“Arogansi” Trump Justru Bisa Menguatkan Integrasi Uni Eropa

1
82
Kanselir Jerman dan pemimpin partai Christian Democratic Union (CDU) Angela Merkel bersama pemimpin partai Christian Social Union (CSU) Horst Seehofer saat melakukan kampanye di Munich, Jerman, 28, Mei 2017. REUTERS

Nusantara.news Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dianggap mengecewakan bagi negara-negara Eropa. Trump yang dalam sejumlah seperti KTT NATO di Brussel maupun pertemuan pemimpin G7 di Sisilia, tidak menunjukkan komitmen yang jelas memperkuat kerja sama dengan Eropa. Ini yang membuat Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan bahwa “Eropa tidak bisa lagi tergantung terhadap AS”. Merkel juga menyerukan bahwa sudah saatnya negara-negara Eropa memikirkan sendiri takdir bangsa Eropa.

Di satu sisi, sikap Trump yang cenderung meremehkan Eropa, misalnya dengan memuji Inggris yang menarik diri dari Uni Eropa (Brexit), dan menganggap NATO sebagai aliansi usang, kemudian secara terang mendukung calon presiden sayap kanan Prancis Marine Le Pen, yang punya ambisi agar Prancis menarik diri dari Uni Eropa, melemahkan Eropa karena selama ini AS telah menjadi sekutu yang baik untuk Eropa.

Tapi di sisi lain, sikap Trump yang terkesan “sombong” terhadap negara-negara Eropa juga membawa efek positif bagi Eropa, yaitu untuk menggerakkan kembali persatuan benua Eropa, yang harus diakui saat ini kondisinya mulai melemah.

Trump sama halnya dengan ancaman Uni Soviet terhadap Eropa dulu, yang bisa memaksa orang-orang Eropa untuk memusatkan pikiran mereka pada apa yang mereka miliki bersama dan bagaimana mereka bisa melindunginya. Trump mungkin akan membantu meningkatkan kemampuan Eropa untuk kembali bersatu.

Sama halnya ketika Eropa menghadapi Brexit, bukan dengan membujuk atau menghukum Inggris, tetapi justru ditangani dengan perjanjian kerja sama, meskipun pada kenyataannya sangat menyedihkan bagi Eropa. Tapi Eropa tidak mau kerusakan itu semakin meluas di benua Eropa. Oleh sebab itu, pernyataan kanselir Jerman, Angela Merkel sebagai “suhu”-nya Uni Eropa, tentang kemandirian Eropa, tetap disertai dengan keinginan kerja sama yang baik dengan Amerika, Inggris atau negara-negara lain, bahkan Rusia sekalipun.

Perdana Menteri Inggris Theresa May, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (30/5) menanggapi pernyataan Merkel dengan mengatakan bahwa Inggris tetap ingin mempertahankan kemitraan yang kuat dengan Uni Eropa mengenai keamanan dan perdagangan.

PM May mengatakan bahwa hak bagi negara-negara tersisa di blok Uni Eropa tersebut untuk melihat masa depannya, namun jelas bahwa Inggris ingin tetap menjadi mitra kunci.

“Kami tidak meninggalkan Eropa, kami (hanya) meninggalkan Uni Eropa,” katanya pada sebuah acara kampanye di London, Selasa (30/5) kemarin.

“Kami terus menginginkan kemitraan yang dalam dan khusus dengan 27 negara yang tersisa di Uni Eropa, dan kami akan terus berkomitmen untuk bekerja sama dengan pihak lain di Eropa baik dalam hal perjanjian perdagangan bebas komprehensif maupun Keamanan,” katanya.

Jerman dan Washington sebetulnya secara tradisional merupakan sekutu dekat, pernyataan Merkel sangat tidak biasa dan muncul karena hubungan antara AS dan Jerman semakin membeku setelah kepemimpinan Trump.

Ketika Trump dilantik sebagai presiden AS pada bulan Januari, Merkel telah memberi tahu Trump  bahwa kerja sama akan didasarkan pada nilai-nilai demokrasi bersama.

Hubungan antara Merkel dan Trump kemudian selalu bertentangan, berbeda sekali dengan hubungan yang hangat antara kanselir Jerman ini dengan Barack Obama, presiden AS sebelum Trump. Obama pekan sebelumnya berkunjung ke Berlin untuk menghadiri konferensi kunci Protestan. Keikutsertaan Obama dalam sebuah forum dengan Merkel Kamis lalu, terjadi beberapa jam sebelum Merkel bertemu dengan Trump di Brussels pada pertemuan puncak NATO.

Pada pertemuan aliansi tersebut, Trump mengecam 23 dari 28 anggotanya, termasuk Jerman, karena masih belum memenuhi biaya yang seharusnya mereka bayar, tekait pendanaan blok tersebut.

Uni Eropa dalam tahun-tahun terakhir memang tengah mengalami ancaman perpecahan. Sejumlah negara anggota menganggap Uni Eropa tidak mampu memecahkan masalah ekonomi, pengangguran, keamanan, imigrasi, dan sebagainya. Puncaknya adalah Brexit, di mana salah satu negara berpengaruh di Eropa yaitu Inggris keluar dari Uni Eropa.

Setelah itu, wacana penarikan diri dari blok Uni Eropa pun berkembang dari mulai Italia, Prancis, Belanda hingga Denmark. Wacana tersebut terutama diusung oleh kelompok partai politik sayap kanan di negaranya masing-masing. Seperti di Belanda dengan tokohnya Geert Wilders, dan di Prancis Marine Le Pen yang sama-sama mengusung populisme. Beruntung, wacana disintegrasi dari Uni Eropa tidak berkembang, karena para tokohnya tidak terpilih dalam pemilu. Tapi, hal tersebut belum berarti aman bagi Uni Eropa, karena dari hari ke hari, nyatanya kelompok politik yang menginkan “penarikan diri” dari Uni Eropa semakin menguat di berbagai negara di benua Eropa.

Presiden AS terpilih, Donald Trump bahkan pernah meramalkan dalam pernyataan-penyataan pada waktu kampanye pilpresnya tahun 2016 lalu, bahwa Uni Eropa akan segera bubar. Ramalan Trump tentu saja bisa menjadi kenyataan, jika sinisme presiden AS itu tidak dianggap oleh negara-negara Uni Eropa sebagai tantangan untuk kembali memperkuat integrasi di kalangan negara-negara Uni Eropa. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here