Aplikasi ‘Go Tani’, Terobosan Baru Pertanian dari Tradisional Menjadi Industri

0
208

Nusantara.news, Lumajang – Kental dengan nuansa agraris selama berabad-abad, daya tahan petani saat ini diuji dengan perkembangan ekonomi global. Persaingan berebut pasar hasil panen tidak lagi dengan produksi komoditi sejenis asal daerah lain. Melainkan juga serbuan dari negara luar. Kondisi yang mau tidak mau harus dihadapi jika masih ingin berdiri dengan status sebagai penjaga ketahanan pangan Nusantara.

Banyak sektor yang perlu dibenahi. Semisal penggunaan teknologi modern dalam proses produksi pertanian menggantikan cangkul dan sabit, pemanfaatan lahan dengan optimal hingga akses pemasaran untuk menghindarkan dari jebakan tengkulak yang masih menghantui hingga kini. Sektor pertanian memang butuh terobosan baru agar tidak semakin tergilas oleh kemajuan zaman.

Kepedulian banyak pihak, terutama dari wakil negara tentu sangat diharapkan. Munculnya aplikasi “Go Tani” bikinan PTPN XI, tentu harus disambut positif. Layanan berbasis teknologi dunia maya ini memang dibuat untuk mempermudah dan mendukung produktivitas bidang pertanian. Hal itu ditegaskan Direktur Operasional PTPN XI, Daniyanto di Lumajang, Selasa (19/11/2017).

Dia mengatakan, Go Tani merupakan salah satu cara membangun Nawacita kedaulatan pangan nasional dan mengikuti tren zaman sekarang, dengan menggunakan fasilitas sekali “klik”. “Aplikasi ini sudah bisa diunduh oleh petani di pasar layanan gawai atau Playstore, tujuannya untuk mendukung pelayanan dalam industri pertanian,” katanya.

Ia menjelaskan beberapa manfaat yang bisa didapat dari layanan itu. Mulai dari pembelian peralatan pertanian, pupuk hingga bibit yang tersedia secara online. “Seperti aplikasi Go Pupuk di dalam layanan itu. Go Pupuk dapat memberikan kemudahan para pengguna dalam melakukan pembelian pupuk, dan membantu menjembatani para penyedia pupuk (PIHC) dengan petani,” terang Daniyanto kepada media.

Direktur Operasional PTPN XI Daniyanto beberkan potensi aplikasi Go Tani sebagai upaya untuk menuju industri pertanian.

Daniyanto mengatakan dalam aplikasi juga ada layanan Go Bibit untuk memberi arahan pola pembibitan, Go TMA atau pembelian pembibitan dan layanan aplikasi UAV yang digunakan untuk proses pendaftaran dan survei lahan yang perangkatnya disiapkan PTPN XI. “Dengan aplikasi ini, petani dapat mengajukan survei lahan ke PTPN XI dengan sistem sewa atau ,” kata Daniyanto usai kegiatan Kemitraan Bersama Petani Tebu di Lumajang.

Sementara itu, pelayanan atau pemesanan pada aplikasi ini dilakukan dengan basis data petani yang ada di PTPN XI yang total mencapai 13.000 petani. “Untuk sementara, aplikasi ini kami luncurkan secara terbatas di kalangan petani PTPN XI, dan menunggu respons positif. Tidak mustahil akan kami kembangkan secara umum bagi semua petani di Indonesia,” tuturnya.

Antara Peningkatan Produksi dan Pengurangan Lahan

Cara tradisional memang harus dipilah untuk menjawab kemajuan. Kendati bisa mengoptimalkan produksi namun pemerintah juga harus bijak karena budaya yang sudah terbentuk jangan sampai terjadi benturan. Apalagi problem alih fungsi lahan produktif yang kian marak untuk pemukiman di Jawa Timur cukup tinggi. Terutama di beberapa daerah yang di masa lalu menyandang status lumbung pangan nasional.

Guiness Book World of Records pada 2008 bahkan sempat menasbihkan Indonesia sebagai negara yang mengalami deforestasi terbesar di dunia. Salah satu penyebabnya adalah buruknya pengelolaan. Kekhawatiran ini yang mencuat jika Nawacita untuk memperkuat ketahanan pangan hanya bertujuan pragmatis tanpa mempertimbangkan masa depan. Penyadaran pada semua pihak untuk lebih tepat dalam penggunaan teknologi pertanian tanpa mengurangi nilai lahan, setidaknya bisa jadi dasar dalam pembuatan kebijakan.

Sebab, sumber pangan memang harus terus di perbesar mengingat pertambahan populasi yang terus meningkat jika tidak ingin tergantung dari hasil impor. Seperti kebutuhan akan padi sebagai makanan pokok mayoritas bangsa Indonesia. Data Badan Pusat Statistik selama kurun 2011-2016 untuk komoditi padi sawah di Jawa Timur saja hanya meningkat sekitar 3 juta ton.

Padahal data rilis dari Survei Sosial Ekonomi Nasional oleh Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 menyebutkan bahwa konsumsi beras per kapita per Maret 2015 adalah sebesar 98 kilogram per tahun. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 97,2 kg per tahun. Paparan secara nasional ini tentu bisa berubah lebih besar pada tahun ini kendati belum ada data terbaru yang keluar. Fenomena ini bahkan sempat dilontarkan Wakil Presiden Jusuf Kalla waktu itu yang menyebutkan jika konsumsi beras orang Indonesia sudah di atas rata-rata orang Asia.

Besarnya konsumsi per kapita ini dinilai berdasarkan aneka masakan yang mengandung beras mencakup konsumsi beras dalam bentuk nasi, beras ketan, tepung beras, dan konsumsi padi-padian lainnya. Selain itu, kelompok bahan makanan mengandung beras lain yang ikut diperhitungkan adalah bihun, bubur bayi kemasan, kue basah, nasi rames, nasi goreng, nasi putih, dan lontong sayur.

Luas, Produktivitas, dan Produksi Komoditi Padi Sawah di Jawa Timur 2011-2016

No. Tahun Luas Panen (ha) Produktivitas (Kw/ha) Produksi (ton)
1 2011    1 807 393 55 10 029 728
2 2012    1 838 381 63 11 499 199
3 2013    1 897 816 60 11 387 903
4 2014    1 934 293 60 11 785 464
5 2015    2 021 766 62 12 565 824
6 2016    2 112 563 61 12 903 595

Sumber: BPS Jawa Timur

Karena itu, terobosan-terobosan baru seperti Go Tani sangat diharapkan untuk meningkatkan hasil produksi. Bukan hanya komoditi padi atau tebu saja. Bahkan kalau bisa komoditi lain sektor pertanian. Kita tentu masih terngiang ketika bangsa Indonesia dihebohkan dengan meroketnya harga cabai. Nilainya bahkan terkadang mustahil bisa dicerna karena melampaui harga daging sapi per kilogramnya. Sehingga pemerintah harus impor untuk mencukupi kebutuhan perasa yang sebenarnya bukan makanan utama ini. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here