Armada Laut Cina Menguat, Kapal Patroli AS Berkali-kali Kecelakaan

0
111
Lubang di lambung kiri kapal perusak AS, USS John S. McCain setelah ditabrak kapal tanker berbendera Nigeria, Senin (21/8). REUTERS

Nusantara.news, Bangkok – Insiden tabrakan antara kapal Angkatan Laut AS jenis perusak rudal, John S. McCain, dengan kapal tanker berbendera Nigeria dalam perjalanan ke Singapura, Senin (21/8) lalu, kembali membuat malu militer Amerika. Pasalnya insiden tersebut merupakan kecelakaan kesekian kali yang melibatkan kapal Angkatan Laut AS era pemerintahan Presiden AS Donald Trump, di mana Trump sedang meyakinkan negara-negara di dunia bahwa AS masih hadir sebagai “polisi dunia”.

Sebelumnya, dua bulan lalu tujuh pelaut AS tewas saat kapal jenis perusak rudal lainnya, Fitzgerald, bertabrakan dengan kapal barang milik Jepang.

Pada bulan Mei, kapal Lake Champlain, sebuah kapal penjelajah, juga bertabrakan dengan kapal penangkap ikan Korea Selatan, meskipun tidak ada korban akibat kecelakaan itu.

Tiga bulan sebelum insiden itu, kapal penjelajah lain bernama Antietam, kandas di Teluk Tokyo, dekat Yokosuka. Pemindahan kapal sempat melibatkan 1000 galon hidrolik.

Insiden-insiden tersebut, yang terjadi di laut Asia dan Pasifik, bagi beberapa negara sekutu AS tentu menambah kekhawatiran bahwa AS akan mengurangi pengaruhnya di Asia. Apalagi sebelumnya presiden Trump telah menyatakan slogan “America First” yang akan mengutamakan kepentingan dalam negeri AS ketimbang keamanan di kawasan orang lain. Trump sudah membuktikannya dengan menarik diri dari sejumlah kesepakatan internasional. Meskipun, sejumlah pembantu Trump seperti Menlu Rex Tillerson dan Menhan Jim Mattis, kemudian buru-buru mengklarifikasi bahwa AS tetap akan menjadi pemimpin global.

Selama beberapa dekade, Angkatan Laut AS telah menjadi simbol utama kekuatan Amerika, khususnya di Asia Pasifik. Dengan basis dari mulai Korea Selatan, Jepang, serta Guam. Armada kapal perang yang  dipersenjatai dengan persenjataan modern tersebut menunjukkan kekuatan AS dalam melindungi bangsa-bangsa di Kawasan, terutama para sekutu.

Insiden-insiden kecelakaan yang terus terjadi ini pada akhirnya menjadi gambaran yang sangat merusak reputasi AS di kawasan Asia dan Pasifik. Lebih-lebih, militer Cina, yang juga tengah membangun kekuatannya, dari mulai kapal induk, pesawat tempur hingga persenjataan, perlahan-lahan mulai tampil ke pentas global. Bukan tidak mungkin, dalam waktu tak terlalu lama menyaingi kekuatan militer AS yang saat ini masih menjadi nomor 1 di dunia.

Apalagi, kapal perusak yang terlibat kecelakaan itu, sedang dalam mengemban misi patroli untuk mengawasi reklamasi sejumlah pulau sengketa oleh Cina di Laut Cina Selatan. Cina di duga tengah membangun pangkalan militer di pulau-pulau tersebut. Apa jadinya, kehadiran kapal AS yang dimaksudkan menantang klaim ekspansif Beijing di Laut Cina Selatan serta menunjukkan dominasi angkatan laut AS di Samudera Pasifik, malah tabrakan.

“Tentu saja, (tujuannya) kan untuk mengibarkan bendera AS di wilayah ini,” kata Carlyle Thayer, seorang profesor emeritus di Universitas New South Wales Australia, pengamat masalah keamanan regional, sebagaimana dilansir The New York Times.

Insiden tabrakan itu juga terjadi bertepatan dengan “kekacauan” politik di Washington dan pada saat yang sama sekutu-sekutu AS di Asia tengah mempertanyakan komitmen Paman Sam itu terhadap kawasan ini, apalagi saat ekonomi dan militer Cina mulai terlihat tumbuh.

Pendahulu Trump, Presiden Obama dulu berjanji akan mempertahankan kebijakan luar negeri di Asia Pasifik, menghadirkan militer AS yang lebih baik dengan anggaran yang lebih rendah, meskipun tentu saja dengan keberhasilan terbatas. Tapi sebaliknya, Trump memberi sinyal akan menarik diri dari kebijakan luar negeri di Asia Pasifik dengan dalih menyelamatkan anggaran.

Sekarang, dengan terjadinya rangkaian insiden kecelakaan Angkatan Laut di Pasifik, tentu timbul keraguan mengenai operasi Armada Ketujuh, yang berkantor pusat di Yokosuka, Jepang, sebuah pangkalan angkatan laut AS yang besar.

“Insiden ini akhirnya menimbulkan kekhawatiran di dalam negeri AS tentang terjadinya defisit kompetensi dalam organ kekuasaan AS di bawah pemerintahan Trump yang (secara politik) semakin terjepit,” kata Richard Javad Heydarian, analis politik di De La Salle University, Manila, sebagaimana The New York Times.

Sebagai tanggapan atas kecelakaan yang berulang-ulang itu, Angkatan Laut AS telah meminta dilakukan penyelidikan terhadap Armada Ketujuh. Kantor cabang militer AS yang belakangan makin disibukkan dengan berbagai tantangan di Laut Cina Selatan dan Korea Utara. Semua kapal Angkatan Laut AS di seluruh dunia diminta menghentikan sementara operasinya selama satu atau dua hari setelah insiden tersebut.

Bagi Beijing insiden ini “menguntungkan” secara politik. Sebab sebelumnya, media berita milik negara Cina Xinhua, mengkritik keras Pentagon yang dianggap memprovokasi konflik regional dengan mengirim kapal John S. McCain ke dekat pulai Mischief Reef, kawasan reklamasi di Laut Cina Selatan.

“Mengapa kecelakaan terjadi lagi dan lagi? Sikap Amerika yang sombong, kasar, tidak masuk akal dan egois adalah sebabnya,” tulis People’s Daily, surat kabar resmi Partai Komunis China.

Kekhawatiran negara sekutu AS

Di Jepang, kekhawatiran akan kelemahan militer AS juga merebak. Media sayap kanan Jepang, Yomiuri Shimbun, mengutip seorang perwira angkatan laut Jepang yang mengungkapkan kekhawatiran tentang kapasitas tentara Amerika untuk melakukan pengawasan saat ketegangan meningkat dengan Korea Utara.

Di Korea Selatan, beberapa orang di media sosial mengatakan, insiden tersebut memicu pertanyaan tentang penerapan sistem pertahanan rudal milik AS (THAAD) yang ditanam di negara tersebut. Sejumlah orang bercanda dengan mengatakan, “jangan-jangan musuh bisa menghentikan kapal perusak AS dengan mengirim kapal-kapal kontainer.”

Joseph Chinyong Liow, seorang dekan di Nanyang Technological University di Singapura, mengatakan di The Straits Times bahwa kegagalan pemerintah AS merumuskan strategi yang lebih luas di kawasan tersebut mengundang “pertanyaan yang lebih dalam: seberapa penting Laut Cina Selatan untuk Amerika Serikat?”

Penyebabnya, kata dia, Trump telah menarik diri dari kesepakatan internasional utama, seperti kesepakatan iklim Paris dan perjanjian perdagangan Trans-Pacific Partnership, sehingga Beijing dengan sendirinya menempatkan diri sebagai juara globalisasi. Pada pertemuan puncak di Swiss bulan Januari lalu, Presiden Cina Xi Jinping membela perdagangan bebas, dan secara implisit menegur proteksionisme Trump.

Apakah kekuatan militer AS di era Trump telah benar-benar melemah dan berniat mundur dari panggung global?

Dr. Thayer, pakar keamanan Asia-Pasifik, mengatakan, “Angkatan Laut AS masih sangat kuat, tapi sekarang aura tak terkalahkan AS mendapat pukulan besar. Kredibilitas Amerika di kawasan ini mendapat pukulan besar.”

Dan artinya, peluang Cina untuk menggantikan dominasi AS di kawasan Asia-Pasifik, serta mungkin di kawasan-kawasan lain, semakin lebar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here