Argumen Tak Kuat, Pembubaran HTI Teror Bagi Ormas Lain (2-habis)

0
192

Nusantara.news, Jakarta –  Tanpa bermaksud membela atau menyudutkan, rencana pembubaran HTI penting jadi bahan diskusi. Setidaknya, untuk menemukan apakah rencana pembubaran dilandaskan pada alasan yang tepat dalam pengertian objektif atau subjektif. Sebab, jika alasan pembubaran dianggap tidak objektif, maka pembubaran itu akan menjadi “teror” bagi ormas lain yang pada kelanjutannya merendahkan kembali kualitas demokrasi yang ditingkatkan sejak reformasi.

Kualitas Demokrasi Pemerintahan Jokowi

Di pengadilan nanti, pemerintah yang tentunya akan diwakili oleh pengacara negara, akan membeberkan secara lebih rinci data-data atau argumen-argumen yang melandasi tiga alasan pembubaran tersebut.

Argumen adalah alasan dari suatu pendapat. Dalam bidang ilmu logika, argumen disebut premis dari suatu konklusi.

Ada empat jenis argumen, yakni pertama, argumentum ad judiciam. Kedua argumentum ad verecundiam. Ketiga, argumentum ad hominem. Keempat,  argumentum ad Ignoratium

Keempat argumen ini memiliki tingkat kebenaran yang berbeda. Argumentum ad judiciam merupakan jenis argumentasi yang terkuat. Kuat dalam pengertian, objektif di mana semua orang yang berakal sehat mengenali dan mengakui kebenarannya. Contoh, setiap benda memiliki bentuk. Pernyataan tidak dapat disangkal oleh siapapun karena bukti kebenarannya terkandung di dalam subjeknya sendiri.

Argumentum ad verecundiam, adalah argumentasi yang dilandaskan pendapat orang lain atau para ahli. Seseorang mempercayai suatu pendapat itu benar, karena pendapat tersebut dikemukakan oleh seorang yang ahli di bidangnya, betapapun si ahli itu tidak pernah membuktikan sendiri kebenarannya.

Contoh, para ahli kitab, yaitu yang menguasai ilmu yang teradapat dalam kitab-kitab, meyakini bahwa apa yang tertulis di dalam kitab-kitab itu benar, walaupun mereka tidak membuktikan sendiri kebenarannya. Ketika berargumentasi, mereka menggunakan apa yang tertulis dalam kitab-kitab tersebut sebagai dalil. Nilai kebenaran argumen ini tinggi tetapi lebih rendah dari argumentum ad judiciam

Argumentum ad hominem adalah pendapat yang digunakan untuk menyentuh perasaan atau memukul lawan, adakalanya hanya berupa retorika.

Argumentum ad ignoratium. Ini jenis argumentasi terlemah, disebut juga argumentasi palsu dan bersifat menipu. Contoh, seorang janda dilamar oleh seorang pria. Wanita itu menolaknya, dengan alasan khawatir si pria hanya mencintainya saja, tapi tidak mencintai putranya yang masih kecil. Si pria berargumen, tidak mungkin saya tidak mencintai anakmu. karena aku mencintai kamu, sedangkan kamu mencintai anakmu, jadi pastilah aku mencintai anakmu. Sepintas argumen itu terlihat benar, padahal isinya kebohongan.

Kita berharap pemerintah Jokowi nanti dapat memberikan argumen jenis yang pertama, yang kebenarannya pasti. Artinya, argumen yang dikemukakan dipahami sama oleh satu orang tertentu dengan orang tertentu lainnya. Kata lain tafsirnya tunggal, tidak multi.

Ketika pemerintah mengemukakan argumen bahwa HTI telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan NKRI, maka argumen itu harus dipahami sama oleh orang lain, termasuk aktivis HTI itu sendiri. Oleh sebab itu, ukuran-ukurannya atau kriterianya harus jelas dan tegas, clear.

Jika argumen yang dikemukakan objektif, atau dipahami sama oleh satu orang tertentu dengan orang tertentu lain, maka pembubaran itu dapat dipahami, dan diyakini tidak akan berdampak negatif ke depannya.

Sebaliknya, jika argumen yang dikemukakan dilandaskan pada tafsir yang tidak objektif, maka pembubaran itu berpotensi negatif.

Langkah pembubaran yang dilandaskan pada argumen yang tidak objektif, tidak hanya mendorong HTI masuk ke medan gerilya untuk memperjuangkan kayakinannya, tetapi juga menjadi “teror” bagi ormas-ormas lain.

Konsekuensinya, kualitas demokrasi yang ditingkatkan sejak reformasi, secara tidak langsung kembali diseret ke titik rendah. Konsekuensi lanjutan, semakin memperbesar jarak antara pemerintah dan rakyat, dan seterusnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here