Aribowo: Karakter Ahok, Semua Orang Maling, Pencuri dan Tidak Benar

0
322

Nusantara.News, Surabaya – Bagi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok alias Zhong Wanxue I, semua maling, pencuri dan tidak benar jika tidak sesuai dengan keinginannya. “Itulah gaya kepemimpinan Ahok saat memimpin DKI Jakarta,” kata pengamat politik yang juga dosen senior FISIP Universitas Airlangga Surabaya dalam diskusi bertajuk Dinamika Politik Nasional, yang akhir-akhir ini terpolarisasi antara pendukung dan penentang Ahok di Surabaya, Kamis (9/2/2017).

Gaya kepemimpinan seperti ini digambarkan Aribowo mirip ajaran Niccolo Machiavelli yang ditulis dalam bukunya yang terkenal berjudul  Il Principe (Sang Penguasa).

“Tipe penguasa sesuai buku Machiavelli, ya salah satunya dalah hok itu, di mana semua dianggap maling, pencutri dan tidak benar jika tidak sesuai dengan keinginan,” kata Aribowo.

Pendekatan Ahok itu dinilai oleh peneliti Lembaga Pusat Studi dan HAM (PusdeHAM) tersebut, sebagai pemicu perlawanan umat muslim. Secara kebetulan, warga mayoritas yang jadi sasaran kebijakan-kebijakan keras selama Ahok memimpin Jakarta adalah umat islam.

“Orang ini (Ahok, red) nantang. Orang Jawa nyebutnya adigang-adigung-adiguna. Persoalannya sebetulnya bukan urusan mayoritas melawan minoritas, tapi persoalan antara yang memerintah dengan yang diperintah,” sebut Aribowo.

Menyalahkan orang lain ketika terjadi persoalan yang menimpa dirinya, membuat Ahok juga memicu was-was akan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Banyak figur- tionghoa lain di negeri ini yang menganggap gaya kepemimpinan mengandalkan kekuasaan dan menggunakan segala cara justru akan mengancam bangunan kebangsaan yang sudah berabad-abad terjalin.

“Karena itu, ini bukan persoalan SARA atau antara minoritas melawan mayoritas. Saya yakin, banyak umat muslim tidak mempersoalkan dipimpin non muslim yang gayanya santun dan baik seperti Jaya Suprana, pemilik perusahaan jamu dan Direktur MURI yang juga Tionghoa. Tapi karena komunikasinya dilakukan dengan baik, banyak orang yang menaruh hormat dan segan pada dia,” papar Aribowo.

Karakter Ahok yang seperti itu, tak hanya membuat gerah masyarakat. Aribowo bahkan menilai TNI juga turut begerjolak, hanya saja TNI memilih bersikap wait and see, menunggu proses hukum Ahok.

“Jika situasi sudah mengarah pada ancaman keutuhan NKRI, TNI bisa saja turun tangan kendati ada banyak mantan jenderal di kubu pemerintahan Jokowi saat ini,” nilai Aribowo. Aribowo mengingatkan, meski kubu pemerintah dan kubu rakyat sama-sama melabelkan NKRI, tetapi dinamika politik di Jakarta bisa menjadi pemicu perubahan dalam kepemimpinan, tidak hanya di level gubernur, bahkan bisa menggelora hingga ke istana. [] Endradi Prayogo

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here