Apakah Pertumbuhan Ekonomi 2018 Sebesar 5,4% Realistis?

0
128
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4% dapat terealisir karena sangat realistis

Nusantara.news, Jakarta – Dalam Rapat Kerja Komisi XI dengan Menteri Keuangan, Kepala Bappenas, Bank Indonesia (BI), dan Badan Pusat Statistik (BPS), menyepakati beberapa asumsi makro ekonomi 2018, terutama pertumbuhan ekonomi yang dipatok pada level 5,4%.

Banyak kalangan yang optismistis target pertumbuhan ekonomi 5,4% itu akan mudah dicapai. Tapi tidak sedikit pula yang meragukannya karena dianggap tidak realistis.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan target pertumbuhan ekonomi yang dipasang oleh pemerintah cukup realistis. Meski kerap dinilai terlalu tinggi di tengah posisi perekonomian dunia yang belum stabil, Menkeu menilai pertumbuhan ekonomi 5,4% merupakan angka yang optimis namun tetap realistis.

Sri mengatakan, untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah akan mendorong dan memperkuat seluruh sumber pertumbuhan. Beberapa di antaranya, konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor, dan belanja pemerintah yang lebih produktif dan efisien.

Untuk bisa mencapai target tersebut, pemerintah perlu menjaga pertumbuhan konsumsi domestik sebesar 5,1%. Realisasi tersebut harus didukung dengan stabilitas harga bahan pokok dan ketersediaan pasokan pangan akan dijaga. Program bantuan sosial yang komprehensif dan lebih tepat sasaran akan diperkuat.

“Momentum perbaikan tersebut perlu dipertahankan dan ditingkatkan untuk mewujudkan pertumbuhan yang lebih baik ke depan,” ujar Menkeu.

Sri Mulyani juga menjelaskan pertumbuhan investasi di Indonesia pada 2018 ditargetkan menyentuh angka 6,3%. Ia mengatakan investasi akan didorong melalui keberlanjutan pembangunan proyek utama nasional serta berbagai kebijakan simplikasi peraturan, percepatan dan mempermudah kegiatan usaha serta proses bisnis yang dilakukan pemerintah.

Selain itu, untuk bisa menekan defisit neraca perdagangan, Sri Mulyani mengatakan kinerja ekspor pada 2018 diharapkan tumbuh 5,1%. Sementara, impor difokuskan untuk stabilisasi dan pemenuhan kebutuhan prioritas seperti proyek infrastruktur, pangan, dan bahan baku dengan tetap memperkuat produksi dalam negeri.

“Pemerintah akan mendorong ekspor melalui pengembangan pasar baru yang potensial, peningkatan peran UKM berorientasi ekspor, promosi destinasi wisata Indonesia,” ujar Sri.

Ia juga menekankan kualitas pertumbuhan ekonomi dan aspek keadilan akan terus ditingkatkan, dengan demikian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% dapat tercapai dengan kemampuan untuk mengurangi pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan secara lebih efektif dan lebih cepat.

Tidak realistis

Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok pemerintah sebesar 5,4% pada 2018 dinilai oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak realistis, melihat pertumbuhan ekonomi tahun ini yang hanya ditarget 5,17%. Karenanya DPR meminta kepada pemerintah agar menurunkan target pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2018.

“Kami melihat kalau 5,4% itu terlalu optimis untuk keadaan yang sekarang ini. Walaupun pada dasarnya, kami menginginkan pertumbuhan ekonomi itu setinggi mungkin. Makin tinggi makin baik, tapi tetap lah ini harus dilihat yang realistis,” ungkap Anggota Komisi XI Kardaya Warnika beberapa hari lalu.

Menurut Kardaya, untuk dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2018 setidaknya belanja pemerintah sedikitnya mencapai Rp2.204 triliun. Tampaknya berat untuk direalisasikan. Target pertumbuhan ekonomi 2017 sebesar 5,1% saja berat untuk direalisasikan.

Kabarnya target penerimaan pajak yang tidak pernah tercapai sejak 2006 akan semakin sulit dicapai ke depan. Karena Indonesia sudah terjebak dalam defisit keseimbangan primer sebesar Rp140 triliun pada 2017. Informasi terakhir bahkan sampai Agustus 2017 realisasi tax ratio turun ke level 9,5%. Artinya pencapaian pajak jauh dari harapan.

Per 31 Agustus 2017 total penerimaan pajak baru 53%, sementara selisih antara target penerimaan dan realisasi penerimaan pajak (shortfall) sudah lebih dari Rp200 triliun.

Anggota dari fraksi partai Demokrat ini juga memandang pertumbuhan ekonomi tersebut dianggap terlalu percaya diri. “Ini kita lihat dari outlook yang disampaikan pemerintah 2017 hanya 5,17% dan Bank Indonesia 4,9%. Tapi dari kami, yang realistis yang bisa dicapai yakni 5,3%,” ungkapnya.

Sementara dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), diterangkan belum merasa mendapatkan penjelasan yang bisa meyakinkan mengapa pemerintah harus mematok di angka 5,4%. Kemudian dari fraksi PKS, menyatakan kesetujuan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% namun tetap didasari oleh realistis tidaknya dalam pencapaiannya.

“Saya setuju 5,4%, tapi kita harus realistis juga. Maka kita bersama kira-kira betul enggak realistis? Saya pribadi senang saja pertumbuhan ekonomi 5,4% karena 1% PDB itu untuk menampung 1 juta pekerja,” pungkasnya.

Perlu kerja keras

Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok pemerintah sebesar 5,4% pada 2018 dinilai membutuhkan kerja keras, mengingat pergerakan stagnan sepanjang tahun ini.

Namun, sejak anjloknya harga komoditas, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus mengalami perlambatan hingga tumbuh di bawah 5% pada tahun 2015. Namun, di tahun berikutnya ekonomi Indonesia kembali meningkat dengan mencatatkan pertumbuhan sekitar 5%.

Di tengah pencarian titik keseimbangan baru dalam perekonomian global maupun dinamika politik di Amerika Serikat (AS). Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali meningkat di 2016 dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5%.

Tahun ini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2%. Sayangnya, target tersebut akan sulit tercapai jika melihat realisasi pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama dan kuartal kedua 2017 yang mengalami stagnansi di level 5,01%.

Dengan mempertimbangkan kinerja ekonomi di tahun ini, pemerintah tentunya harus bekerja lebih keras jika ingin target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4% tercapai. Terlebih, dampak dari pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan pemerintah baru dirasakan signifikan setelah 2019.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here