Arti Kemenangan Pemotongan Pajak bagi Republik dan Trump

0
112
Presiden AS Donald Trump tampak berseri-seri setelah Senat AS memenangkan pemungutan suara terkait RUU Reformasi Pajak yang berisi pemotongan pajak bagi orang-orang kaya Amerika, di Capitol Hill's, Rabu (20/12) kemarin FOTO ABC7 San Francisco

Nusantara.news, Jakarta – Dengan memenangkan suara terkait RUU Reformasi Pajak untuk pertama-kalinya di parlemen, Presiden Donald Trump telah membuktikan kemampuannya berkomunikasi dengan partainya sendiri. Selanjutnya apa arti kemenangan itu bagi Partai Republik pada pemilihan sela 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada 2020 nanti?

Ketika Presiden Donald Trump memenangkan Pilpres AS, Partai Republik atau acap kali disebut GOP (singkatan dari grand old party) memang sedang berjaya. Di Kongres mereka menguasai Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, 34 di antara 50 jabatan Gubernur Negara Bagian, dan mengontrol 32 di antara 50 senat negara bagian.

Tantangan Partai Republik

Kini setelah memenangkan RUU Reformasi Pajak yang antara lain berisikan pemotongan pajak senilai 1,5 triliun dolar AS, dan pemotongan kewajiban membayar pajak perusahaan kaya Amerika dari 35 % menjadi hanya 21 persen, pada Sidang Kongres Rabu (20/12) kemarin, elektabilitas Partai Republik akan diuji pada 11 bulan ke depan, termasuk elektabilitas Trump sendiri untuk memenangkan periode keduanya pada Pilpres 2020 nanti.

Pertanyaan dari digolkannya RUU Pajak yang memotong pendapatan negara dari sektor pajak hingga 1,5 triliun dolar AS itu, sebagai katalis terbaik ekonomi, apakah akan lebih banyak bantuan yang seharusnya didistribusikan ke pekerjaan dan kelas menengah, ataukah akan berimplikasi kepada pencabutan program Obamacare untuk orang-orang yang tidak mampu membeli polis asuransi?

“Inilah tantangan mendasar bagi Presiden Trump, mampukah ini dikomunikasikan sebagai kabar baik untuk melawan pembentukan persepsi negatif oleh Partai Demokrat, dan ini sangat menentukan kembali terpilih tidaknya Presiden Trump pada Pilpres 2020 nanti,” beber Michael Capute, satu di antara penasehat Trump pada Kampanye Pilpres 2016 lalu.

Bagi pendukungnya, Undang-Undang pemotongan pajak itu dianggap sebagai “bahan bakar roket” untuk membangkitkan ekonomi. Trump dengan gaya khasnya, mengejek, pada Rabu (20/12) kemarin saat partainya solid mendukung keinginannya. Sebab inilah hari pertama Trump merasakan dukungan oleh partainya.

“Sayangnya, Demokrat tidak suka melihat pemotongan pajak. Mereka lebih suka dengan kenaikan pajak,” ejek Trump.

Kemenangan Trump memang sulit dibayangkan. Beberapa bulan sebelumnya Trump sering mengejek Ketua Senat Mitch McConnell R-Ky setelah gagal mencabut Obamacare. Namun Rabu kemarin Trump memuji setinggi langit McConnel di Twitter karena melakukan pekerjaan fantastik baik secara strategis maupun politis. “Saya tidak mungkin menemukan partner yang lebih baik dan berbakat,” pujinya.

Para pendukung Trump sendiri menyambut gembira kemenangan itu, sebab pemotongan pajak tidak pernah menjadi hal yang buruk. “Terlepas dari popularitas pemotongan pajak, ini adalah kemenangan besar baginya dalam  kerja-samanya dengan Kongres yang sering gagal dia lakukan untuk memenangkan hal-hal besar,” ucap seorang anggota Tim Kampanyenya pada Pilpres 2016 lalu.

Kerjasama Trump dan GOP di Kongres diharapkan berlanjut untuk program infrastruktur terkait peningkatan pengamanan perbatasan sebagaimana yang dia janjikan, serta memperluas perlindungan bagi orang-orang yang dibawa ke AS secara illegal saat mereka masih anak-anak.

Kini Trump dan Kongres, ungkap Juru Bicara DPR Paul Ryan, R-Wis, juga sedang bernegosiasi tentang Medicare dan Medicaid yang diharapkan tetap dibiayai hingga September mendatang, dan juga tentang rencana memperluas Program Jaminan Kesehatan Anak dan sejumlah isu lain yang tidak tertangani tahun ini.

Kepala Staff Gedung Putih Steve Bannon menyebut bahwa pemotongan pajak sudah sesuai dengan Rencana Keamanan Nasional untuk membangkitkan perindustrian Amerika bisa lebih kompetitif secara global.

Senjata Partai Demokrat

Para pendukung Trump memang menyambut gembira adanya pemotongan pajak ini. Namun untuk pemenangan Trump untuk Pilpres 2020 sangat bergantung dengan kemampuan Partai Republik mempertahankan elektabilitasnya pada Pemilu Legislatif 2018. Jika mereka kehilangan kursi di DPR dan Senat, bukan tidak mungkin justru akan menjadi pertarungan pemakzulan (impeachment) terhadap Trump sebelum Pilpres 2020.

Sekarang para kandidat Partai Republik memiliki pencapaian nyata untuk menjadi bahan kampanye, bahwa UU Pemotongan Pajak sangat penting dilakukan sebagai bagian dari narasi pertumbuhan ekonomi di bawah kontrol penuh para Republikan di Washington.

Namun ada alasan bagi sekutu Trump untuk gelisah. Sebab dengan diundangkannya pemotongan pajak akan memberikan amunisi bagi Demokrat untuk melakukan framing politik kebijakan itu sebagai hadiah Natal partai Republik kepada orang-orang terkaya Amerika. Terlebih jajak pendapat NBC/Wall Street Journal menyebut hanya 24 persen responden yang menilai pemotongan pajak sebagai ide bagus, sedangkan 41 persen menyebut ide yang buruk.

Ketua Kelompok Liberal Demokrasi untuk Amerika Jim Dean meramalkan, selain telah membantu Trump mempertahankan kontrol Kongres oleh Partai Republik, pemotongan pajak justru memberikan senjata yang dibutuhkan oleh Partai Demokrat untuk mengambil alih Parlemen Amerika atau lebih dikenal dengan sebutan Capitol Hill’s.

“Meskipun benar mereka telah memberikan hadiah Natal kepada jutawan, milyarder dan para pemilik bisnis besar saat menyetujui Trump Tax Scam melalui Kongres hari ini, Donald Trump dan anggota Kongres dan Republik telah memberikan senjata sempurna bagi pesaingnya Demokrat untuk menduduki mayoritas DPR dan Senat di Parlemen AS pada 2018 nanti,” ujar Dean dalam sebuah pernyataan.

Kalangan Demokrat menilai, rejeki nomplok dari pemotongan pajak dari 35 persen menjadi 21 persen itu akan didistribusikan sebagai keuntungan para pemegang saham dan tidak akan pernah diinvestasikan kembali untuk membuat pekerjaan baru, dan itu sudah diungkap sejumlah perusahaan public papan atas sebagai rencana mereka.

Namun pernyataan itu dibantah oleh CEO dari Blumberg Partners Philip Blumberg. Meskipun dia sebagai pendukung tradisional Demokrat dan tidak memilih Trump pada Pilpres 2016 lalu, Blumberg Grain, satu di antara perusahaannya akan berinvestasi di fasilitas baru di Ames, Iowa, Dothan, Alabama, dan wilayah Miami, sebagian besar karena adanya pemotongan pajak. Dari investasi di bidang perkebunan itu Blumberg akan menghasilkan 250 pekerjaan.

Pemotongan pajak itu akan memberikan dukungan kuat bagi Blumberg untuk ekspansi ke pasar luar negeri. “Kekuasaan sudah berubah dari penampilan mengkilap dua presiden sebelumnya, Barrack Obama dan Bush,” katanya sekaligus memuji Trump dan pejabatnya yang memberikan dukungan kepada perusahaan Amerika berekspansi di pasar internasional.

Artinya, apabila pemotongan pajak dan upaya agresif Trump mengubah peraturan federal dilakukan semata-mata untuk memacu perekonomian, Partai Republik dan Trump mungkin masih memiliki peluang berkuasa. Proses itu akan dimulai pada pemilihan sela 2018 yang akan menentukan langkah Trump pada 2020 nanti.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here