Arti Kemenangan Erdogan Bagi Masa Depan Palestina

0
46
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali memenangkan pemilu presiden

Nusantara.news, Istanbul – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memenangkan kembali pemilihan presiden tanpa berlanjut ke putaran kedua. Saat penghitungan suara di seluruh tempat pemungutan suara (TPS) mencapai 99%, Erdogan berhasil meraih 53%. Pesaing terdekatnya, Muharrem Ince hanya mampu mendulang 31% suara.

Erdogan menang secara mayoritas mutlak. Pihak oposisi belum secara resmi mau melempar handuk. Namun mereka berjanji melanjutkan perjuangan demokrasinya “apa pun hasilnya”.  Maka hampir dipastikan Erdogan kembali menjabat periode keduanya sebagai Presiden Turki. Periode pertamanya dia raih tahun 2014. Sebelum terpilih menjadi presiden, Erdogan sudah 11 tahun menjabat perdana menteri.

Politisi Penyair

Erdogan memang pemimpin Turki yang fenomenal. Lelaki kelahiran Istanbul, 26 Februari 1954 ini meniti karir politik dari bawah. Partai politik yang pertama dimasukinya adalah Partai Kesejahteraan (Rafah Partisi). Partai itulah yang mengantarkannya menjadi walikota Istanbul pada 27 Maret 1994. Sebelumnya, saat Partai Kesejahteraan lolos Parliamentary Threshold 10%, Erdogan tercatat sebagai anggota Parlemen pada tahun 1991.

Namun pada tahun 1997 – Erdogan yang juga hobi menulis puisi diperkarakan karena sajaknya dinilai menghina kekuasaan. Dia pun menjalani kurungan selama 4 bulan. Setelah lepas dari penjara, Erdogan membuat partai sendiri yang didaftarkan pada tanggal 14 Agustus 2001. Namanya Adelet ve Kalkinma Partisi (AKP/Partai Keadilan dan Pembangunan) atau lebih dikenal dengan nama Partai AK.

Meskipun partai baru, kejenuhan masyarakat Turki kepada elite politik lama, membuat Partai AK memenangkan Pemilu dengan peraihan dua pertiga kursi parlemen pada tahun 2002. Kemenangan itu mengantarkan Erdogan menjadi perdana menteri sejak 14 Maret 2003 hingga 28 Agustus 2014.

Setelah 11 tahun menjabat perdana menteri, Erdogan mencalonan diri menjadi Presiden Turki pada 10 Agustus 2014 dan menang dengan perolehan 52%. Erdogan, Presiden ke-12 Turki adalah presiden pertama di negara itu yang dipilih melalui pemilu.

Setelah memenangkan jabatan presiden, Erdogan mendesakkan konstitusi baru yang memusatkan kekuasaan eksekutif ke tangan presiden. Konstitusi baru itu disetujui oleh 51% rakyat Turki melalui referendum yang dikecam oleh oposisi. Dengan terpilih kembali menjadi presiden, Erdogan akan menjadi presiden pertama Turki dengan konstitusi baru yang lebih memungkinkan baginya menunjuk menteri dan pejabat tinggi negara lainnya.

Klaim Kemenangan

Pendukung Erdogan berpawai

Oposisi sebelumnya meragukan kemenangan telak Erdogan dalam pemilu presiden yang diikuti oleh 5 calon presiden. Namun kini oposisi terdiam sambil menunggu pengumuman resmi oleh Komisi Pemilihan Umum setempat pada Jumat pekan ini. Erdogan juga mengklaim partainya meraih suara mayoritas di parlemen. “Turki telah memberikan pelajaran dalam demokrasi ke seluruh dunia,” sambut Erdogan.

Di bawah konstitusi baru Turki – akan berlaku setelah pemilihan presiden – Erdogan akan memegang kekuasaan yang cukup besar. Sejumlah kritikus menilai kekuasaan akan terpusat ke satu tangan. Turki tidak memiliki checks and balances sebagaimana sistem presidensial yang dianut oleh Perancis dan Amerika Serikat.

Setelah 96% suara partai dihitung, Partai AK – pendukung utama presiden – meraih 42% suara, demikian lapor kantor berita Turki “Anadolu”. Sedangkan Partai CH sebagai oposisi utama hanya meraih 23%. Selain itu Partai HD yang pro-Kurdi telah mencapai ambang batas 10% yang diperlukan untuk memasuki parlemen. Partisipasi pemilih mencapai 87%.

Sejumlah analis menilai, komposisi ini akan menyulitkan koalisi pemerintah yang selain didukung Partai AK juga didukung oleh partai MHP. Pemilihan sebenarnya dijadwalkan pada bulan November, namun Erdogan mempercepatnya di bulan Juni.

Dengan konstitusi baru, jabatan perdana menteri kemungkinan akan dihapuskan oleh presiden. Presiden akan memperoleh kekuatan baru, termasuk kemampuan untuk secara langsung menunjuk pejabat senior dan kekuatan untuk campur tangan dalam sistem hukum. Erdogan mampu mengkonsolidasikan kekuasaan setelah kudeta yang gagal pada tahun 2016 lalu.

Sejak itu Turki berada dalam keadaan darurat. Tercatat 107 ribu pegawai negeri dan tentara dipecat dari jabatannya sejak itu. Lebih dari 50 ribu orang lainnya dipenjara sambil menunggu persidangan yang sudah berlangsung sejak Juli 2016.

Dinamika Kampanye

Saat kampanye pemilu, calon presiden yang berhalauan kiri-tengah Ince telah berjanji akan mengakhiri pemerintahan otoriter Erdogan. Namun Erdogan membalas, Ince yang berlatar belakang guru fisika itu tidak memiliki bakat kepemimpinan. Dengan kemenangan lebih dari 50 persen pada putaran pertama, dipastikan Erdogan tidak akan menghadapi Ince dalam pemilihan presiden putaran ke-2 yang dijadwalkan pada 8 Juli nanti.

Sebelum pemungutan suara berlangsung, muncul kekhawatiran akan adanya kecurangan dan intimidasi terhadap para pemilih. Komisi Pemilihan Umum Turki mengatakan akan menyelidiki dugaan kecurangan pemilu di Provinsi Urfa yang berbatasan dengan Surah. Ince pun akan menghabiskan malam di kantor pusat Komisi Pemilihan Umum untuk memastikan penghitungan suara yang adil.

Dalam sebuat tweet, Ince meminta pemantau pemilu untuk tidak meninggalkan kotak suara. Berdasarkan informasi yang dia dengar, kotak suara yang dhitung jumlahnya jauh lebih sedikit dari angka yang diumumkan oleh kantor berita yang dikendalikan oleh pemerintah. Dilaporkan juga aktivis hak-hak azasi manusia dan pers sulit mengakses proses penghitungan suara.

Di bawah kekuasaan Erdogan, Turki menjadi penjara wartawan terbesar di dunia, demikian lapor sejumlah kelompok pemantau. Tudingan itu tentu saja dibantah oleh Erdogan yang mengatakan, justru Turki telah memberikan pelajaran kepada dunia tentang bagaimana pemilu yang demokratis harus dijalankan.

Terus apa persoalan utama yang dihadapi Turki belakangan ini? Isu terbesar menyangkut masalah ekonomi. Lira Turki semakin anjlok nilainya dengan tingkat inflasi mencapai 11%. Isu terorisme juga menjadi persoalan utama, karena terduga pelakunya bukan saja kelompok jihad yang ingin mendirikan negara Islam, melainkan juga suku Kurdi yang terus berjuang memisahkan diri dari Turki.

Arti Kemenangan

Preferensi – atas dasar pertimbangan – memilih di Turki terpecah dalam kelompok-kelompok identitas antara separatis Kurdi dan nasionalis, dan satu lagi antara warga yang memilih partai dengan jargon agama dan sekuler. Dan Erdogan yang partainya bernafaskan Islam, meskipun tidak militant, akan menjadi rongrongan tersendiri bagi Suriah, Iran dan Rusia yang sudah menancapkan kukunya di Timur Tengah.

Bagaimana Erdogan mampu mengayuhkan biduk kekuasaannya di tengah geopolitik dan geostrategi di Timur Tengah yang kembali bergejolak setelah dipicu oleh faktor Trump yang terang-terangan mendukung pemerintahan garis keras Israel Benjamin Netanyahu? Bagaimana nasib Palestina – karena meskipun Turki memiliki hubungan diplomatic dengan Israel namun Erdogan dikenal sebagai sosok yang gigih membela Palestina, Lebanon dan Yordania.

Tentu saja itu sangat bergantung bagaimana Erdogan yang tidak disukai Rusia sekaligus AS itu mampu menempatkan posisinya di antara proxy yang ada. Di tengah kesulitan ekonomi negaranya, separatis Kurdi dan lainnya, Erdogan sebagai pemimpin Islam berpengaruh menjadi tumpuan harapan bangsa Palestina di tengah amuk Israel yang didukung penuh oleh AS dan sekutu-sekutu jazirahnya – termasuk Arab Saudi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here