Artis Masih Tokcer Pendulang Suara di Pilgub Jatim 2018

0
156
Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggandeng musisi Anang Hermansyah sekeluarga dalam pemenangan Pilkada serentak 2018. Kerjasama ini dilakukan tanpa kontrak profesional alias nol rupiah atau gratis.

Nusantara.news, Jawa Timur – Saat ini figur artis kurang menjanjikan untuk pencalonan dalam Pilkada Serentak 2018. Artis boleh mencalonkan kepala daerah, tapi masyarakat juga sudah pandai dalam hal politik. Mereka tahu artis yang memiliki integritas kuat, kompetensi, dan kemampuan teruji.

Pada Pilkada tahun 2008 dan 2013, kehadiran figur artis memang menjadi modal kemenangan pasangan calon. Di Pilgub Jabar 2008 ada Dede Yusuf. Pada 2013 ada Deddy Mizwar. Kemudian ada Rano Karno yang menjadi wakil Bupati Tangerang. Di Palu, ada Sigit Purnomo atau dikenal Pasha ‘Ungu’.

Apakah ini bukti kegagalan partai politik? Bisa dikatakan ”iya”. Hakikat keberadaan parpol sistem perpolitikan nasional, selain sebagai salah satu pilar demokrasi, yakni mencetak kader-kader pemimpin bangsa. Kalau kemudian parpol mengais-ngais panggung artis untuk mencari calon gubernur, calon bupati, atau calon wali kota, itu sesungguhnya sebuah kecelakaan  politik.

Memang banyak artis yang pandai dan berkualitas. Kepemimpinannya juga berbobot. Tapi selama ini sudah tertanam kuat dalam pandangan masyarakat kita bahwa parpol di Indonesia umumnya menempatkan artis sebagai cagub/cawagub, cabup/cawabup, atau calon wali kota, hanya dengan satu tujuan, yakni  mendulang suara untuk menang Pilkada.

Begitu pula dalam menjaring calon legislatif. Mereka selalu mengutamakan artis karena pertimbangan elektabilitas, bukan kemampuan membuat UU, melakukan pengawasan,  menjalankan fungsi bujeting, dan tugas-tugas  DPR lainnya. Karena pertimbangan elektabilitas inilah, popularitas, tampang, kekayaan materi, menjadi dasar pemilihan cagub, cabup, dan cawali.  Jangan heran jika Pilkada sering kali tak lebih dari sebuah panggung pertunjukan. Ada panggung, ada penonton, dan ada yang ditonton.

Nah, dalam Pilkada serentak 2018 kali ini, tampaknya masyarakat mulai pandai memilih. Masyarakat mulai sadar, kehadiran artis belum tentu jadi jaminan kemenangan Paslon. Justru kekuatan figur kepala daerah-lah yang bakal menonjol dan dipilih masyarakat.

Kendati demikian, bukan berarti figur artis harus ditinggalkan. Pasalnya, pesona dan ketenaran sang artis sangat tokcer (mujarab) karena mampu menjadi daya tarik untuk mendongkrak suara. Wajar jika setiap gelaran pesta demokrasi, banyak partai, politisi maupun calon yang berlomba-lomba menggandeng artis.

Di Jawa Timur, perang Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menggandeng sejumlah artis tampaknya tidak terbendung.

Pantauan Nusantara.News, pasangan Khofifah-Emil telah melakukan pendekatan ke Anang Hermansyah. Istrinya Anang, Ashanty dan putrinya Aurel juga mendukung.

Anang Hermansyah bahkan akan membuatkan lagu pendek atau jingle untuk mengkampanyekan pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur ini. Anang sendiri memastikan lagu kampanye itu tanpa kontrak profesional alias nol rupiah atau gratis.

“Itu usaha yang bagus dan lagu jadi bagian (dari sosialisasi Khofifah-Emil Dardak). Kalau Bu Khofifah mau ikut nyanyi juga mungkin lebih menarik lagi,” kata Anang usai bertemu Khofifah di salah satu posko relawan Khofifah-Emil, di Surabaya, Jawa Timur, Minggu, (28/1/2018).

Dalam proyek ini, Anang kemungkinan menggandeng beberapa artis lain. Selain istri dan anaknya, Anang akan melibatkan musisi Pasha Ungu. Musisi asal Jember itu memastikan Pasha telah menyatakan kesiapannya untuk berkampanye mendukung kemenangan Khofifah-Emil di Pilkada Jatim 2018. “Pasha sudah bilang ke saya, dia siap berkampanye untuk Bu Khofifah dan Mas Emil,” katanya.

Anang sendiri menyatakan dukungannya untuk Khofifah-Emil karena Partai Amanat Nasional (PAN) yang saat ini membawanya menjadi anggota DPR RI merupakan salah satu partai politik pengusung pasangan cagub-cawagub itu. “Sebagai kader PAN, saya harus menyukseskannya,” imbuhnya.

Khofifah membenarkan bahwa empat artis ibu kota telah mengonfirmasi kesiapannya untuk memenangkan dirinya pada Pilkada Jatim 2018. Khofifah juga mengapresiasi tawaran Anang tersebut. Menurutnya, Anang dan keluarganya, Ashanty serta Aurel, memiliki magnet tersendiri sehingga bisa membantu perolehan suaranya di Pilgub Jatim kali ini. Mantan Menteri Sosial tersebut bahkan mengatakan akan ada beberapa artis ibu kota lainnya yang akan ikut bergabung. “Nama-nama untuk artis lainnya nanti dulu lah,” ucap Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama ini.

Dilibatkannya publik figur pada masa kampanye dimaksudkan agar penggemar mengikuti arahan dari idolanya di Jatim, khususnya untuk mendulang suara pada Pilkada yang akan berlangsung 27 Juni 2018.

Baca juga: Selain Artis, SBY dan AHY Turun di Laga Kampanye Khofifah-Emil

Selain nama-nama selebriti Ibu Kota, tim pemenangan Khofifah juga menyiapkan nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjabat sebagai Komando Satuan Tugas Pemilu Demokrat, termasuk di 18 kabupaten/kota yang menggelar Pilkada serentak.

Sementara lawannya, Gus Ipul menggandeng dua artis dangdut Via Vallen dan Nella Kharisma yang saat ini lagi booming. Keduanya bakal menyanyikan jingel kampanye cagub Jatim untuk pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Sukarno.

Dikatakan Via Vallen, dirinya ditawari Gus Ipul untuk jingle lagu “kabeh sedulur, kabeh makmur”. Menurutnya lirik tersebut cocok terus notnya.

“Dan saya kira kok suaranya cocok dengan saya dan liriknya juga menyentuh, jadi demi kemajuan bersama saya terima,” kata Via Vallen.

Selain itu, alasan Via Vallen menerima tawaran tersebut karena sosok Gus Ipul yang sangat berwibawa. “Karena orangnya berwibawa, grapyak (ramah) dan njawani banget,” kata Via Vallen sambil tersenyum.

Calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (tengah) berpose bersama pedangdut Via Vallen (kanan) dan Nella Kharisma (kiri). Dalam kerjasama ini kedua pedangdut akan menyanyikan lagu jingle kampanye berjudul ‘Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur’.

Namun demikian, kerjasama antara Via Vallen dan Gus Ipul tidak gratis seperti Anang dan Khofifah. Dalam kontrak disebutkan Via Vallen hanya menyanyikan lagu jingle. “Saya profesional saja,” katanya.

Sementara Gus Ipul angkat bicara soal kontraknya dengan Via Vallen. Menurutnya, kerjasama dengan dua artis tersebut dijalin bukan sekadar untuk kampanye. ”Keduanya adalah ikon Jawa Timur yang bisa menembus level lebih tinggi melalui industri kreatif. Ini kebetulan ada kerjasama dengan Mbak Via Vallen cukup singkat kebetulan ayahnya juga enak diajak ngobrol bareng,” kata Gus Ipul.

Gus Ipul sendiri tak mau membebani pelantun ‘Sayang’ itu dengan target elektoral. “Saya nggak bisa mengukur tapi saya rasa kolaborasi ini diharapkan bisa membawa kebaikan,” imbuhnya.

Sayangnya, dalam pembuatan lagu jingle, Via Vallen dan tim kreatif mendapat teguran dari Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Sidoarjo karena kegiatan syuting video klip kampanye Gus Ipul-Puti diambil di Pendopo Sidoarjo.

Komisioner Bawaslu Jatim, Aang Kunaifi menyebut pembuatan video klip Via Vallen untuk kampanye di kompleks Pendopo Delta Nugraha Kabupaten Sidoarjo menyalahi aturan. “Kegiatan politik tidak diperkenankan menggunakan fasilitas negara dan itu menyalahi aturan. Sudah ditindaklanjuti Panwaslu,” jelasnya saat dikonfirmasi.

Pihaknya juga sudah memantau terkait aktivitas tersebut dan menyarankan Panwaslu agar menanyakan ke Polresta Sidoarjo terkait izin pembuatan video di lokasi fasilitas negara. “Jadi diklarifikasi dulu, belum diperingatkan. Apakah benar, kalau kemudian ditemukan alat bukti yang cukup maka Panwaslu Sidoarjo akan menindak tegas,” katanya.

Namun Aang menegaskan, pembuatan video klip tersebut tak ada kaitannya dengan bakal paslon Saifullah-Puti karena sarananya Pemkab dan menjadi domain bupati, “Yang kebetulan juga menjadi ketua PKB Sidoarjo,” ucapnya.

Sebenarnya, tambah Aang, Bawaslu melalui jajaran Panwaslu di 38 kabupaten/kota sudah berkoordinasi dengan Pemkab maupun Pemkot setempat, terkait larangan penggunaan fasilitas negara sebagai sarana sosialisasi paslon.

Ditambahkan Aang, Gus Ipul masih menjabat Wagub Jatim dan petahana, tetap tidak boleh menggunakan program maupun fasilitas negara berkaitan dengan sosialisasi untuk dirinya, sebagai bakal calon gubernur yang masih menungu tanggal 12 Februari penetapannya di KPU Jatim.

Imbauan ini bahkan sudah dilakukan sejak awal. Mengingat belum memasuki kampanye, maka bakal calon tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang sifatnya melanggar aturan kampanye. Hal itu sudah dikoordinasikan dengan paslon, KPU maupun LO Paslon.

Artis Pengumpul Massa yang Terpisah-pisah dan Tidak Terdeteksi

Memang tidak bisa dibantah, kehadiran artis di tengah-tengah Pilkada serentak 2018 sebagai pengumpul massa paling efektif, kendati fungsi utama artis bukan pengumpul suara. Tapi karena figurnya yang populer di kalangan masyarakat, maka mereka layak dijadikan alat untuk mengumpulkan massa dalam jumlah besar dan tempo yang cepat.

Pakar Politik Universitas Trunojoyo Moechtar W Oetomo menuturkan, secara substansi kehadiran artis tetap memiliki andil besar dalam pengumpulan massa untuk mendulang suara. Setelah massa terkumpul, tugas kandidat dan jurkam yang sesungguhnya untuk masuk dalam pikiran massa dengan berbagai teknik komunikasi politik.

“Semua ini biar massa memberikan dukungan dan suaranya pada Paslon. Jadi fungsi pengumpul suara tetap ada pada kandidat paslon dan jurkamnya, bukan pada artisnya,” ujar Moechtar saat dihubungi, Minggu (28/1/2018).

Adanya artis, kata Moechtar, lebih efektif daripada massa yang terpisah-pisah dan tidak terdeteksi. Dalam pelaksanaannya memang lebih mudah dan strategis memengaruhi kumpulan massa yang besar dan sedang berkumpul. “Makanya di sini sebenarnya letak pentingnya menggunakan artis sebagai pengumpul massa,” ucapnya.

Direktur Surabaya Survei Center (SSC) ini melanjutkan, tipologi masyarakat Jatim yang mayoritas tinggal di pedesaan memang masih mudah dikumpulkan oleh artis. Mereka bisa memberikan hiburan serta menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat.

“Namun untuk sampai pada tahap mudah dipengaruhi atau diajak, saya rasa tidak. Tetap semua ajakan kandidat dan jurkam yang kompeten yang lebih berpengaruh pada masyarakat Jatim,” ujarnya.

Bahkan survei SSC membuktikan ajakan tokoh agama seperti kiai serta tokoh-tokoh lokal lebih berpengaruh pada publik daripada ajakan artis. Kondisi itu menunjukkan masyarakat sudah cerdas dalam memilih pemimpinnya.

Tanpa bermaksud mengesampingkan figur artis, masyarakat memang harus mulai paham mana artis yang tampil sebagai pendulang suara dan massa, dan mana artis yang layak dipilih sebagai pemimpin di Pilkada. Artis di ajang Pilkada sudah sepatutnya menjadi pendamping dan sebagai hiburan kreatif dalam pemenangan calon kepala daerah. Sebab, kemampuan, kapabilitas, dan integritas mereka ada di sana.

Negeri ini tidak sekedar butuh hiburan, melainkan butuh pemimpin daerah yang mampu membawa perubahan untuk meraih kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan. Masih adanya impor kebutuhan pokok seperti beras, garam, dan daging, menjadi permasalahan yang akan dipikul calon pemimpin ke depannya. Karenanya, masyarakat harus secerdas mungkin memilih pemimpin yang mampu menggulirkan program-program pro-rakyat, memahami hati nurani rakyat, dan tahu apa yang dibutuhkan rakyat.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here