini menyumbang 26% dari total produksi nasional. Blok yang memiliki luas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan. Tiga lapangan berpotensi menghasilkan minyak sangat baik, yaitu Duri, Minas dan Bekasap. Tercatat, sejak beroperasi 1971 hingga 31 Desember 2017, total produksi Blok Rokan mencapai 11,5 miliar barel minyak.

Melalui keputusan ini juga Pemerintah turut mendukung kemampuan keuangan Pertamina yang ditugaskan sebagai perpanjangan tangan Pemerintah dalam menjalankan fungsi pelayanan publik dalam penyediaan energi dengan harga yang terjangakau ke seluruh tanah air, seperti program BBM Satu Harga.

Beberapa kabar baik

Dari keunggulan Pertamina terhadap Chevron di Blok Rokan ini menggambarkan betapa pemilihan BUMN migas lokal ini ada momentum yang tepat. Yakni di saat keuangan Pertamina sedang morat-marit, sehingga ada bantalan potensi keuangan baru walaupun mulai dirasakan pada 2021.

Lepas dari itu semua, ada beberapa kabar baik dan patut diapresiasi dari penugasan Pertamina mengelola Blok Rokan. Pertama, sejak 2021 akan ada tambahan lifting atau produksi minyak di dalam negeri dari 23% menjadi 60% dari cadangan 1,5 miliar barel yang ada.

Kedua, konsekuensinya adalah jumlah impor minyak mentah sebesar 800.000 barel per hari akan berkurang signifikan menjadi sekira hanya 200.000 hingga 300.000 barel per hari.

Ketiga, oleh karena jumlah impor minyak mentah dunia menurun drastis, maka kenutuhan dolar AS untuk impor menyak mentah juga akan berkurang. Ini artinya tekanan terhadap rupiah akan berkurang, ini juga berarti nilai tukar rupiah berpotensi menguat hingga ke level sedikitnya Rp10.000 per dolar AS.

Keempat, Pertamina sebagai operator baru Blok Rokan akan memperoleh income tambahan hingga US$57 miliar atau sekira Rp825 triliun setiap tahun selama 20 tahun ke depan hingga 2041.

Kelima, dengan adanya tambahan income tersebut, maka sejak 2021 laba bersih Pertamina bisa melonjak drastis sehingga mengalahkan kembali perolehan laba bersih Petronas. Pada 2015 laba bersih Pertamina mencapai Rp18 triliun, namun pada 2016 laba bersih itu melonjak hingga Rp42 triliun. Pada 2017 kembali turun karena beban penugasan dari Pemerintah yang berat hingga laba bersih itu turun menjadi Rp36 triliun. Maka sejak 2021 diperkirakan laba bersih Pertamina bisa menembus level Rp100 triliun.

Keenam, dan ini yang menggembirakan, harga BBM akan turun drastis karena selain import content merosot drastis, nilai tukar rupiah juga menguat kembali. Sehingga secara otomatis harga minyak bersubsidi, terutama harga minyak komersial akan turun ke level yang lebih bisa diteriima masyarakat.

Ketujuh, dengan cadangan laba bersih yang besar, maka Pertamina bisa menyisihkan sebagian laba ditahan dan untuk kepentingan investasi. Sehingga Pertamina bisa mengelola ladang-ladang minyak baru yang kabarnya juga akan dialih operasikan dari asing ke Pertamina.

Sampai di sini gambarannya memang menakjubkan, kalau tidak bisa dikatakan membanggakan. Itu sebabnya nota kesepahaman (memorandum of understanding—MoU) Blok Rokan ini harus segera dijemput Pertamina. Tujuannya tentu agar pemerintah tidak berubah pikiran, disamping juga mengantisipasi tekanan Amerika.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here