Arema, Sebuah Jati diri dan Subkultur Arek Malang

0
192

Nusantara.news, Kota Malang – Siapa yang menyangka, di antara perbedaan kultur, pendapat dan pemikiran dapat dipersatukan dengan afiliasi kegemaran yakni sepak bola, berdasar pada gemar akan sepakbola dan mendukung daerahnya, kelompok masyarakat yang dulunya berseteru kini menjadi kelompok masyarakat kompak.

Seperti Indonesia dengan semboyannya ‘Bhinneka tunggal Ika’ berbeda-beda tetap satu jua, semangat persatuan mendambakan sebuah bangsa yang berkeadilan termaktub dalam pancasila, terimplementasikan di suatu daerah yakni Malang.

Kultur masyarakat Malang pada era 1980-1990 terkenal dengan pemuda yang plural dalam kreativitas dan komunitas. Sehingga banyak bermunculan komunitas-komunitas seni, musik dan lainnya. Kemunculan yang paling kental pada era tersebut adalah di bidang musik. Di mana bermunculan komunitas rocker dan punker.

Arema Indonesia ’87 (Bintang satu) – Arema Cronus (Bintang dua)

Lain daripada itu adalah gerombolan kelompok-kelompok genk punk pemuda kewilayahan. Genk tersebut mempresentasikan keberadaan komunitas para pemuda kota Malang yang sebutannya diawali dengan sebutan ‘Arek’ kemudian beridentitas lokasi wilayah sebagai daerah kekuasaannya.

Genk tersebut dapat dilihat seperti Arek Lowokwaru, Arek Sukun, Arek Polehan, Arek Sawojajar, Arek Dinoyo, Arek Jodipan, Arek Mergan, Arek Mergosono, Arek Bareng, Arek Muharto dsb, yang mana dalam genk tersebut terdapat pentolan dan beberapa pemuda yang bernaung di dalamnya. Di mana di antaranya saling menunjukan eksistensi kekuatan dan kuasanya sehingga rawan terjadi konflik horizontal kala itu.

Tepatnya 11 Agustus 1987 sebuah klub sepak bola yang bermarkas di Malang, Jawa Timur, Indonesia didirikan. Digagas oleh Lucky Az (Sam Ikul) melihat realita konflik horizontal di masyarakat yang sangat pelik kala itu.

Semenjak kelahiran klub bola Arema dan kemunculan suporter Aremania di akhir dekade tahun 90-an, perang antar genk di kalangan pemuda kota Malang saat itu mulai berangsur surut. Di antara mereka larut dalam hal kegemaran olahraga yang membawa identitas kewilayahan (Malang) terutama sepak bola.

Akhirnnya kelompok dan genk tersebut berkumpul dalam suatu wadah  dengan tujuan yang sama untk mendukung Arema. Semakin lama saling mengenal dengan  baik, sehingga mengurangi perselisihan di antara mereka.

Dengan cepat para pemuda Malang saat itu mulai menggandrungi klub bola Arema, di satu sisi nama Arema (Arek Malang) mudah diterima dan populer di kalangan para pemuda di kota Malang. Di sisi lain klub bola Arema prestasinya semakin menanjak dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arek Malang.

Tepat beberapa waktu lalu Arema merayakan 3 dekade (30 tahun) berdirinya Arema. Julukan singo edan seakan menjadi sebuah simbol bahwa arek malang merupakan seorang yang pemberani dan tak gentar dengan apapun.

Supporter dengan spanduk penolakan praktik Politisasi Arema

Serentak di beberapa titik wilayah di kota Malang mulai bermunculan korwil-korwil suporter Arema, seperti Aremania korwil Lowokwaru, Aremania korwil Klojen, Aremania korwil Sukun, Aremania korwil Kedungkandang dan lainnya.

Di beberapa titik sudut kota Malang, akan mudah ditemukan atribut/lambang ‘Singa’ di tiap sudut-sudut kota Malang seperti patung-patung Singa, gambar-gambar Singa di dinding sudut-sudut kota yang beberapa bertuliskan nama ‘Arema’, sudah tertanama pada jiwa dan jati diri bagi masyarakat Malang pasti Arema (Arek Malang).

Nama Arema sebenarnya diambil dari cerita legenda Malang, yakni Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut. Dikisahkan tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara yang menorehkan prestasi gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur seperti daun dimakan ulat.

Selain itu, pemberontakan Cayaraja seperti ditulis dalam kitab Negarakretagama. Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

Gejolak dan Politisasi Arema

Meskipun berhasil mempersatukan masyarakat Malang yang dulunya terpecah-pecah menjadi genk dan kelompok pentolan pemuda kewilayahan, seiring berjalannya waktu karena besarnya lingkungan massa dari Arema ini yang kemudian sebagian dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadinya.

Massa Arema sempat terpecah menjadi 2 yakni Arema Cronus dan Arema Indonesia ’87. Arema yang sebenarnya dan lama adalah Arema Indonesia ’87. Namun, karena campur tangan beberapa elit tokoh kepentingan yang saling dislike maka beberapa memecah diri saling mengangap satu dan lainnya saling mempolitisi Arema. Namun yang muncul di permukaan adalah permasalahan pendanaan.

Arema Indonesia ’87 di bawah naungan Sam Ikul yang dianggap oleh beberapa pihak mempermainkan Arema, khususnya beberapa pengusaha di baliknya yang tidak menyukai Sam Ikul di Arema sehingga beberapa pengusaha atau penyokong dana dari Arema juga membentuk tim tandingan sebagai memperkuat basis massa arek Malang. Berikut beberapa orang yang berpengaruh atas pecahnya dan carut marutnya dalam internal Arema;

  1. Acub Zainal, berawal dari anak dari pendiri Arema, yakni Acub Zainal yang mewarisi kependirian Arema Indonesia ‘87, yang melakukan proses take offer kepada PT.Bentoel di tahun 2003 dengan mediasi Iwan Kurniawan (IK) seorang pengusaha /taipan Malang mendapatkan aspek ekonomis dari proses ini menjadi mediator pertemuan Eddy Rumpoko (ER), M. Nur dengan Andi Darusallam (ADS).

Diurus melalui proses akta sebagai dewan pendiri di pengadilan Kota Malang oleh Andi        Darussalam, bahkan yang membayar Andi Darussalam, yang kemudian mengajak Acub Zainal bergabung dengan kubu M.Nur. Guna menyokong pendanaan Arema Indonesia ’87, melalui PT Arema Indonesia melakukan perjanjian dengan PT. Ancora dengan notarir Rahmad Pratono alias Toni di hotel Tugu. Namun bukan PT. Arema Indonesia yang melakukan perjanjian melainkan PT. Arema Nusantara Persada (PT. ANP).

Hal ini yang kemudian terlihat ada permainan dalam kubu Arema Indonesia. Sampai saat ini tidak pernah ada kejelasan, meskipun klaim–nya PT. ANP ini sebagai badan usaha yang membiayai Arema Indonesia dengan mencarikan sponsor maupun investor.Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan terkait, adanya pelanggaran paraktik pencucian uang atau money loundry?

Dana yang berupa uang hasil pencairan dengan PT. Ancora, yang seharusnya digunakan PT. Arema Indonesia sebagai modal awal habis dan dialihkan ke PT. ASP, dengan penjelasan fee etika alias uang persenan makelar. Uniknya sang penandatangan juga memposisikan sebagai makelar. Hal inilah yang kemudian membuat ADS pecah kongsi dengan Sam Ikul.

  1. Iwan Kurniawan (IK), Pengusaha dan taipan Kota Malang yang kerap menyokong pendanaan Arema baik berupa pinjaman atau hibah. Namun, berdasar informasi beberapa sumber pihaknya kurang menyukai Pendiri Arema, Lucky Az (Sam Ikul) ada di Arema.Ia beranggapan bahwa Sam Ikul sudah menjual Arema dan kerap bersebrangan kebijakan. IK menganggap Sam Ikul selalu membawa arema ke jalur politis, sejak pilkada Kota Malang dengan Sam Ikul mengusung Hasanudin Latief sedangkan IK mendukung Peni Suparto, Pilkada Kabupaten Malang Sam Ikul mendukung Geng Wahyudi dan IK mengusung Rendra Kresna (RK), Bupati Malang  kini.
  1. Andi Darussalam Tabusala (ADS), Ex. Direktur PT.Liga Indonesia, memiliki kedekatan emosional dengan Arema. Ia terlibat aktif dalam penolakan merger Arema-Persema, setelah PT. Bentoel berniat membubarkan Arema Indonesia, hingga mempertemukannya dengan Darjoto Setiawan dan Iwan Kurniawan untuk membentuk Arema baru.Pihaknya yang merekomendasikan M. Nur sebagai ketua Yayasan Arema, karena kedekatan ketika M. Nur mengelola Persema Malang.

Pihaknya juga dalang di balik agitasi dan propaganda kepada aremania setelah M. Nur dianggap sudah melenceng dari rule nya ketika M. Nur menandatangani perjanjian dengan konsorsium Liga Primer Indonesia. Bahkan, ia berniat membawa Arema ke Liga Primer Indonesia. Meskipun awalanya ADS sangat mendukung M.Nur untuk mendapatkan sponsor dari bank Saudara milik medco grup. Sempat bersitegang dengan Sam Ikul, lantaran menganggap pihak Sam Ikul merupakan wanpretasi dengan melanggar kesepakatan, serta memberikan keterangan bohong soal pencairan uang dari PT. Ancora.

Setelah dua tahun mengelola Arema meskipun tak secara langsung merasa di khianati oleh Rendra Kresna, yang menjalin kerjasama dengan sosok Iwan Budianto. Sikapnya yang berhati-hati kepada Iwan Budianto, lantaran pihaknya merasa dilecehkan dengan kalimat,”Maaf bang, investornya tidak percaya kepada abang”.

Sekaligus, membuatnya memilih bergabung kembali dengan M.Nur yang selama hampir satu musim kompetisi di benci-nya Tidak menyukai dan menyenangi Arema versi Rendra Kresna dengan dalih secara ilegal/tidak sah, meskipun alasan lain karena keberadaan Iwan Budianto yang masih diperjuangkan sebagai Dirut oleh kubu RK yang dianggap bukan sebagai jalan terbaik untuk melakukan rekonsiliasi.

  1. Nur (MN), Ketua Yayasa Arema Indonesia hasil rekomendasi ADS, dikenal dekat dengan pengusaha asal kota Malang.Ia dianggap melakukan kesalahan dengan menyepakati tentang Arema di Liga Primer, sebagai komitmen sponsor bank Saudara senilai 5 M yang ternyata hanya dikucurkan sebesar 1,5 M. Pihaknya pernah menjadi public enemy Aremania karena dianggap menjadi pengkhianat dan berpotensi membawa Arema keluar jalur, kala itu.

Mencari dan mencairkan gaji pemain dengan mendapatkan investor dari Said Amin (pengusaha Kaltim) dengan mediator Edy Rumpoko. Kabar terakhir LPJ penggunaan uang dipertanyakan oleh Said Amin karena ada ratusan juta yang tidak jelas penggunaannya setelah uang diserahkan kepada Eddy Rumpoko dan M. Nur.Saat ini, ia menjadi penguasa tunggal Arema, lantaran update akta yayasan masih tetap mencantumkan namanya sebagai Ketua Yayasan sekaligus Dirut.PT. Arema Indonesia dengan direktur Siti Nurjanah. Ia mengenal baik dan dekat dengan Arifin Panigoro karena mendapat back-up dana juga keamanan posisi. Bersahabat dengan Andi Darussalam Tabusala.

5.   Rendra Kresna (RK), Bupati Kabupaten Malang dulu, ia berangkat dari Golkar,    sementara  kini bersama dengan Nasdem ia menampuk amanah kembali menjadi Bupati Malang untuk periode keduannya.Ia sebagai bendahara Yayasan Arema sebelumnya yang kemudian mengundurkan diri sebagai prasyarat pencalonan dalam Pilkada Kabupaten.Malang 2016 lalu.RK kemudian diangkat sebagai Presiden Kehormatan, agar tetap menjaga kedekatan dengan Aremania, khususnya dari Kabupaten Malang agar tetap bisa menjadi konstituen-nya di pilkada.

Pihaknya dianggap melakukan politisasi aremania dengan dalih pembentukan korwil di wilayah Kabupaten Malang (kampanye terselubung). Dengan maksud ambisi menjadi penguasa daerah selama dua periode.RK masuk dalam lingkaran Arema atas rekomendasi Iwan Kurniawan. Meskipun sangat terlihat kurang. Menyukai sepak bola, meskipun sebagai Pangcab PSSI Kabupaten Malang, semua dilakukan atas dasar politisasi.

Ia disinyalir menggandeng Bambang Winarno, penasehat yayasan Arema untuk memuluskan jalannya dengan melengserkan M.Nur dari posisi-nya setelah merasa mendapatkan dukungan dari aremania. Kemudian melakukan kesepakatan pengelolahan Arema dengan Iwan Budianto, setelah sebelumnya mengaku sudah memecat M. Nur dari Arema.

Arema yang merupakan satu kelompok basis masa yang besar dan tentunya juga memiliki potensi suara massa dan gerakan yang besar pula, bagi para politisi, Arema merupakan salah satu alat bahkan kekuatan massa untuk dapat menyalurkan kepentingan terselubung para politisi tersebut.

Supporter dengan spanduk penolakan praktik Politisasi Arema

Daya alar kritis harus tetap dibangun guna ide dan gagasan kritis terhadap suatu hal dan fenomena yang tidak berkeadilan itu sama saja sudah dinamakan eksploitasi. Arema harus tetap Independen, bebas memilih. Jangan sampai massa arema dipermaikan sebagai konstituen pemilih dalam pusaran politik.

Sampai saat ini, Arema tetap berkomitmen akan melawan dan menolak segala bentuk praktik politisasi Aremania dalam bentuk apapun, baik pada momentum Pilkada, ajang pencitraan, pemberian dana dan bantuan, penokohan dan lainnya.

Subkultural Masyarakat Malang

Semangat identitas Arema menjadi yang seakan menjadi jati diri bagi masyarakat asli malang, sudah dipastikan dan diharuskan Arema. Budaya masyarakat yang masuk dalam tlatah Arek menjadi memiliki semangat yang gigih dan militant dalam berjuang.

Tak hayal, semangat solidaritas dan loyalitas yang ditekankan Arema kepada anggotanya menjadi suatu keharusan dalam berkehidupan. Apalagi dengan sesama.

Batas alam tlatah Arek adalah sisi timur Kali Brantas. Sungai ini menjadi penting sejak abad keempat, baik segi perdagangan maupun interaksi antara wilayah pesisir dan daerah pedalaman. Tlatah kebudayaan ini membentang dari utara ke selatan, dari Surabaya hingga Malang.

Karakteristik dan budayanya merupakan sentuhan dari aneka kultur baik lokal maupun asing, membentuk komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tinggi, solidaritas kuat, terbuka terhadap perubahan, mau mendengarkan saran orang lain, dan mempunyai tekad menyelesaikan segala persoalan melalui berbagai macam cara.

Arif Handono, Budayawan Kota Malang menyebutkan bahwa semangat Aremania sebetulnya merupakan kultur yang sudah melekat pada karakter arek malang, namun kini dikemas dalam budaya baru, yakni budaya persepakbolaan yang mampu menampilkan kebersamaan.

Identitas baru yang dipegang oleh semua pihak itu membuat kultur loyalitas dan sikap menjunjung tinggi kebersamaan yang dulunya terperangkap dalam lingkup intra geng saja kini melebur ke dalam sebuah kelompok Subkultur besar bernama Aremania.

Hal itu pun diamini oleh seorang tokoh Arema, Leonard Kailolo, “Sekarang saja tampak kebersamaan seperti ini, dulu masih belum terlihat, anak-anak masih sering podo gonthok-gonthokan dewe. Tapi, kini Arema menjadi sebuah identitas dan jati diri Arek Malang.” pungkasnya pria paruh baya tersebut.

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here