Arab Saudi Beli Banyak Senjata dari AS, Israel Ketar-ketir

0
258
Menteri Energi Israel Yuval Steinitz, Foto: REUTERS

Nusantara.news – Meski Israel tidak memiliki masalah dengan Arab Saudi, namun tetap saja kerja sama persenjataan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi membuat negara Yahudi itu ketar-ketir. Pasalnya, meski bukan musuh, Arab Saudi merupakan negara yang belum memiliki hubungan secara diplomatik dengan Israel, artinya Israel tetap merasa Saudi bisa menjadi ancaman bagi Israel di belakang hari.

Israel, melalui Menteri Energi Yuval Steinitz mengungkapkan keprihatinannya atas kesepakatan sentara antara AS dan Saudi. Israel sebetulnya meredam kekhawatiran atas kesepakatan senjata yang bernilai cukup besar antara Paman Sam dan negeri petro dolar itu, yang disepakati pada Sabtu (20/5) lalu, sehari sebelum presiden AS Donald Trump mengunjungi ibukota Arab Saudi, Riyadh dan berpidato dalam pertemuan para pemimpin negara Islam di sana.

Dalam kunjungan Trump yang merupakan kunjungan pertama presiden AS itu ke luar negeri selama dia menjabat sebagai presiden, AS dan Saudi mencapai kesepakatan soal persenjataan senilai USD 110 miliar dalam kesepakatan yang ditanda tangani pada Sabtu. Arab Saudi kemudian akan membeli senjata dari AS untuk membantunya melawan Iran, dengan nilai total USD 350 miliar yang akan dilakukan selama 10 tahun ke depan.

Israel, sama halnya dengan Arab Saudi, melihat Iran sebagai ancaman keamanan. Namun demikian, meskipun Israel merasakan keuntungan militer atas negara-negara Arab, tapi Israel selalu memperhatikan soal penjualan senjata kepada mereka, yang mungkin bisa saja berakibat mempersempit pergerakan Israel.

“Ini adalah masalah yang menyusahkan kita,” kata Menteri Energi Israel Yuval Steinitz sebelum pertemuan kabinet mingguan sebagaimana dilansir Reuters (21/5), meskipun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak menyinggung-nyinggung mengenai kesepakatan persenjatan antara AS dan Arab Saudi dalam pertemuan rutin dengan kabinetnya itu.

Pejabat senior AS yang mendampingi Trump selama perjalanan ke Arab Saudi mengatakan bahwa Washington memahami apa yang menjadi keprihatinan Israel, dan menyebutnya sebagai sesuatu yang sah-sah saja. Namun pihaknya berjanji untuk terus membantu negara Yahudi itu mempertahankan keuntungan militernya.

“Kami mengambil banyak tindakan, meski beberapa tidak terlihat jelas, untuk memastikan batas kualitatif (perlindungan) militer terhadap Israel. Itu (perjanjian senjata AS-Saudi) sama sekali tidak akan mengganggu,” kata pejabat tersebut kepada Reuters.

“Anda akan mendengar pernyataan yang kuat dari presiden (Trump) mengenai komitmennya terhadap Israel dan pertahanan Israel,” tambahnya.

PM Israel Netanyahu telah menyatakan keinginannya untuk memperbaiki hubungan dengan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya, sebagai bagian dari inisiatif untuk memberi dukungan yang akan menarik Palestina ke dalam kesepakatan damai, serta menggalang perlawanan yang luas terhadap ambisi nuklir Iran.

Menteri Energi Israel Yuval Steinitz mengatakan bahwa pihaknya berharap bisa mendengar rincian mengenai kesepakatan tersebut dari pihak AS. Presiden AS Donald Trump dan rombongannya memang dijadwalkan mendarat di Israel pada hari Senin (22/5) ini.

“Kami juga harus memastikan bahwa ratusan miliar untuk senjata ke Arab Saudi itu tidak akan mengikis batas kualitatif (pertahanan) Israel, dengan cara apa pun, karena Arab Saudi (bagaimana pun) masih merupakan negara yang tidak bersahabat tanpa hubungan diplomatik, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan,“ kata Steinitz.

Pada 1980-an, Israel juga pernah menyatakan keprihatinannya atas penjualan alutsista oleh AS ke Arab Saudi seperti jet tempur F-15 yang kemudian ditempatkan di lapangan terbang Laut Merah. Namun, Arab Saudi hingga saat ini tidak pernah menggunakannya untuk mengancam atau melawan Israel. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here