Aroma Asing Sapi Lokal, Indukan Australia dan Sperma dari Amerika

0
152

Nusantara.news, Surabaya –  Tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia masih rendah di banding negara kawasan lain di Asia Tenggara. Namun kebutuhan itu ternyata belum cukup dipenuhi oleh persediaan sapi dalam negeri. Dengan populasi mencapai 14,6 juta ekor (data Kementerian Pertanian 2016), kebutuhan daging nasional hanya terpenuhi 67 persen saja. Hal ini menjadi salah satu pemicu tingginya harga daging sapi.

Untuk mencukupi kekurangan itu, pemerintah mengambil langkah impor dengan melibatkan pihak swasta. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Drh. I Ketut Diarmita menyatakan, tiap tahunnya ada sekitar 4 juta ekor sapi yang masuk rumah jagal. Jika memenuhi kebutuhan itu tanpa antisipasi pengembangbiakan, populasi sapi di Indonesia bisa mencapai titik kritis hanya dalam tempo 3-4 tahun. “Untuk itu, impor sapi jadi satu-satunya pemenuhannya dilakukan dengan cara impor,” katanya saat mengunjungi kandang peternakan PT Santosa Agrindo (Santori) Indonesia di Probolinggo, Sabtu (24/12/2016).
Kendati pihak swasta (PT Santori) jadi pemain utama dalam impor sapi, Diarmita menegaskan sudah memberi warning agar tetap menjalin kemitraan dengan masyarakat, terutama dalam penggemukan dan pengembangbiakan. “Kalau Santori ingin memasukkan untuk bisnis sendiri maka perbandingan impornya lima banding satu, yakni lima sapi bakalan dan satu indukan. Tetapi, kalau bermitra dengan masyarakat melalui koperasi maka diberikan kemudahan dengan perbandingan sepuluh banding satu,” katanya.

Namun ada resiko besar pada populasi sapi lokal jika kran impor itu dibuka tanpa dilengkapi dengan aturan perlindungan dan persyaratan yang ketat. Dalam hal ini, Diarmita menyebutkan pemerintah mengupayakan langkah khusus sapi indukan wajib bunting dari Indonesia agar lebih tingkatkan dan menambah populasi dari luar Jawa. Ia menambahkan, dalam program kemitraan yang dilakukan ini, sapi kerja sama kemitraan akan berpola: sapi indukan harus hamil dengan minimal usia kehamilan selama enam bulan. “Ini juga untuk mengantisipasi kerugian yang diderita petani,” tandasnya.

Upaya mempertahankan populasi sapi lokal awalnya memang tak lepas dari rewelnya konsumen. Masyarakat selama ini cenderung menganggap lidah sudah cocok dengan daging sapi lokal yang tekstur seratnya lebih kecil, kendati harganya jauh lebih murah  sekitar Rp 20.000 sampai Rp 50.000 per kilogramnya. Jadi siap-siap saja jika program pengembangbiakan ini berhasil melalui impor indukan dari Australia dan sperma dari Amerika Serikat, populasi sapi lokal akan menyingkir dari lapak pasar-pasar tradsional.

3.700 Sapi Australia Telah Tiba

Kepala Unit Santori Probolinggo, Bintoro mengatakan, pihaknya memiliki kapasitas 13.000 ekor sapi dengan jumlah sapi yang hamil sebanyak 300 ekor. “Yang baru datang, Minggu (25/12/2016), sekitar 3.700 ekor sapi di mana indukannya dari Australian dan sperma dari Amerika,” katanya.

Pihaknya juga menggandeng pihak perbankan untuk membantu para peternak mendapatkan kredit terkait dengan pengelolaan sapi ini. “Kami akan menjalin mitra dengan seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur ini untuk memudahkan para peternak sapi agar mengelola dengan baik dan benar. Karena sapi yang kami kerja samakan ini adalah sapi yang hamil lebih dari enam bulan,” katanya.

Sapi indukan impor asal Australia itu didatangkan oleh PT Japfa melalui PT Santori tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dengan masuknya sapi indukan plus sperma asal Amerika Serikat, pemerintah memang berharap target swasembada daging sapi pada 2026 bisa terpenuhi.

Namun pemerintah juga mengingatan importir agar turut mendorong percepatan terjadinya alih pengalaman atau transformasi ilmu pengetahuan ke mitra peternak. Selain itu diharapkan adanya percepatan alih keterampilan dalam pengelolaan usaha peternakan secara profesional untuk para peternak rakyat.

“Untuk itu saya barharap upaya ini dapat diikuti oleh perusahaa lain yang bergerak dibidang peternakan dan kesehatan hewan, karena ini adalah langkah kongkrit yang harus terus didorong, ditumbuhkan dan dilakukan secara berkesinambungan,” terang Diarmita. “Kami berharap hal ini tidak hanya dilakukan para feedloter atau peternak penggemukan sapi potong, tetapi juga dilakukan oleh para Integrator IPS (Industri Pengolahan Susu) sapi perah kita,” sambungnya.

Menurut dia, kontribusi atau peran para Integrator IPS tersebut dapat ikut membangun desa binaan sapi perah. Di sisi lain dapat juga ikut membina peternak sapi perah di Indonesia sehingga mereka lebih bergairah. Upaya ini diharapkan bisa meningkatkan produksi petani dan diserap dengan harga yang pantas oleh pasar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here