AS – Cina Diharapkan Bekerja Sama Kendalikan Manuver ‘Berbahaya’ Korut

0
104
Menlu AS berjabat tangan dengan Menlu Cina Wang Yi dalam pertemuan di Beijing, Sabtu, 18/3/2017. Foto: Washington Post

Nusantara.news, Seoul/Beijing – Kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson ke Jepang, Korea Selatan, dan Berakhir di Beijing Cina sejak Jumat lalu menarik satu kesimpulan bahwa manuver Korea Utara sudah semakin berbahaya. Jika tidak dikendalikan, bukan tidak mungkin panasnya situasi Semenanjung Korea, berbuntut perang terbuka.

AS dan Cina sebagai dua negara dengan kekuatan militer terbesar dunia diharapkan mampu bekerja sama mengendalikan situasi ini.

Meskipun Cina, sebelum kunjungan Menlu AS ke Asia, sudah mengingatkan agar AS menahan diri terkait manuver Korut, namun dalam kunjungannya ke Seoul Jumat, (17/3) Menlu AS Tillerson dengan tegas menunjukkan kemarahannya terhadap Korut, bahkan sudah mengancam dengan membuka kemungkinan adanya penyelesaian militer terhadap negeri Kim Jong Un itu.

“Kesabaran strategis AS terhadap senjata nuklir Korea Utara berakhir,” kata Tillerson di Seoul, Jumat (17/3) sebagaimana dilansir AP.

“Kami sedang mengeksplorasi serangkaian langkah-langkah baru keamanan dan diplomatik. Semua opsi dipertimbangkan,” jelasnya.

Menurut Tillerson, setiap tindakan Korut yang mengancam Korsel akan mendapat respons yang semestinya.

“Jika mereka meningkatkan ancaman dengan program senjata mereka ke level yang kita yakin perlu tindakan, opsi itu bisa dipertimbangkan,” ujar sang Menlu saat ditanya soal kemungkinan aksi militer terhadap Korut.

Sebagaimana Presiden AS Donald Trump, Tillerson juga pada kesempatan kunjungannya di Seoul kembali meminta Cina untuk menerapkan sanksi-sanksi terhadap Korut terkait uji coba nuklir dan rudal yang terus dilakukannya.

Tillerson tiba di perbatasan antara dua Korea (Korsel dan Korut) atau yang disebut sebagai Zona Demiliterisasi (DMZ) dengan penjagaan ketat Jumat lalu. Menteri juga mengingatkan, bahwa selama 20 tahun upaya diplomatik AS dalam kaitannya dengan Korea Utara telah gagal dan tidak menghasilkan apa-apa.

Senada dengan anak buahnya, Presiden AS Donald Trump juga pada hari yang sama, tak lama setelah Tillerson mengeluarkan pernyataan pers, juga ikut mengeluarkan penyataan yang keras terhadap Korut melalui akun Twitter-nya.

“Korut berperilaku sangat buruk. Mereka telah mempermainkan AS selama bertahun-tahun. Cina tak banyak berbuat untuk membantu,” posting Trump.

Korut telah melakukan dua kali uji coba nuklir dan serangkaian uji coba rudal sejak awal tahun tahun 2016 lalu. Pekan lalu, negeri komunis yang tertutup bagi dunia luar itu, meluncurkan empat rudal balistik yang jatuh di Laut Jepang. Saat ini, Korut diduga tengah berusaha mengembangkan rudal-rudal balistik yang bisa menjangkau wilayah AS.

Sementara itu, dalam kunjungan Tillerson ke Beijing Cina pada Sabtu (18/3), AS dan Cina berjanji untuk bekerja sama mengatasi ancaman yang ditimbulkan program nuklir Korut.

Sebagaimana dikutip AFP, Tillerson memperingatkan Cina bahwa situasi yang ditimbulkan Korut telah mencapai ‘level yang berbahaya’.

“Saya pikir kita berbagi pandangan dan rasa bahwa ketegangan di semenanjung itu cukup tinggi sekarang, dan bahwa beberapa hal telah mencapai tingkat yang berbahaya,” kata Tillerson setelah pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi.

Apakah mungkin tercapai kerja sama AS-Cina untuk kendalikan Korut pada pertemuan antara Menlu AS dan Cina?

Masih menjadi tanda tanya besar, karena faktanya kedua negara masih saling kritik dan membela diri terhadap cara kedua negara menyikapi situasi di Korut, bahkan sesaat setelah pertemuan antar Menlu kedua negara itu baru saja usai.

Cina menolak serangan Twitter terbaru yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump yang  menuduh Beijing melakukan sedikit hal untuk membantu memaksa pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un meninggalkan ambisi nuklirnya.

Berbicara bersama Menlu  AS, Rex Tillerson , Menlu Chna, Wang Yi, mengklaim Cina selama ini telah ‘mencurahkan banyak energi dan usaha selama bertahun-tahun’ untuk menyelesaikan masalah Korut.

“Upaya yang luar biasa dan penting yang telah Cina lakukan untuk semua hal,” katanya dalam konferensi pers, “mendesak semua pihak, termasuk teman-teman kita dari Amerika Serikat,”  untuk mengatasi situasi dengan berkepala dingin.

Wang tidak menunjuk Trump langsung, tapi dari arah pembicaraannya, jelas yang dimaksud adalah Presiden AS itu.

AS dan Cina telah beberapa kali terlibat “perang urat syaraf” terkait Korut. AS menganggap Cina yang hingga saat ini sekutu utama Korut ‘mendiamkan’ manuver-manuver Korut terkait uji coba rudal balistik dan program senjata nuklir. Sementara, Cina menganggap AS terlalu reaktif menanggapi Korut, Cina memprotes latihan gabungan AS dengan Korsel di Semenanjug Korea beberapa waktu lalu yang dianggapnya justru memanasi suasana. Cina juga tak terima AS menyebar sistem anti rudal di beberapa lokasi di Seoul, dan menganggap itu ancaman bagi Cina.

Cina memprotes Korsel dengan memboikot sejumlah bisnis Korsel di Cina seperti Lotte Mart, AS tidak terima Cina memperlakukan sekutunya.

Cina bukannya tidak berbuat sesuatu dengan manuver Korut terkait uji coba rudal balistik dan program senjata nuklir. Februari lalu Cina menghentikan impor batu bara Korut sebagai “sanksi” terhadap negara itu.

Kunjungan Menlu AS Rex Tillerson ke Beijing kemarin, sejatinya untuk mematangkan rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping April nanti di Washington dan Florida. Tapi dalam pertemuan kedua Menlu AS dan Cina isu yang muncul adalah soal Korea Utara yang kembali menegangkan tali hubungan AS – Cina setelah beberapa saat mengendur.

Akankah ini adalah sinyal pertemuan Trump dan Jinping tidak bakal berjalan mulus? Atau setidaknya, tetap terlaksana namun dalam suasana yang canggung? Kita tunggu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here